Wujud mereka tidaklah begitu besar. Tidak sebesar yang mereka lihat pada gambaran yang tadi di berikan oleh Sakura. Hanya seukuran manusia biasa. Namun energi yang mereka pancarkan sudah begitu besar. Dua belas gadis pemegang kunci dan lima gadis lainnya itu tak menyangka bahwa mereka akan bertemu musuh secepat ini.
Sosok cahaya itu keluar satu persatu. Sayap-sayap perak mereka masih terlipat di belakang tubuhnya. Dan mereka berjalan mendekat. Cahaya mereka begitu menyilaukan sampai gadis-gadis itu menutupi matanya dengan tangan. Sampai saat ini yang pernah melihat mereka secara langsung di sini hanya Lee.
"Mereka datang." Wonyoung menggumam. Namun mereka yang ada di sekitarnya bisa mendengarnya.
"Sialan. Aku pikir kita bisa mengulur waktu lebih lama lagi." ucap Ryujin. "Mereka pasti sudah menunggu sampai si perwakilan di kalahkan. Lalu menyerang saat mereka sudah kehabisan tenaga."
Yeji menyahut. "Benar. Menggunakan segel rantai merah itu pasti butuh banyak tenaga."
"Saat ini posisi kita tidak diuntungkan. Bahkan jika kita semua bersatu."
Portal itu belum juga menutup. Kemudian dua sosok lain menyusul keluar dari dalamnya. Sosok yang sama yang terbuat dari cahaya dan bersayap perak.
Dua belas gadis itu menyadari bahwa posisi mereka tidak menguntungkan. Ryujin dan kawan-kawannya pun mendekat.
"Nampaknya pertarungan yang sesungguhnya harus berjalan lebih cepat daripada yang seharusnya." kata Ryujin pada mereka.
"Kita masih belum bisa menggunakan La Vie En Rose lagi." Ucap Wonyoung pada yang lainnya. "Kita tadi menggunakan tenaga lebih banyak karena Sakura dan Chaeyeon tidak ikut membantu."
"Lalu sekarang bagaimana ?" tanya Yena. Mewakili kekhawatiran yang lain.
"Buka portal. Kita harus bisa kabur dulu." jawab Sakura.
Yena mengangguk dan segera bergerak untuk membuka portal. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Portal yang harusnya terbuka kini tidak juga muncul. Yena mengerutkan dahinya. Tak tahu apa yang terjadi.
"Portalnya tidak mau membuka." kata Yena.
"Apa ?"
"Kalian tidak bisa lari." Suara itu muncul dan mengagetkan mereka. Suara yang sulit untuk di deskripsikan karena secara bersamaan suara itu terdengar seperti suara banyak orang yang bicara bersama untuk mengucapkan satu kalimat.
"Apa yang sudah kamu lakukan ?!" Wonyoung berseru diantara kemarahan dan kekhawatirannya.
"Kalian nampaknya sudah tahu semuanya." Kata ZOZI lagi. Mereka tidak tahu siapa yang bebicara karen mereka tidak melihat apapun yang terlihat seperti mulut. Ketiga ZOZI itu berdiri berdampingan dan menghadap ke arah mereka. Tanpa ekspresi sekalipun gadis-gadis itu sudah merasakan ancaman.
"Apa mereka menghalangi kita untuk membuka portal di sini ?" di belakang mereka, Minju berbisik kepada Eunbi.
"Sepertinya begitu." jawab Eunbi.
"Apa rencana kita sekarang ?" tanya Sakura , ditujukan kepada semua yang ada di situ.
"Kita tidak akan bisa menang kalau menghadapi mereka sekarang." jawab Ryujin. "Tapi jika kita bisa mengambil artefak-artefak di markas kami, kita mungkin punya harapan."
"Sayangnya kita tidak bisa kesana sekarang."
"Iya."
Tanpa mengucapkan apapun, ZOZI mulai bergerak. Salah satu diantara mereka sudah mulai merentangkan sayapnya dan melayang. Dari atas Dia menciptakan pedang-pedang cahaya yang berputar mengelilinginya. Jumlah pedang-pedang itu mungkin puluhan. Gadis-gadids itu tidak sempat menghitungnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
12 Anomali.
JugendliteraturIni FanFiction IZ*ONE yang bertema sci-fi dan ada sedikit action pastinya. Ada 12 orang gadis yang hidupnya tak sama seperti orang lainnya. Mereka hidup dan membaur, bahkan mereka sendiri tak tahu kalau mereka sebenarnya memang berbeda. Kedua belas...