Multimedia: Tampang uculnya Khumaira Azzahra
*-----*
Tiga jam pelajaran dilewati Zahra dengan fokus seperti biasanya, meskipun sebenarnya gadis cantik yang feminim itu sedikit terganggu dengan keberadaan Dika di sampingnya, ia tetap saja berusaha untuk menganggap si tomboy tidak ada di sana.
Tinggal sisa satu lagi pelajaran sebelum akhirnya Zahra bisa keluar dari kukungan gadis tomboy di sampingnya, gadis cantik itu membawa buku paketnya dan kemudian mulai merangkum beberapa hal penting dari sana.
"Bagaimana punggungmu?" Zahra menghentikan kegiatannya yang sedang fokus membaca untuk melirik Dika yang tiba-tiba memberikannya pertanyaan.
Merasa teringat akan sesuatu yang sebenarnya sudah hampir saja terlupakan, Zahra kemudian meringis karena luka di punggungnya tiba-tiba saja terasa sakit dan berdenyut "Kenapa aku bisa lupa dengan punggungku?" ujar gadis itu dengan tampang heran yang tertara.
Dika menggeleng tidak percaya, gadis itu pun menyentuh punggung milik Zahra dengan perlahan dan merasakan bahwa punggung gadis cantik itu terasa berdenyut kencang dan sedikit bengkak "Kamu nggak ke ruang kesehatan?" nada tidak suka yang dikeluarkan dari bibir milik Dika membuat Zahra melirik padanya dengan ekspresi heran "Kenapa pula kamu peduli?"
"Karena kamu merupakan tanggungjawabku"
Zahra sedikit terkekeh karena jawaban itu "Sejak kapan aku jadi tanggungjawabmu?"
"Sejak orangtuaku mengirimku ke pondok dan tinggal di satu atap serta ditambahi dengan satu ruangan yang sama denganmu" Zahra bisa merasakan sentuhan lembut di atas tangannya yang kemudian berubah menjadi satu buah tarikan disertai ucapan bernada sedikit memaksa "Kita ke ruang kesehatan sekarang" yang membuat si gadis cantik jadi melirik tidak suka pada yang menariknya.
"Aku harus menyelesaikan jam pelajaran, Mauria" bantah Zahra selagi menahan diri sekuat mungkin agar tidak tertarik oleh si tomboy yang tengah memasang ekspresi tidak suka.
Zahra bisa melihat bahwa Dika memutar bola matanya ke belakang "Punggungmu bengkak dan kamu tidak mengobatinya sejak semalam, Khumaira. Itu terdengar sangat buruk bukan?"
Argumen yang dilontarkan Dika membuat Zahra jadi mengangkat kembali pandangan dan menantang iris mata milik si gadis tomboy yang terlihat lebih gelap entah karena apa "Punggung siapa yang bengkak, Mauria?"
Dika mengaitkan kedua alis tebalnya dengan segera saat mendengar pertanyaan itu "Punggungmu. Lantas?"
"Aku yang merasakan sakitnya, jadi kenapa kamu yang repot?" dan Zahra harus menyerah saat ia melihat bahwa gadis tomboy di hadapannya mengeraskan rahang disertai tatapan emosi dan ditambahi dengan tarikan paksaan di lengannya yang membuat Zahra jadi terpaksa harus mengikuti langkah jenjang milik si tomboy yang lebar.
Berjalan cepat menuju ruang kesehatan karena Dika menariknya tanpa tahu etika, Zahra kemudian hanya bisa menyerah saat ia melihat dokter yang memang selalu ada di sana menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Punggung gadis keras kepala ini terbentur dengan ujung meja sejak semalam dan aku nggak bisa membawa dia kesini karena ruang kesehatan tutup jika malam hari. Sekarang, punggungnya bengkak dan kupikir kamu harus melihatnya" Zahra hanya bisa menyerahkan senyum tipis pada si dokter cantik yang mengerutkan kening saat mendengar penjelasan tanpa henti dari si tomboy itu.
Sang dokter yang mengerti dengan keadaan tidak enak yang ada di antara dua gadis cantik yang ada di hadapannya pun langsung saja membawa Zahra dan membaringkannya di atas kasur. "Apa terasa sakit?" ujar si dokter yang membuat Zahra sedikit meringis karena merasa bahwa punggungnya tertekan sedikit keras oleh kasur tipis yang ia tiduri.
"Ya, kadang-kadang terasa sangat sakit dan kadang-kadang juga nggak terasa sama sekali" jawab gadis cantik itu sedikit mengingat akan lukanya.
"Coba berbalik" ujar si dokter cantik yang membuat Zahra hanya mengikuti apa yang ia katakan.
*--BIG SIN 2019 by Riska Pramita Tobing--*
Zahra sedikit meruntuk saat merasakan tangan milik Dika mengurut luka di punggungnya dengan disertai salep yang tadi diberikan oleh si perawat "Jangan manja deh" ujar Dika yang membuat Zahra jadi berhenti meringis karenanya.
"Apa kamu pernah bengkak karena jatuh dan punggungmu mengenai ujung meja, Mauria? Karena kalau saja kamu pernah merasakannya, kamu akan menangis tersedu-sedan"
Zahra bisa mendengar kekehan kecil dari balik tubuhnya disertai ucapan dengan nada ringan "Aku bahkan pernah patah tulang dan nggak meringis sedikitpun" sombongnya kemudian.
"Apa kamu tahu kalau aku ikut pencak silat?" ujar Dika yang membuat Zahra jadi membalikkan tubuh dengan tiba-tiba dan membuat si tomboy jadi terjatuh karena tadi gadis itu terduduk di atas pantat milik si cantik.
"Sejak kapan kamu ikut pencak silat?" Dika menyunggingkan senyum kecil "Sejak lama sekali" dan jawaban itu membuat si cantik jadi mengerutkan kening karenanya "Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku?"
"Sejak kapan aku harus laporan sama kamu, Nona?" Zahra terkekeh sampai membuat bahunya naik turun dengan cepat sebelum akhirnya kembali berbalik membelakangi si tomboy agar gadis itu melanjutkan kegiatannya tadi.
Sambil menikmati setiap urutan lembut yang dilakukan oleh Dika, Zahra memejamkan matanya seraya tak lupa menggumamkan hafalan kitab sapinah yang akan dites beberapa hari ke depan "Kenapa aku nggak pernah ngelihat kamu latihan, Mauria?"
"Karena aku yang melatih mereka" Dika kembali terguling karena Zahra memutar tubuhnya secara tiba-tiba untuk yang keduakalinya.
"Jadi, kamu guru pencak silatnya?" tanya Zahra dengan ekspresi tidak percaya yang membuat Dika jadi menyunggingkan senyum karenanya "Ya"
"Woah..." Dika bisa melihat ekspresi takjub tercetak di wajah cantik yang berisi milik Zahra dan itu sempat membuat si tomboy jadi terkekeh karenanya.
Menghentikan tawa kecilnya, Dika kemudian mendorong punggung milik Zahra agar kembali berbalik "Masih sakit?" ujar gadis tomboy itu dengan nada khawatir sambil mengurut luka lebam di punggung putih milik Zahra dengan perlahan.
Zahra mengangguk sambil ditambahi dengan sedikit mendesis karena pijitan Dika mengenai titik yang tepat "Uh.." ujar Dika dengan nada menggoda sambil lalu melanjutkan godaannya "She's moaning and that's sound really hot" yang ternyata membuat Zahra jadi membalikkan tubuhnya kembali.
Belum sempat gadis tomboy itu protes pada kelakuan si cantik yang hampir saja membuat Dika terjungkal, gadis tomboy itu lebih dulu merasakan satu pukulan di atas pahanya "Jangan menggodaku, Mauria!"
"Mungkin kamu yang gampang tergoda olehku dan bukan aku yang menggodamu" dan karena godaan itu kembali dilontarkan oleh si gadis tomboy, Zahra jadi kembali menghajar paha milik Dika dengan bantal sampai membuat si tomboy jadi tertawa karenanya.
"Sialan! Pergi dari sini! Syuh! Syuh!" dan Dika hanya bisa tertawa lepas saat mendengar pengusiran bernada lucu disertai umpatan yang justru terdengar imut dari bibir tipis nan merah milik Zahra kepadanya.
"Coba mengumpat lagi, Nona" goda Dika yang membuat Zahra sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan dalam berbicara.
Ejekan itu membuat Zahra melempari si gadis tomboy dengan bantal namun hanya mengenai lemari pembatas ruangan karena si tomboy itu menghindar dengan lihai "Jangan menggangguku!!!"
*-----*
Riska Pramita Tobing.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIG SIN (COMPLETED)
Teen Fiction"Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh pada seorang hamba yang bahkan tidak bisa aku cintai?" BIG SIN by Riska Pramita Tobing
