Multimedia: Khumaira Azzahra and Mauria Mahardika Sadewa.
*-----*
Zahra enggan menatap pada gadis tomboy di hadapannya. Ia tahu kalau dirinya sedang berada di dalam bahaya besar karena ia sedari tadi menganggurkan tatapan si tomboy dan sekarang gadis itu menerima ganjarannya karena Dika tengah menatap dirinya dengan tatapan mematikan "Kalian terlihat akrab sekali" adalah ucapan pertama yang keluar diantara mereka berdua dan Zahra sudah merasa tercekik karena nada bicara yang diucapkan si tomboy terdengar sangat tidak bersahabat meskipun itu untuk dirinya.
"Kita satu ekstrakulikuler saat SMP" jawab Zahra seadanya tanpa ingin mengangkat pandangan.
"Siapa namanya?"
"Rifal"
"Kamu rindu dengan teman ekstrakulikulermu yang dulu?"
"Sedikit" Zahra masih enggan menatap si tomboy karena nada yang dikeluarkan olehnya masih terhitung belum bersahabat meskipun sudah mulai berubah.
"Kamu nggak makan bakso ini kan?" dan karena nada yang diberikan Dika padanya sudah bisa ditoleransi, Zahra akhirnya menatap wajah tegas Dika yang terlihat merengut tidak suka terhadapnya "Iya, aku nggak berani makan pedas" jawab si cantik sambil lalu menyodorkan satu sendok dan garpu yang baru untuk digunakan si tomboy.
Dika menerimanya dengan cepat sebelum akhirnya menusuk satu bakso berukuran sedang dan meniupnya. Zahra bisa melihat bahwa gadis tomboy itu hampir saja menggigitnya sebelum akhirnya mendorong bakso tersebut ke hadapan bibir Zahra yang sedari tadi terbuka karena perasaan mendamba "Buka mulutnya" ujar si tomboy yang tentunya membuat Zahra jadi tidak mengerti dengan apapun yang akan dilakukannya.
Sambil mengerutkan kening, Zahra membuka sedikit dari kedua bibirnya "Satu gigitan" ujar si tomboy dan hal itu berhasil membuat Zahra tersenyum sumbringah karenanya. Dengan semangat, Zahra mengambil satu gigitan besar pada bakso sehingga menyisakan setengah dari baksonya lantas kemudian mengunyahnya selambat mungkin untuk menikmati setiap rasa pedas yang sekarang menempel di lidahnya.
"Mmmmhhh" gadis cantik itu terpejam kenikmatan saat ia merasakan gemuruh di kerongkongannya dapat dibalaskan meskipun hanya dengan satu gigitan "Mahahih" ujar si cantik masih dengan mulut yang penuh dengan bakso.
"Sopan santunmu hilang karena satu gigitan bakso pedas, Khumaira" dan ujaran sarkastik dari Dika dihadiahi satu cubitan di lengannya sehingga membuat si tomboy terkekeh karenanya.
"Enak bangetttt" lanjut Khumaira setelah menelan bakso yang ada di mulutnya "Kamu nggak marah aku makan pedas?" ujar gadis itu kemudian setelah sadar dengan apa yang dilakukan si tomboy padanya.
"Kasian. Kamu ngeces" dan karena itu, Dika dihadiahi berjuta cubitan di berbagai tubuhnya.
*BIG SIN 2020 by Riska Pramita Tobing*
"Aduuuuuh" entah kesekian kalinya Zahra memegang perut karena ada rasa melilit yang sangat sakit dari sana. Sambil merintih, gadis cantik itu beranjak menuju kamar mandi untuk mendapati Dika sedang sibuk menggosok giginya karena malam sudah mulai larut.
Terdapat ekspresi keheranan dari raut wajah si tomboy saat Zahra datang sambil memegangi perut ditambah lagi dengan meringis seolah tidak sabar menunggunya untuk keluar "Kenapa?" ujar si tomboy setelah membasuh mulutnya dan membersihkan busa dari sana.
"Sakit peruttt.. udah buruan keluar" dan dengan itu, Dika pergi meninggalkan si cantik yang masih saja terdengar meruntuk dari kejauhan.
Dika terduduk sambil lalu merapikan buku pelajaran untuk esok hari. Sambil mengingat materi apa yang sekiranya akan dibahas untuk esok, si tomboy menggumamkan beberapa lafalan Al-Quran yang hampir saja hilang dari ingatannya karena tidak pernah di asah. Dengan sedikit khawatir, Dika melangkah kembali untuk mendekati kamar mandi hanya untuk mendengar ringinsan dari dalam "Khumaira?!!" teriak si tomboy dari luar ruangan.
Tidak terdengar jawaban dari dalam kamar mandi, dan Dika jadi semakin khawatir karena yang bisa ia dengar sedari tadi hanyalah ringisan kesakitan milik Zahra "Ibu.." bisik gadis cantik itu lemah sebelum akhirnya suara keran menutupi apapun yang bisa didengar si tomboy dari balik tembok.
Sambil mengira-ngira soal kejadian di dalam kamar mandi, Dika segera beranjak ke dekat lemari hanya untuk menyadari bahwa ia belum selesai membereskan buku. Setelah membereskan buku yang masih berantakan di atas kasur, Dika melirik pada Zahra yang tiba-tiba saja menjatuhkan pelukan di punggung Dika dan mencantolkan dagunya di bahu gadis tomboy itu dengan sengaja "Perih banget" ujar si cantik mengadu.
"Perutnya sakit lagi ya?" tanya si tomboy sambil mengusap lengan berisi yang meliliti perut ratanya dan Zahra mengangguk sebagai jawaban "Gara-gara makan bakso pedas sepertinya" tebak Dika kemudian yang nyatanya dihadiahi anggukan lagi dari si cantik yang masih betah bersender di bahu si tomboy yang memberikan ketenangan untuknya.
"Yasudah kubikinkan air rebusan gula merah ya?" ujar Dika sambil hendak berliri sebelum Zahra menarik tubuh milik gadis tomboy itu untuk tetap pada posisinya "Nggak mau" rengek Zahra kemudian lantas menggesek-gesek hidung mancungnya di punggung lebar milik Dika.
"Bagaimana kalau susu?" pertanyaan Dika barusan dihadiahi anggukan dari Zahra, tapi gadis cantik itu masih enggan untuk melepaskan belitan lengannya di perut si tomboy sehingga membuat Dika mau tidak mau jadi membawa gadis itu untuk tetap berada di dalam pelukannya meskipun si tomboy kini tengah repot menyeduh susu untuk Zahra.
"Makin manja aja kamu" ujar Dika sambil mengusap kepala milik Zahra yang bertengger di dekat pipi tirusnya.
"Nggak papa. Lagian manjanya sama kamu doang" balas si cantik sambil menjatuhkan satu ciuman di rahang si tomboy yang tentunya membuat Dika jadi terpejam karena debaran di dalam dadanya tiba-tiba jadi secepat cahaya.
"Jangan di rahang, Khumara" cegah Dika saat ia berbalik untuk mendapati bahwa Khumaira hampir saja menjatuhkan ciuman lain di rahang tegasnya.
"Lupa" ujar si cantik dengan kekehan di ujung katanya.
Dika segera saja bergerak menjauh dari kukungan Zahra yang akhirnya terbuka untuk mengambil dua gelas dan langsung saja menumpahkan air panas di sana. Sambil mengira-ngira dengan apa maksud dari ciuman Zahra barusan kepadanya, Dika menuangkan satu set susu pada setiap gelas yang ada di depannya.
Gadis tomboy itu kemudian mengoceknya dengan sendok sebelum akhirnya menyerahkan salah satu dari kedua gelas yang ada pada Zahra yang tidak berhenti menatap matanya "Kenapa, Khumaira? Kamu ingin membunuhku karena aku membuat kamu sakit perut?"
"Bukan!" sergah Zahra dengan cepat "Justru aku mau bilang terimakasih"
"Terimakasih?" ulang Dika tidak percaya.
"Iya" jawab Zahra dengan dua kali anggukan yang terlihat sangat yakin.
"Terimaksih untuk apa?" satu dari kedua alis milik si tomboy terangkat saat ia menanyakan itu pada Zahra yang tampak gugup secara tiba-tiba.
Zahra terkekeh kecil sebelum menjawab dengan senyuman merekah diantara kedua pipinya yang chubby "Terimakasih utuk baksonya"
"Loh? Terimakasih?" ulang Dika dengan nada tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zahra kepadanya.
"Iya. Aku jadi bisa buang hajat setelah tiga hari enggak setor ke belakang" dan karena jawaban itu, Dika melempengkan ekspresinya.
Jadi kekhawatirannya tidak berguna??
*-----*
Riska Pramita Tobing.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIG SIN (COMPLETED)
Novela Juvenil"Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh pada seorang hamba yang bahkan tidak bisa aku cintai?" BIG SIN by Riska Pramita Tobing
