°sebentar lagi°

148 26 0
                                    

Angin berhembus kencang di atas rooftop, menerpa wajah dua orang yang sedang berdiri di pinggir rooftop. Hening. Tak ada siapapun yang mau memulai percakapan. Mereka berdua terus menatap lapangan sekolah yang sangat luas.

Alex yang tak tahan dengan keheningan ia pun segera memulai percakapan. "Ra, maksud lu di kantin tadi apa?"

"Mereka tahu bokap gue pemilik sekolah dan bokap lu dokter bedah syaraf ternama serta penyumbang dana terbesar di sekolah ini"jelas Andira tanpa melihat ke wajah Alex.

Alex kaget setelah mendengar penjelasan dari Andira. "lu tau dari mana?"

Andira tak langsung menjawab. Ia menengok ke arah Alex yang berdiri di sebelahnya. "Gue sebelumnya pernah bolos jadi..."

"Wah ternyata anak pemilik sekolah sering bolos juga gak nyangka gue"sela Alex sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Mau dengerin ga?! Kalau engga gue balik ke kelas" Andira kesal karena ucapannya di potong oleh Alex. Dan ia   pun sangat kesal Alex menyebutnya dengan embel-embel 'anak pemilik sekolah'.

"Yaudah gue minta maaf. Gue cuman bercanda doang"

"Bercanda lu gak lucu Alexandro Dinata" andira melempar pandangnya ke arah lapangan sekolah. Sedangkan Alex tertawa kecil melihat kelakuan Andira seperti anak kecil.

"Lanjutin yang tadi"titah Alex

Andira kembali melihat wajah Alex. "Gue bakal lanjutin, tapi lu janji jangan potong penjelasan gue kaya tadi"

"Promise" ucap Alex sambil mengacungkan jari kelingkingnya lalu Andira mengaitkan kelingkingnya ke kelingking milik Alex.

"Oke, waktu gue bolos ke kantin sekitar dua minggu lalu. Gue gak sengaja nguping pembicaraan Bu Allen sama petugas kantin dan dia bilang kalau anak yang berhubungan dengan sekolah pergi ke kantin pada saat jam pelajaran di mulai jangan ada yang menegurnya bahkan memarahinya." jelas Andira

Alex mencerna penjelasan dari Andira. "Apa mungkin murid yang berhubungan sama sekolah adalah murid yang di istimewakan"

"Kenapa lu bisa mikirnya kaya gitu?"kali ini Andira yang bertanya.

"Sepulang sekolah lu pergi ke rooftop asrama. Nanti gue kasih tau alesannya kenapa gue bisa mikirnya kesana"

•••

Azka yang berjalan di koridor dekat ruang guru lagi lagi bertemu dengan Natasya keluar dari ruang guru dengan wajah sedih. Ia pun segera menghampiri Natasya.

"Hai Natasya, mau ke kantin bareng gue gak?"ajak Azka sambil tersenyum.

Natasya menggeleng. "maaf ka, lain kali aja ya. Gue harus pergi ke perpus buat belajar"

"Mending isi perut lu dulu biar nanti pas belajar lu bisa konsentrasi" Azka mencoba membujuk Natasya agar dia mau di ajak ke kantin bersamanya.

Natasya tetap menggeleng sambil tersenyum. "gue udah makan kok, gue duluan ya gue harus belajar sekarang"

"Tapi sya, kan lebih enak makan dulu baru belajar"

"Maaf ka, gue gak bisa ke kantin hari ini"

Azka akhirnya pasrah, Natasya tidak bisa di bujuk sama sekali. "Yaudah kalau gitu semangat belajarnya"

Natasya membalas dengan senyuman lalu pergi meninggalkan Azka yang masih terdiam melihatnya pergi menjauh. Setelah memastikan Natasya menghilang dari penglihatannya. Azka pergi menuju kantin.

Hari ini kantin tak seramai hari kemarin. Jadi Azka bisa cepat mendapat makan siangnya. Setelah mendapatkannya, Azka melihat ke sekeliling kantin mencari temannya Alex. Dan ia menemukan Alex yang sedang duduk bersama Andira.

Bruk... Azka menaruh nampan nya di atas meja dengan kasar. Sontak Alex dan Andira yang menikmati makan siang terlonjak kaget.

"Kenapa sih lu ka? Dateng dateng udah marah marah aja"tanya Andira menyadari bahwa Azka yang menaruh nampan dengan kasar.

"Siapa yang marah?" Bukannya menjawab Azka malah bertanya balik dengan ketus.

"Ya lu lah siapa lagi" celetuk Alex.

Azka menghela nafas. "Gue gak marah cuman kesal doang"

"Masalah Natasya lagi ya?"tebak Andira

Azka tidak menjawab ia hanya menatap wajah Andira dengan tatapan yang mengartikan bahwa tebakan andira benar.

"Udah gue duga" Andira mengalihkan pandangannya ke arah makan siang yang berada di  hadapannya. "Gue khawatir sama dia" sambung Andira pelan namun masih dapat di dengar oleh Alex dan Azka.

"Eh Ra, gue mau nanya sama lu"ucap Alex sambil membenarkan posisi duduknya.

"Nanya mulu lu kaya wartawan" Andira mendelikan matanya lalu melahap makan siang.

"Kalau gue gak nanya nanti gue bego. gak tau apa apa kaya si Azka"

Sontak Azka mendongak melihat ke arah Alex. "Enak aja lu manggil gue bego. Lu tuh yang bego bukan gue"

Andira menepuk jidatnya melihat dua  temannya mulai bertengkar. "Udah deh jangan berantem kasian murid yang lain mau menikmati makan siang keganggu termasuk gue"

"Kalau bukan Andira yang bilang kaya gitu udah gue jadiin biji sawo lu"ucap Alex dengan nada sedikit kesal.

"Yang ada lu duluan yang gue jadiin sesajen" timpal Azka tak kalah kesal dengan Alex.

Andira menghela nafas lalu menggebrak meja. "Berisik!"

Seketika Azka dan Alex diam tak melanjutkan pertengkarannya setelah melihat Andira menggebrak meja dengan wajah terlihat marah.

•••

Jam menunjukan pukul 8 malam. Alex, Andira, dan juga Azka sudah berada di rooftop asrama sambil memandang laptop hitam milik Alex. Mereka tak langsung pulang ke asrama kecuali Alex yang harus mengambil laptopnya terlebih dahulu.

Alex menjukan data murid kelas 10 yang di ambil sekitar 4 hari lalu. Andira membaca setiap isi data siswa-siswi yang tertera di sana. begitu pula dengan Azka meskipun ia sudah membaca sebagian besar datanya.

"Bentar, kok ada yang aneh?"tanya Andira. Bingung. setelah beres membaca data siswa-siswi kelas 10-1.

"Coba lu baca data murid kelas 10-2 sama 10-3" titah Alex yang mendapat anggukan dari Andira.

"Gue makin yakin kelas 10-1 adalah siswa khusus maksudnya yang berhubungan sama sekolah" Azka mencoba angkat bicara setelah membaca ulang data murid 10-1.

"Tapi kan si keyln bukan anak dari komite atau yang berhubungan sama sekolah" ucap Andira yang masih berkutat dengan Laptop Alex.

Alex mengotak ngatik ponselnya yang ia pegang sedari tadi tanpa ikut berkomentar. Tak lama ia pun tersenyum senang setelah mendapatkan sesuatu dari ponselnya.

"Nih coba lu liat, di video cctv ini si keyln lagi ngobrol sama Bu Allen di ruang kepala sekolah" Alex memberikan ponselnya ke pada Andira.

Andira melihat vidio CCTV tersebut langsung melihat ke arah Alex. Karena ia merasa Alex melakukan hal yang tak biasa di lakukan oleh murid kelas 10. "lu dapet dari mana data semua murid sama video CCTV ini?" Tanya Andira dengan tatapan sinis.

Alex tersenyum. "Santai gue gak maling kok. Gue udah dapet ijin sama pak Hamdan"

"pak Hamdan? Bentar jadi selama ini lu kerja sama dengan pak Hamdan?"tanya Andira dengan ekspresi kaget.

"Ya bisa di bilang gitu lebih tepatnya gue sama Alex kerja sama dengan beliau. Toh pak Hamdan juga ngerasa ada yang aneh sama ni sekolah"jelas Alex singkat

"Terus video ini sama data ini dapet dari mana?"

"Gue yang minta video CCTV itu ke pak Hamdan. kalau data murid... lu bisa tanya Alex" ucap Azka sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana sekolahnya.

Andira melihat ke arah Alex meminta penjelasan. "Oke, gue ambil ini dari website sekolah. Gue berhasil dapet user kepala sekolah dan gue gunain buat ambil semua data kelas 10 tapi tenang aja gak akan ada yang curiga soalnya gue pake user kepala sekolah" Alex mengalihkan pandangannya.

Bersambung...

Archipelago AcademyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang