Dua Puluh Sembilan

1.8K 127 76
                                        

"Dave!"

Teriakan itu terlampau nyaring hingga Dave sendiri terlonjak kaget. Tubuhnya seketika menegang saat melihat Rendra keluar dengan tergesa-gesa dari kamar. Terlebih ketika Rendra mendapati istrinya sudah tergeletak tidak sadarkan diri di anak tangga terbawah, dengan tubuh bersimbah darah.

Rendra menatap tajam ke arah Dave yang hanya diam berdiri di anak tangga paling atas. "Apa yang kamu lakukan, keparat?!" Dave menggeleng, ia sungguh tak tahu apa-apa. Napasnya mendadak sesak membuat tangannya terangkat memegang dada.

"Kamu mau bunuh ibumu? Iya?! Awas saja kalau terjadi apa-apa sama istri saya, kamu harus bertanggung jawab penuh!" Tubuh Dave lemas seketika setelah mendengar penuturan Rendra yang benar-benar serius. 

Dengan segera, Rendra mengangkat tubuh istrinya yang sudah benar-benar tak sadarkan diri dan membawanya keluar. Dave tak mampu berbuat apapun. Tubuhnya sungguh terpaku, masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Setetes air matanya jatuh tanpa diminta. 

Masalah apa lagi ini, Tuhan?

☁️

Di depan ruang IGD, Rendra menunggu kabar istrinya yang tengah ditangani oleh dokter. Khawatir sungguh memenuhi isi kepala, apalagi wanitanya itu sedang mengandung anaknya. Hingga tak lama kemudian, pintu IGD terbuka dan menampilkan seorang dokter berjas putih bersih dengan masker masih menutup hidung dan mulutnya.

Rendra lekas mendekat dengan raut penuh cemas. "Gimana kondisi istri saya, Dok?" 

"Maaf, istri anda mengalami luka serius di kepalanya dan untuk saat ini belum siuman." Hati Rendra langsung berdebar mendengar ucapan dokter di hadapannya.

"Tolong selamatkan istri saya, Dok," pinta Rendra dengan sangat memohon.

"Istri bapak harus menjalani operasi pengangkatan rahim karena akan membahayakan nyawa istri anda jika tak segera dilakukan." Ucapan dokter yang baru saja selesai menangani istrinya itu berhasil menghancurkan Rendra. 

"Bagaimana dengan kandungannya?" 

"Kandungan? Ah, saya harus segera mengatur jadwal operasinya. Silakan dipersiapkan segala berkas dan selesaikan administrasinya. Permisi." Dokter Leo langsung beranjak pergi meninggalkan Rendra yang masih bingung dengan kondisi kandungan Mepan.

Selepas kepergian dokter Leo yang pergi mengatur jadwal operasi untuk istrinya, Rendra duduk termenung di bangku tunggu depan ruang IGD. Wajahnya ia tangkupkan ke dalam kedua tangannya.

"Pah." Suara itu, suara dari orang yang mendadak membuncahkan amarah, membuat Rendra mengangkat kepalanya dan langsung menatap bengis seseorang yang berdiri di depannya. 

Dengan segera, Rendra bangkit dan langsung menarik kerah baju putranya sendiri dengan kasar. "Puas kamu? Puas sudah buat istri saya meregang nyawa karena ulah bodohmu?" bentak Rendra dengan nada tinggi dan penuh penekanan. 

Tak perduli dengan tatapan nyalang beberapa orang yang sama-sama tengah menunggu keluarganya ditangani, Rendra terus memaksa putranya mengaku, dan bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi pada istrinya.

Dave yang masih dibuat tak mengerti situasi yang sesang terjadi pun hanya diam, tak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Rendra bahwa dirinya sama sekali tak bersalah. Mau menjelaskan sepanjang dan sedetail apa pun, jika Rendra masih dikungkung amarah, alasannya hanya menjadi alibi semata.

Rendra tersenyum miring melihat putranya diam tak berkelit. Ditatapnya mata sayu putranya dengan tatapan nyalang. Dan tanpa ancang-ancang, Rendra melepaskan tamparan keras ke wajah kiri putranya hingga Dave mundur dua langkah.

Come To Leave (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang