Kamu beranjak menangis mengingatnya.
Diam-diam kembali merindu.
Mulai sedih kehilangan.
Dan berpikir untuk masih mau menerima dia kembali.
Kembali sangat berharap padanya.
Menunggu kabar darinya lagi.
Sibuk mempertahankan kembali.
Akhirnya berat melepaskan.
Aroma tubuh dari jiwa yang rapuh.
Melebihi rindu, melampaui waktu.
Terbunuh ragu, tersesal nafsu.
Sudaaah, rapikan saja kembali rambutmu.
Benahi lagi alismu yang sudah tidak lagi simetris.
Berhenti memicingkan mata melihatnya sebagai muara luka.
Pakailah kembali parfummu yg teracak dimeja kamarmu, saat kau sibuk merapikan kenangan.
Karena memang sudahlah.
Semua sudah berakhir sekarang.
Dulu kau selalu menjauh pergi dan dia menunggumu tanpa henti.
Tapi kini sudah berbalik.
Bersamanya kembali, akan hanya sebatas imitasi ruang mimpi.
Hanya akan jadi tatapan dengan harapan, tanpa bisa lagi kau dekap.
Bukankah memang begitu cara kerja dunia berputar?
Dia kini sudah tertawa melihat kamu menangis.
Dia sudah terang-terangan menjauhimu.
Akhirnya,
Dia bahagia lepas darimu.
Dia sudah tidak akan sudi datang lagi.
Dia telah berharap ke orang lain.
Dia berusaha kuat melepaskan.
Dia sangat ringan meninggalkan.
Dia sudah sibuk mengabari orang lain.
Sudahlah. Tidak ada yang perlu ditangisi.
Dan berhenti menyalahkan diri.
Tugas mu sekarang bebenah.
Lalu mulai merelakan.
Bukankah ada beberapa yang memang datang hanya untuk sepenggal pelajaran.
Dia belajar dari mu tentang bagaimana bersabar.
Dan kamu belajar darinya tentang bagaimana seharusnya menghargai seseorang.
Dia belajar darimu, tentang bagaimana saat sedang jatuh cinta dia tak meminta syarat agar kau membalas perasaannya.
Tidak bisakah kau mempelajari hal yang sama?
Jika bisa.
Lantas mengapa kau tidak bisa sepertinya?
Mengapa engkau bersedih
Jika dia tiba-tiba menjatuhkan hatinya pada orang lain?
Kamu memang pernah bodoh.
Tapi aku tidak akan menghakimi.
Aku yakin pasti ada alasan yang baik untuk semua hal yang terjadi.~
.
.
.
Catatan dari penulis:
" Bersyukurlah dengan apa yang kita punya kini, karena belum tentu suatu hari nanti kita bisa sebahagia ini"
~Denialfnsyh.
KAMU SEDANG MEMBACA
DiaryOnline.
Fiksi RemajaIni adalah sebuah baca'an sederhana. Untuk orang-orang yang terlalu menganggap berat membaca filsafat, dan terlalu menganggap enteng sebuah cerpen. Ini bukan novel, bukan juga cerpen, apalagi antologi puisi. Bukan. Ini hanya tulisan. Tentang kawan d...
