Farel melempar ponselnya ke tengah meja kantin dengan malas. Arjun dan Farhan langsung mendekati ponsel itu lalu membaca pesan yang tertulis. Walaupun sekolah belum bubar, tapi mereka sudah nongkrong di kantin. Di temani dengan satu gelas es teh.
"Mau main-main nih Bakti Bangsa!" seru Farhan.
"Ladenin Rel. Udah lama juga tuh sekolah nggak nyerang kita," sambung Arjun.
"Ide bagus," balas Farel lalu beranjak dari kursi.
Kinan berjalan seorang diri menuju belakang sekolah. Sial, hari ini dirinya mendapat tugas piket dan harus membuang sampah di belakang sekolah. Mana yang lain udah pulang lagi. Akibat jam kosong di jam terakhir pembelajaran, teman-temannya langsung pulang walaupun bel belum berbunyi.
"Ih.. nyebelin banget," Kinan melempar sampah dengan kesal.
Setelah semua beres, dirinya berbalik untuk kembali ke kelas. Namun langkahnya tiba-tiba dihadang seseorang.
"Cewek Airlangga cantik juga," goda orang itu lalu dengan cepat mengunci tangan Kinan.
"Eh.. apa-apaan sih. Woy! Lepasin woy!" Kinan langsung diliputi rasa takut sambil terus meronta.
Tring...
Bel pulang sekolah berbunyi. Farel, Arjun, dan Farhan langsung bergegas meninggalkan kantin, Farel dengan gagah berjalan menuju gerbang sekolah. Sedangkan Arjun dan Farhan langsung berpencar untuk mencari bala bantuan.
"Kinan mana sih kok nggak balik-balik," Vina mondar-mandir di depan kelas menunggu Kinan yang sedang membuang sampah.
Tak mau diliputi rasa khawatir terus menerus, Vina terpaksa mencari Kinan di seluruh gedung sekolah sambil menenteng dua tas di pundaknya. Bahkan kelas-kelas sudah mulai sepi tapi Kinan belum juga ketemu. Hingga pencariannya berhenti di depan gerbang karena ada ramai-ramai di sana.
Farel maju di depan Bagas tanpa mengatakan apapun diikuti Arjun dan Farhan di sampingnya. Bagas memberikan senyum jahat yang membuat Farhan seketika naik darah. Arjun langsung menarik Farhan untuk mundur.
"Nggak ada kapok-kapok ya lo!" Farhan kembali maju walau Arjun sudah menahannya.
"Han! Turunin emosi lo!" Arjun menarik Farhan mundur.
"Tenang! Nggak akan bikin rusuh sama lo semua! Gue Cuma mau kasih lo pada hadiah," balas Bagas santai lalu menyuruh temannya untuk membawa sesuatu.
"Kinan?" Arjun dan Farhan membulatkan matanya melihat Kinan yang sudah ada di tangan Bagas.
Sedangkan Farel sudah meenahan emosi sejak Kinan ditarik di samping Bagas. Apalagi kondisinya yang tidak sadarkan diri. Namun Farel tidak boleh gegabah atau Kinan akan celaka.
Arjun melirik Farel berharap Farel tidak emosi dulu. Arjun tahu yang dirasakan Farel saat ini. Dan Arjun juga bingung kenapa Kinan bisa sampai di Bagas. Apa sebenarnya rencana Bagas kali ini?
"Kaget? Jelas dong! Hadiah gue istimewa kan? Jadi ini cewek yang disukai lo? Namanya Kinan! lebih tepatnya adik dari Brian kan?"
Farel langsung mengangkat kepalanya mendengar ucapan 'brian' dari Bagas. Bagaimana Bagas tahu? Begitu juga Arjun dan Farhan yang bertambah kaget.
"Brian? Brian siapa?" pertanyaan dari seseorang mampu membuat Farel, Arjun, dan Farhan bingung.
"Oh. Lo udah bangun ternyata! Denger ya yang gue omongin?"
"Brian siapa?" tanya Kinan lagi. Mendengar nama kakaknya disebut oleh Bagas alias pentolan musuh sekolahnya, membuat Kinan penasaran.
"Ya Brian Kak--"
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Benci dan Cinta (SUDAH TERBIT)
Teen Fiction#1 in thewattys2020 (Mei 2020) #1 in benci (agt 2020) [SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] Kinan sangat benci Farel. Setiap hari Farel selalu membuat ulah yang membuat Kinan teriak-teriak sekaligus kesal. Ini semua gara-gara Ki...
