Multimedia: Mauria Mahardika Sadewa
*-----*
Zahra terbangun dengan perasaan pusing yang hinggap di atas kepalanya. Dengan perasaan bingung karena Zahra ingat betul kalau gadis itu pergi ke atas tempat tidur dengan keadaan baik-baik saja, gadis itu pun memijit kepalanya berusaha menghilangkan rasa mengerikan yang singgah di sana "Apa kamu baik-baik saja?" meskipun gadis cantik berpipi tembam itu masih memejamkan matanya, ia sudah hafal siapa yang sekarang ada di samping tubuhnya dan tengah menyentuh keningnya.
"Kamu panas" lanjut suara yang masih terdengar sama namun kemudian tekanan di samping tempat tidurnya menghilang entah kemana.
Masih terpejam sambil tetap memijit keningnya yang terus-terusan berdenyut, Zahra kemudian merasakan sesuatu yang basah dan lembut di keningnya disertai dengan suara serak milik Dika yang memperingatinya dengan menggunakan nada tegas "Sudah aku kompres, jangan di pijit terus. Nanti kening kamu bisa merah"
Berusaha untuk mengikuti apa kata si tomboy yang memang benar adanya, gadis cantik itu mengaitkan tangannya di atas perut agar ia tidak memijit keningnya lagi.
Belum sempat menikmati perasaan dingin di atas kepalanya, Zahra kemudian teringat sesuatu "Kenapa kamu nggak sekolah?" ujar si cantik mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya namun kemudian tertahan dengan tangan milik Dika yang mendorongnya untuk tetap berada di atas tempat tidur.
Zahra bisa mendengar kekehan kecil dari samping sebelum akhirnya merasakan bahwa kompresannya menghilang "Kurasa kamu benar-benar sakit karena kamu melupakan bahwa hari ini adalah hari rapat para guru soal penerimaan siswa dan siswi baru sehigga sekolah kami diliburkan" dan bertepatan dengan kalimat terakhir yang di ucapkan si tomboy, Zahra kembali merasakan kompresan di keningnya.
"Kamu tahu kan kalau kamu nggak punya kewajiban untuk ngelakuin semua ini?" ujar Zahra setelah merasa lebih baik dan bisa membuka matanya. Gadis cantik itu bisa melihat senyum manis milik Dika dari bawah seperti ini, itu terlihat sangat mengganggu.
Dika beranjak dari hadapan si cantik sebelum akhirnya kembali dengan segelas air hangat dan juga dua butir aspirin yang memang selalu disediakan di setiap kamar mandi yang ada di kobong pesantren "Aku tahu. Tapi kamu temanku, aku nggak mungkin biarin kamu sakit kayak gitu, Khumaira" jelasnya sambil lalu memberikan apa yang ada di atas telapak tangannya pada si cantik.
Meskipun merasa janggal dengan perhatian yang diberikan si tomboy kepadanya, Zahra tetap saja menerima uluran obat dan air hangat dari tangan milik Dika sambil tidak lupa untuk mencoba menyingkirkan debaran hangat di dalam dadanya.
Ayolah Khumaira Azzahra! Dia peduli hanya karena kamu adalah temannya, dan bukan seperti kamu yang justru menyukainya sebagai seorang wanita, bisik gadis cantik itu di dalam kepalanya.
Tunggu dulu! Apa dia bilang barusan? Apa dia baru saja mengakui bahwa dia menyukai Mauria Mahardika Sadewa sebagai seorang wanita?! Apa yang salah dengan otaknya? Apa ini karena ia sakit? Atau memang karena ia sudah tidak waras dengan menyukai sesama wanita? Apa dia baik-baik saja?
"Khumaira Azzahra!" ujaran bernada tidak sabaran serta tepukan ringan di atas pahanya itu membuat Zahra tersentak kembali pada kenyataan dimana Dika tengah menatap dengan ekspresi heran tercetak jelas di wajah tegasnya.
Ekspresi yang kemudian berubah menjadi khawatir ditambah dengan usapan lembut di pipi tembam milik Zahra yang membuat gadis itu jadi semakin memperbanyak istighfar karena ia benar-benar merasakan debaran aneh disetiap sentuhan yang Dika berikan kepadanya "Kamu baik-baik saja kan?" mendengar nada peduli yang dilemparkan Dika padanya membuat hati milik Zahra jadi menghangat karenanya, hal yang tentunya membuat Zahra jadi kembali menyebut nama Tuhannya karena itu.
Apa yang salah dengan dirinya?
*--BIG SIN 2019 by Riska Pramita Tobing--*
Tanpa Zahra sadari, gadis itu sudah terlelap selama hampir tujuh jam dari semenjak pagi tadi. Zahra dapat merasakan bahwa pening yang sejak tadi hinggap di kepalanya jadi hilang entah kemana. Namun ternyata, bukan hanya perasaan pusing di kepalanya yang menghilang, tapi gadis tomboy yang sedari tadi pagi merawatnya juga ikut menghilang entah ke mana.
Dengan pelan, Zahra menyingkapkan dua selimut yang adalah milik Dika dan juga miliknya, gadis cantik itu kemudian berjalan secara lambat menuju kasur milik Dika hanya untuk menemukan beberapa buku pelajaran tergeletak mengenaskan di sana "Kemana dia ya?" gumam Zahra sambil lalu mendekat pada buku catatan milik si tomboy dan membereskannya.
Tanpa bisa menahan diri, Zahra mengintip beberapa tulisan yang dibubuhkan Dika di atas buku tulisnya.
Tulisan milik si tomboy ternyata sangat rapi dan tersusun, tidak ada coretan macam-macam di sana yang tentunya membuat Zahra jadi kembali menutup buku milik Dika tanpa ingin membaca prifasi milik si tomboy itu lagi.
"Oh? Kamu sudah bangun" sapaan yang lebih terdengar seperti pertanyaan itu datang dari arah pintu, membuat Zahra mau tidak mau jadi menoleh pada Dika yang tengah mengenakan seragam pencak silat dengan sabuk berwarna merah menghiasi pinggangnya ditambah lagi dengan ekspresi lusuh yang tertara di wajah cantiknya.
Tanpa bisa menahan diri, Zahra memberikan senyum dan mengangguk "Kamu habis latihan?" dan karena pertanyaan itu, Dika mengahadiahinya dengan ekspresi yang seolah berkata 'Sudah jelas kan?'
Melihat Dika membuka hijab tepat di sampingya membuat Zahra jadi memejamkan mata karena ternyata melihat gadis tomboy itu di dalam kubangan keringatnya sendiri justru membuat gadis cantik itu melongok tidak tentu padanya. "Astaghfirullah.." bisik Zahra yang membuat Dika melirik padanya saat gadis itu sudah membuka seragam pencak silatnya.
"Kamu ngistighfarin apa?"
"Eh?"
"Kamu ngistighfain apa?" ulang Dika dengan pertanyaan yang sama hanya saja dengan nada yang lebih menuntut untuk meminta jawaban.
"Ah enggak. Perutku agak sakit" bual Zahra yang justru membuat si tomboy jadi mendekat padanya. Hal yang justru membuat Zahra jadi mengumpat di dalam kepalanya hanya karena debaran di dalam dadanya semakin menggila yang disebabkan oleh dapat melihat wajah si tomboy yang menampakkan ekspresi khawatir padanya.
Tiba-tiba saja, gadis tomboy itu memegang perut milik Zahra dengan lembut "Kamu makan makanan pedas ya?" tebak si tomboy yang membuat gadis cantik itu mengerutkan alis karena pertanyaan itu memang benar adanya.
Zahra ingat betul kalau hari kemarin ia diberi bakso dengan teman satu ekstrakulikulernya saat SMP, bukan hanya itu, ia juga membeli beberapa jajanan dengan cita rasa pedas kemarin. Apa mungkin itu yang membuat ia sakit seperti sekarang?
"Khumaira?" Zahra tersentak kaget "Eungg.. Iya.." aku gadis cantik itu ragu.
"Lain kali makanannya di atur ya. Perut kamu ini lemah, kalau kebanyakan makan pedas lambung kamu nanti bisa perih dan bisa sakit lagi seperti ini" ujar si tomboy sambil lalu berlenggang begitu saja ke kamar mandi.
Apa itu tadi? Apa Dika baru saja melemparkan kontrolan kepadanya? Maksudnya apa? Peduli?
Ah! Tidak! Jangan memulai untuk berpikiran aneh lagi, Zahra. Dia itu temanmu! Pantas kan kalau dia peduli padamu?
Atau mungkin memang tidak pantas?
*-----*
Riska Pramita Tobing.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIG SIN (COMPLETED)
Jugendliteratur"Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh pada seorang hamba yang bahkan tidak bisa aku cintai?" BIG SIN by Riska Pramita Tobing
