Dua Puluh Tujuh

1.8K 121 57
                                        

Pucat wajahnya tak bisa membohongi bibir yang terus berkata baik-baik saja. Sejak sejam yang lalu, Dave sudah kembali siuman. Oma opanya tentu begitu lega. Walaupun masker oksigen belum terlepas menutupi hidung dan mulut, Dave sudah lumayan rusuh, terlebih di depan Rima.

Bukan apa-apa, entah sudah berapa lama ia tak dimanja oleh kakek neneknya, terakhir SMP, sepertinya. Selain karena Rima dan Adi yang sudah sepenuhnya melepas anaknya berumah tangga sehingga mereka bisa hidup masing-masing, masa pertumbuhan Dave selama ini membuat anak itu tampak gengsi dan sudah lebih sulit diatur, meski nyatanya, Dave begitu menghormati dan menyayangi keduanya.

Bubur yang semula mengepul menimbulkan aroma ayam yang menguar membuat perut keroncongan, Dave sama sekali tak mau menyuap barang sesendok pun, membuatnya bernasib malang di perut Adi yang dituntut menghabiskan oleh sang istri dengan alibi agar tak mubah.

Hanya mengingat kejadian beberapa saat lalu saja, Dave sudah senyum-senyum sendiri, sekarang kedua orang paruh baya itu sedang saling berdiskusi, apa yang kira-kira bisa membangkitkan nafsu makan cucu kesayangan.

"Apa dong, Pa? Ini kasihan Dave pasti udah laper dari tadi pagi belum ada makanan yang masuk. Masa enggak ada ide?"

Sebagai laki-laki, meski sudah bertahun-tahun hidup bersama, Adi masih tak habis pikir dengan pola pikir sang istri. Rima selalu mau dimengerti, padahal sulit untuk mencapai hal demikian. Layaknya saat ini, ia harus menerka apa yang sekiranya ingin Dave makan. Alih-alih menebak-nebak tak jelas, bukanlah sebaiknya tanyakan langsung kepada anaknya?

"Kenapa enggak tanya ke Dave aja, sih, Ma? Kan gampang gitu, loh."

Rima berdecak kesal. Jika sudah mulai merajuk, maka tak akan mau menoleh apalagi menatap lawan bicara yang membuat jengkel. Kali ini Rima mengalihkan pandangan ke cucu tampannya yang hanya menyaksikan keributan kecil pasangan suami istri di usia senja. Bukannya terganggu, Dave justru terhibur.

Ingatan pada hal menyebalkan yang selalu ingin Dave kubur dalam-dalam di bawah alam sadarnya, mendadak menghampiri. Senyum yang semula tertoreh di bibir pucatnya memudar. Situasi hatinya tanpa aba-aba memburuk dengan sendirinya.

Jelas Rima menyadari, sejak tadi ia memperhatikan gerak-gerik cucunya yang ia kira mulai bisa berdamai dengan kehancuran rumah tangga, nyatanya tidak sama sekali. "Dave kenapa? Ada yang sakit? Mau oma panggilkan ners atau dokter ke sini?"

Pertanyaan yang tercecar pada cucunya membuat Adi yang duduk di sofa lekas bangkit dan menghampiri dua orang tersayangnya. "Kenapa? Ada apa?" tanya Adi berdiri di samping Rima, tangannya tanpa sadar menyentuh pundak sang istri membuat Rima menepis pelan, masih marah.

Dave menutup matanya kurang dari sepuluh detik, lalu kembali menatap oma opanya yang tampak khawatir dengan kondisinya sambil tersenyum tulus. "Dave enggak pa-pa, kok. Cuma tadi ..., keinget mama sama papa. Padahal oma sama opa bisa langgeng begini, kan, tapi kenapa mama sama papa enggak bisa?"

Langkah tegas Adi mendekati cucunya membuat Rima mempercayakan jawaban Adi akan menenangkan hati Dave. "Setiap keluarga itu punya ujiannya masing-masing, Dave. Dan itu di luar kendali. Ada yang keluarganya enggak punya, keluarganya saling sayang. Ada yang masalah ekonomi enggak usah dipikirin lagi, tapi di dalam hubungannya berantakan. Dan masih banyak lagi."

"Kamu pasti kaget, kan, sama situasi yang mendadak rumit gini? Tapi kamu harus percaya, ya, papa sama mama kamu masih sayang sama kamu, enggak ada yang berubah kasih sayang mereka." Penuh kelembutan, Adi mengusap lengan atas Dave. Anak itu hanya menunduk, enggan menatap kakeknya yang pasti akan berakhir meneteskan air mata.

"Lagian, kamu sudah besar, sudah dewasa, kan, sebentar lagi? Opa bakal bebasin kamu lakuin hal apa pun asalkan enggak merugikan. Opa dukung kamu sepenuhnya tentang jati diri yang mau kamu bawa. Pesan kakek, jangan menghindar dari masalah. Kalau dikasih ujian ya jalanin aja, sabar, yang legowo."

Come To Leave (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang