Multimedia: Khumaira & Mauria.
*-----*
Zahra sudah menguap sekitar sepuluh kali di siang hari yang panas ini. Gadis cantik itu bosan dengan baju yang menggunung di hadapannya dan Dika tidak membantunya karena memiliki acara melatih di sekolah lain. Gadis cantik itu sudah enggan menggosokkan perut setrikaan yang panas pada pakaiannya, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain ini?
Sambil menguap untuk yang ke sekian kalinya, Zahra tetap saja menggumamkan hafalan kitabnya agar bisa mengurangi rasa kantuk. Meskipun nyatanya pakaian milik Zahra sudah habis, masih ada pakaian milik Dika yang harus ia setrika. Terkadang gadis tomboy itu tidak memiliki waktu untuk merapikan pakaiannya karena disibukkan dengan berbagai acara dari ekstrakulikulernya, jadilah Zahra berinisiatif untuk meberikan bantuan padanya.
Sebenarnya Dika sudah berkali-kali melarang Zahra untuk melakukan hal seperti ini. Tapi Dika selalu membantunya dikala gadis cantik itu butuh bantuan, dan Dika tidak pernah mendapatkan imbalan apapun selain ujaran terimakasih darinya. Maka, dengan pemikiran seperti itu Zahra bertekad untuk membantu Dika dengan kegiatan yang sulit untuk dikerjakan oleh si gadis tomboy belakangan ini.
Dengan kesibukan Dika yang menggunung seperti ini, Zahra seringkali kebingunan untuk menjaga komunikasi yang ada diantara keduanya. Sudah sekitar dua minggu terakhir ini Dika jarang sekali berkomunikasi dengan Zahra seperti sepasang kekasih pada umumnya dan Zahra merindukan itu semua.
Zahra seharusnya sadar bahwa Dika tidak pernah menyatakan bahwa dirinya bersedia menjadi milik si cantik, tapi kontak fisik diantara mereka berdua sudah melebihi batas sebagai sesama teman dan Zahra sudah berani meng-klaim si tomboy sebagai miliknya sendiri meskipun nyatanya tidak. Pemikiran itu sedikit menyinggung sisi hati Zahra dan gadis itu gemetar takut dengan pemikirannya sendiri.
"Assalamualaikum?" suara yang sudah sangat Zahra hafal itu datang menyelusup menuju telinganya sampai akhirnya menggetarkan dadanya seperti sebagaimana biasanya. Saat Zahra melirik, ia bisa mendapati bahwa gadis tomboy itu sedang merapikan peralatan senjata perisai diri yang sepertinya bekas digunakan olehnya.
"Waalaikumsalam" bisik Zahra dengan suara parau.
Suara derap langkah yang lembut itu terdengar semakin dekat di telinga Zahra, dan saat gadis cantik itu melirik, ia bisa mendapati Dika dengan dihiasi senyumnya yang menghangatkan seluruh tubuh Zahra dengan segera "Kan sudah kubilang, kamu nggak usah ngelakuin ini semua" ujar gadis tomboy itu yang kemudian disusul dengan satu usapan lembut di pipi Zahra yang makin berisi.
Zahra sedikit menjengit saat ia merasakan satu cubitan di pipinya. Gadis cantik itu kemudian melirik tidak suka pada Dika yang memang sengaja memberikan cubitan untuknya "Apa sih cubit-cubit? Kayak nggak ada kerjaan aja" ujar si cantik masih mencoba fokus pada pakaian silat cadangan milik Dika yang tengah di lipat olehnya.
"Emang nggak ada kerjaan" balas Dika sambil lalu memberikan satu cubitan lagi pada Zahra yang langsung menepisnya secepat kilat "Mandi sana! Udah sore, bentar lagi ngaji" Dika langsung menjatuhkan kepalanya pada pangkuan si cantik lantas pura-pura mendengkur di sana.
Tingkah aneh dari Dika nyatanya mampu membuat Zahra tertawa "Cepat mandi, Mauria" alih-alih menjewer telinga milik Dika yang tampak jelas di hadapannya seperti yang sering ia lakukan dahulu kala, si cantik justru mengusap rambut basah milik Dika dan membuat si tomboy jadi semakin kebetahan karenanya.
"Boleh nggak sehari aja aku libur ngaji? Aku capek sekali" ujar si tomboy seraya membalik badan untuk melihat Zahra dengan lebih jelas.
"Boleh nggak sehari aja aku libur latihan silat? Aku capek sekali" balas si cantik yang tentu saja membuat Dika jadi terkekeh karenanya.
"Aku mandi, Khumaira. Tapi sama kamu" dan Zahra sepertinya kehilangan napas karena ujaran Dika padanya.
*BIG SIN 2020 by Riska Pramita Tobing*
Zahra sulit tidur dan Dika sudah mengeluarkan dengkuran halus di sampingnya. Gadis tomboy itu bahkan tidak sanggup untuk mengganti pakaian sehingga memutuskan untuk tidur dalam balutan kemeja serta celana kulot yang dipakainya untuk mengaji. Kentara sekali bahwa si tomboy sedang membutuhkan banyak istirahat sehingga membuat Zahra enggan untuk mengatakan apapun yang mengganggu isi kepalanya sejak siang hari tadi.
Meskipun Zahra tahu otaknya akan terus-terusan menanyakan hal yang sempat muncul di dalam kepalanya barang beberapa jam lalu, gadis cantik itu tetap saja mencoba mengalihkannya dengan mengusap tangan milik Dika yang sedari tadi ia peluk agar mendapat kehangatan darinya.
Nyatanya, hati dan otak Zahra tetap tidak ingin diam dan justru semakin menguatkan bahwa diantara Zahra dan Dika tidak terdapat hubungan seperti sebagaimana yang selalu saja dipikirkan oleh kepalanya. Ugh! Kenapa hubungan semacam ini harus ada sih? Pikir si cantik kemudian.
"Tidur Khumaira. Sudah malam"
Zahra melirik pada nada teguran yang terdengar dari Dika, apa gadis tomboy itu baru saja menyuruhnya untuk tertidur dikala dia tidak membuka mata sama sekali?
"Kamu memperhatikan pipiku sejak tadi. Ada apa?" Zahra tersentak karena Dika tiba-tiba saja melirik padanya. Meskipun ekspresi milik si tomboy terlihat mengantuk tak kuasa, Zahra tetap saja merasakan bahwa tatapan Dika mampu membuat jantungnya berdebaran tak tentu alasan.
Dika mendekat sampai tubuh keduanya merapat "Mikirin apa?" ujar Dika sambil lalu memberikan satu usapan kecil pada anak rambut milik Zahra yang tidak terikat "Kamu terlihat risau sekali" lanjutnya.
Bagaimana mungkin dia bisa melihat ekspresiku saat ia tertidur?!!! Pikir Zahra masih tidak mengerti.
"Khumaira.." satu usapan lembut di pipinya menyadarkan si cantik sehingga langsung saja membuatnya jadi menjauh sedikit dari jarak keduanya yang terlalu rapat bahkan sampai tidak menyisakan sedikitpun tempat untuk oksigen berlalu-lalang di dekat keduanya.
Zahra mengulum bibirnya sesaat "Eungg..." gumamnya sambil mengatur degup jantung yang menggila "Menurut kamu, diantara kita ini ada hubungan apa sih?"
Kening milik Dika langsung mengerut sepersekian detik setelah pertanyaan itu dimuntahkan oleh bibir Zahra yang terlihat ranum dan mengkilap karena sinar lampu tidur yang ada di dekatnya "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Lagi, Zahra mengulum bibir bawahnya terlebih dahulu seolah bersiap untuk mengeluarkan apapun yang membuat risau isi kepala dan hatinya "Karena kita tidak berteman seperti sebagaimana orang lain, dan kita juga tidak menjalin hubungan asmara seperti sebagaimana orang lain, Mauria. Makanya aku mempertanyakan ini semua"
Dika bisa melihat bahwa ekspresi milik Zahra ketakutan untuk mendengar apapun yang akan di ujarkan oleh mulut brengseknya, tapi Dika juga tahu bahwa Zahra penasaran untuk mendengar jawabannya "Kita memang tidak berteman dan juga tidak menjalin hubungan asmara" balas Dika sambil mendekatkan tubuh mereka meskipun si tomboy itu bisa melihat bahwa Zahra enggan untuk mendengarkan kelanjutan dari ucapannya "Tapi kamu tahu kalau aku tertarik padamu, begitu juga kamu terhadapku. Biarpun Tuhan melarang kebersamaan kita, kita tetap saja bersatu. Aku tidak bisa menghalalkan hubungan apapun yang ada diantara kita, tapi aku juga tidak ingin mengharamkan apapun yang kita miliki, Khumaria. Aku mencintaimu dan aku tahu kalau kamu pun juga begitu"
*-----*
Riska Pramita Tobing.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIG SIN (COMPLETED)
Teen Fiction"Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh pada seorang hamba yang bahkan tidak bisa aku cintai?" BIG SIN by Riska Pramita Tobing
