"Lo mau pulang bareng gue apa gimana?"
Di tengah keramaian siswa-siswi yang memenuhi koridor sekolah sebab bel pulang baru saja bergema satu menit yang lalu, masih sempat-sempatnya Melvan memiringkan ponselnya dan masuk ke dalam dunia pertarungan di layar. Dave sungguh tak habis pikir, matanya melirik jengah ke arah sahabatnya.
Tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Melvan kembali berdecak. "Budek ya lo, Dave?" tanyanya melirik kesal. Tak disangka, tatap mata Dave jauh lebih kesal daripada dirinya. "Apa?"
Lagi-lagi, Melvan bertanya acuh tak acuh. Tujuannya bertanya hanya ingin memastikan, sahabatnya akan ikut pulang dengannya atau tidak. "Kalau enggak ya gue pulang sendiri."
"Kok gitu?"
"Katanya lo ogah sama gue," ucap Melvan makin lama makin kesal. Dave mengernyit bingung. Bagaimana bisa orang yang seharusnya meminta maaf akan sikap buruknya, justru mengomeli dirinya?
"Gue enggak ada ngomong begitu, ya."
"Yang lo bilang ke mamah gue tadi pagi apaan, hah? Lo ogah bareng gue, kan? Lo milih berangkat sama bokap gue naik mobil. Gue yang anak kandungnya, malah disuruh naik motor butut."
Dave mengembangkan senyum kecil di bibirnya. Tak disangka Melvan masih dendam dengannya perkara ialah yang diantar menggunakan mobil, sedangkan Melvan ditinggal begitu saja. "Siapa suruh tidur kaya babi."
"Eh jaga mulut lo, ya! Mending kaya babi daripada kayak orang mat—ah elah! Mati, kan, jadinya!" Melvan misuh-misuh sendiri gara-gara kata game over muncul mendadak di layar ponsel.
Matanya begitu tajam melirik Dave, sedangkan si muka pucat di sampingnya malah tertawa puas. "MAMPUS!"
Baru saja hendak menoyor kepala sahabatnya keras-keras sebagai bentuk perlawanan, seseorang dari ujung koridor menyita perhatian. Ia langsung menengok sahabatnya yang kini tersenyum sumringah.
"Ngapain lo senyum-senyum gitu? Jangan bilang lo mau—"
"Gue izin pulang telat, ya. Bilangin ke mama Tari, gue mau pacaran dulu. Bye!" Dave langsung melenggang cepat meninggalkan Melvan dan menemui perempuan yang berhasil mencuri hati. Melvan hanya menatap bingung ke arah dua sejoli itu.
Beneran tuh anak suka sama Naya? Apa buat iseng doang?
☁️
Jalanan kota yang tak begitu ramai, menjadikan dua sejoli yang tengah berjalan beriringan sembari menenteng satu kantong kresek berukuran sedang, menikmati setiap langkah mereka. Senyum di bibir pucatnya tak kunjung sirna, membuat pipi wanita di sebelahnya memerah lucu.
Dengan sedikit keberanian, perempuan itu berkata jujur, "Mas Dave jangan liatin saya kayak gitu, dong. Saya jadi takut."
Kalimat terakhir yang diucapkan Naya membuat Dave lekas tersadar. Apa yang dilakukannya terlalu berlebihan? Dalam hitungan dua detik saja, rautnya langsung berubah dingin. "Mau lo, gue natap lo kayak gini?" tanya Dave dengan nada datar khasnya.
Hanya bertahan lima detik saja, ia melepas raut dinginnya lagi. "Enggak bisa, Naya. Gue bukan tipikal anak sok cool kayak gitu." Akhirnya Naya pasrah, terserah apa yang mau dilakukan pemuda di sampingnya.
Untung saja tidak ada Melvan di antara mereka. Jika iya, habis sudah Dave diroasting habis-habisan oleh sahabatnya sendiri. "By the way, mau duduk di mana, Nay?"
Berjalan mengelilingi taman di siang bolong—meski cuacanya tak panas menyengat, tetap saja lama-lama kaki Dave lelah juga. Dalam benaknya, ia tak mau kakinya yang sudah berhari-hari sedikit bengkak itu semakin parah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Come To Leave (Revisi)
Novela Juvenil#sicklit #fiksiremaja Rahasia kedua orang tuanya yang terkuak sungguh memuakkan. Keluarganya semakin hancur bersama tubuh yang turut melebur bersama kata lemah dan lelah. Tak tahu dan tak mengerti apa yang sebenarnya Tuhan inginkan darinya. Dave han...
