BIG SIN - Seventeen

1.6K 72 4
                                        

Multimedia: Mauria Mahardika Sadewa

*-----*

          Zahra bisa melihat bahwa tidak ada sorot mata pengampunan dari Dika untuknya. Maka, karena ia tahu bahwa ia salah dengan segala bukti yang ada di hadapan keduanya, Zahra akhirnya hanya bisa mengambil tangan milik Dika dan menguburnya di pipi chubbynya "Maaf" bisik gadis cantik itu dengan disertai tatapan memohon yang bahkan terlihat seperti seekor anak anjing yang lucu.

Dika memalingkan wajah dari ekspresi lucu milik sahabatnya "Jangan ulangi lagi" ujarnya kemudian, memutuskan untuk memberikan ampunan pada si cantik karena memang ia tidak bisa menahan diri dari keimutan wajah milik Zahra yang bisa membuat hatinya luluh.

Zahra langsung saja memberikan senyum senang pada si tomboy dan kemudian mengacungkan kelingkingnya "Pinky promise?" dan Dika memberikan kekehan kecil pada si cantik yang tiba-tiba bertingkah seperti bocah berusia lima tahun.

Merasa tidak bisa menolak senyum berharap dari Zahra yang diberikan untuknya, Dika kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada si cantik "Awas kalau makan pedas lagi" ancam si tomboy kemudian, membuat gadis feminim di hadapannya jadi cepat-cepat melepaskan jari mereka yang sempat berkaitan.

"Habisnya aku pusing cari kamu kemana-mana sih, jadi aku makan pedas deh" ujar Zahra dengan nada kekanakan disetiap katanya.

Dika menggelengkan kepala tidak percaya dengan alasan aneh yang baru saja dilontarkan Zahra kepadanya "Apa hubungannya Bambang..?" ujar si tomboy seraya memberikan Zahra satu jitakan kecil di keningnya yang justru membuat Zahra terkekeh karenanya.

"Kamu habis dari mana aja sih memangnya? Kok lama banget?" ujar Zahra setelah gadis cantik itu menghilangkan tawa manisnya.

Dika menjauhkan satu piring batagor milik Zahra lantas berdiri hanya untuk memesan makanan untuk keduanya sebelum akhirnya kembali duduk di samping si cantik yang bersabar menunggu "Aku habis survey ke sekolah-sekolah lain. Nyatanya, hasilnya tetap saja nihil karena lapangan sekolah lain terhitung cukup kecil jika harus dibandingkan dengan sekolah kami" ujar si tomboy sebelum akhirnya menerima dua piring batagor yang baru dari seorang wanita senja yang memberikan senyum ramah pada keduanya.

Zahra mengerutkan kening beberapa saat "Terus? Masih belum dapat tempat dong?"

Dika mengangguk setelah memberikan satu potong batagor dari piringnya pada Zahra yang menerimanya dengan suka rela "Ya. Makanya aku kembali lagi ke sini untuk membicarakan hal ini pada Pak kepala sekolah. Siapa tahu kita bisa diberikan toleransi untuk melaksanakan ujian kenaikan tingkat di sekolah kami"

Dengan batagor masih di mulutnya, Zahra mengerutkan kening ikut pusing dengan permasalahan dari gadis tomboy di hadapannya sebelum akhirnya ia juga teringat akan sesuatu "Bagaimana soal hafalanmu, hmm?"

Dika terkekeh "Amaan" balas gadis tomboy itu disertai dengan acungan jempol yang bahkan tidak terlihat meyakinkan.

"Ingat kalau misalkan kamu berhasil lulus dengan baik di hafalan minggu depan aku akan kembali tidur di kobong yang sama dengan kamu?" ujar Zahra memberi tahu soal perjanjian mereka beberapa saat yang lalu dan gadis tomboy itu mengangguk dua kali sebagai jawaban pasti.

"Tentu saja aku ingat!" ujar si tomboy memastikan "Sudahlah, jangan khawatir. Aku kan sudah digurui oleh kamu, dan aku nggak akan mengecewakan guruku sendiri" lanjut Dika dengan senyum menungging andalannya di akhir kata sehingga membuat si cantik jadi ikut menyerahkan senyum karenanya.

*BIG SIN 2019 by Riska Pramita Tobing*

          Zahra tidak percaya bahwa ia sekarang akan melakukan ujian kenaikan tingkat. Gadis cantik itu bahkan mengecek kalendernya berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa sekarang memang hari yang tepat. Gadis cantik itu sudah mempersiapkan persyaratan UKT dari semenjak semalam dan sekarang gadis itu tengah gugup di hadapan kaca sambil membenarkan sabuk putih yang melilit di tubuhnya.

Menarik napas dalam, Zahra kemudian menggendong tas berisi perlengkapan UKT-nya dengan segera "You got this, Khumaira" bisiknya pada bayangan cermin yang menampakkan betapa gugupnya dirinya.

Meskipun merasa kalau ia tidak akan bisa melewati ujian kenaikan tingkat sebaik yang ia harapkan, Zahra tetap saja menggumamkan basmallah selagi berjalan menuju lapangan sekolah.

Zahra bisa melihat Dika berdiri di tengah lapangan dengan menggunakan baju Perisai Diri miliknya tanpa lupa disertai dengan sabuk merah yang meliliti tubuhnya sehingga membuat gadis tomboy itu terlihat gagah di balik pakaiannya.

Lagi, Zahra mengambil napas panjang dan dalam saat ia mendekat pada si gadis tomboy hanya untuk mendapati bahwa si tomboy sudah memiliki tingkatan baru di lambang yang menempel disebelah kirinya. Dika sudah mendapat strip berwarna hijau-biru di sana.

"Tenang, Khumaira. Kamu bisa melakukannya" bisik si cantik pada dirinya sendiri sambil lalu menaruh tasnya di kelas yang bertuliskan 'Anggota putri'.

Baru saja beres membenarkan sabuknya yang terasa melorot, gadis cantik itu harus dikagetkan dengan suara berdebum dari belakang tubuhnya hanya untuk mendapati bahwa Dika berdiri tegap di sana sedang menatap fokus pada Zahra dan menghiraukan anggota lain yang ada "Ayo cepat keluar semuanya! Jangan lelet!" dan bentakkan dari Dika segera saja dilakoni olehnya.

Semua anggota yang ikut serta dalam acara ujian kenaikan tingkat sudah berkumpul di lapangan. Terdapat sekitar dua ratus orang yang berbaris bersama dengan Zahra dan gadis itu harus berada di deretan paling depan karena tubuhnya yang memang tidak setinggi gadis seumurannya. Sial! Kenapa harus aku? Umpat gadis cantik itu di dalam kepalanya.

Zahra bisa melihat ada Rafael dan Dika yang sedang menunggu para juri yang lain dan Zahra mati kutu saat ia didekati oleh Dika dengan langkah lebarnya "Sabuknya tolong benarkan" bisik si tomboy padanya sehingga membuat Zahra cepat-cepat melakukan apa yang diperintahkan si tomboy padanya.

"Biasakan balik badan kalau sedang membenarkan pakaian! Nggak pernah belajar sopan santun ya?!" dan karena ujaran itu, Zahra berbalik dengan cepat.

Beberapa menit menunggu, akhirnya para juri datang dengan disertai tampang bengis mereka. Tanpa tahu harus berbuat apa, Zahra hanya bisa mengikuti apapun yang diujarkan Rafael di hadapan sana. Lelaki itu kemudian memanggil Kak Ilman yang merupakan ketua cabang dari Perisai Diri untuk memimpin hening dan memulai kegiatan ujian kenaikan tingkat yang ke 53 ini.

Setelah selesai melaksanakan upacara pembukaan, para anggota yang akan melaksanakan UKT melakukan pemanasan terlebih dahulu dan Zahra mengikuti semuanya dengan baik-baik saja. Setidaknya sampai gadis itu dipanggil oleh Dika untuk maju ke hadapan semua orang.

Astagfirullah! Why me, Mauria Mahardika Sadewa? Umpat gadis cantik itu di dalam hati sambil tetap saja melangkah pasrah kehadapan gadis tomboy itu.

"Bacakan janji perisai diri dengan keras" ujar Dika disertai dengan satu tepukan lembut di atas bahunya.

Zahra mengambil napas panjang dan menutup matanya barang beberapa detik sebelum akhirnya membuka bibir untuk mengikrarkan janji "Janji perisai diri, kami keluarga silat nasional Indonesia perisai diri berjanji. Satu, bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa. Dua, setia dan taat kepada negara kesatuan republik Indonesia. Tiga, mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Empat, patuh pada perguruan dan melaksanakan dengan penuh rasa tanggungjawab, azas dan tujuannya. Lima, memupuk rasa kasih sayang dan kekeluargaan diantara sesama anggota"

"Terimakasih, silahkan kembali ke barisan" dan Zahra mengambil napas lega setelahnya.

Huft!

*-----*

Riska Pramita Tobing.

BIG SIN (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang