Delapan Belas

1.8K 134 80
                                        

Mengerjap beberapa kali agar pandangannya tak begitu buram, nyatanya malah pusing semakin menekan kepala. Dave sudah bersiap, meski dalam hati dirinya sungguh tak mau, tetapi mau bagaimana lagi, jika tak menurut, akan banyak halangan yang ia dapat. Bohong jika ia tak membutuhkan fasilitas ayahnya. Ia tak mau munafik, ia belum bisa bekerja karena selama ini, ia dipenuhi dalam segi material—walaupun hampir sebagian hanya mandek di rekening tabungannya.

Dave duduk di atas ranjang, badannya begitu lemas entah kenapa. Sejak semalam, badannya memang terasa panas dan berat. Lagi-lagi, Melvan yang harus begadang merawatnya. Ditambah napasnya yang mendadak sering sesak, membuat Melvan semakin tidak bisa pergi jauh-jauh darinya. Bisa, tetapi siapa yang akan tega? Meskipun mereka seperti Tom dan Jerry saat bertengkar, Dave membutuhkan Melvan di sisinya.

Tak sekuat itu jika Dave hadapi sendirian. Bukan tak mungkin ia bisa melakukan hal-hal buruk seperti malam itu, satu-satunya malam paling buruk baginya. Sekarang ia hanya bisa menjalani bagaimana alurnya saja. Bahkan, termasuk menghadiri pernikahan ayahnya dengan perempuan tak tahu diri yang benar-benar mengacaukan keluarganya.

"Dave, lo udah siap?" tanya Melvan keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah dengan handuk yang hanya menutup bagian bawah membuat Dave membuang napas panjang.

"Ya lo pikir aja sendiri, siap apa enggaknya." Jawaban Dave ketus, sesuai dengan ekspektasi Melvan. 

Melvan melenggang menuju lemari pakaian tanpa beban, setelah membukanya, ia dibuat bingung dengan banyaknya setelan jas tergantung rapi. "Lo ogah tapi effort banget siapin banyak baju begitu, ya?" lirik Melvan ke arah ranjang, tempat Dave masih duduk santai sambil sedikit menggeser tubuh agar Dave bisa melihat apa yang ia maksud. Tangannya mulai memilih, mana yang sekiranya cocok ia pakai.

"Suruhan papa yang nyiapin. Gue mah ogah, kali." Dave menyangga badannya dengan kedua tangan di atas ranjang. Untuk kesekian kalinya, ia memutar kepalanya berharap badannya terasa lebih enakan. "Gue munafik banget ya, Melv? Gue benci bokap gue lakuin itu, tapi gue tetap ikutin alurnya. Gue muak tau, Melv. Tapi mau gimana? Gue enggak mau nanti bokap gue dicap buruk kalau anaknya doyan berontak."

"Dia selingkuh aja udah salah loh, Dave. Ini malah sampai nikahin selingkuhannya. Ngapain lo takut bokap lo dicap buruk? Dia sendiri yang udah ciptain cap itu sendiri."

Dave tak mau membela diri, yang Melvan katakan memang benar. Namun, entah kenapa ia tak bisa menolak permintaan ayahnya. Ia masih mengharapkan ayahnya bisa berubah pikiran, berharap pernihakan itu hanyalah main-main semata yang tercipta hanya karena cinta sesaat. Dave berharap akan banyak sifat buruk yang perempuan itu keluarkan di depan ayahnya agar ayahnya menyesal dan berpikir tidak ada yang lebih baik dari Stevi, ibunya. Jahat? Memang. Namun, hanya itu pikiran positif yang bisa Dave ambil saat ini. 

Mual tiba-tiba menyerang dengan begitu hebatnya hingga Dave membungkam mulutnya sendiri dan menegakkan badan. Buru-buru ia lari ke kamar mandi untuk memuntahkan desakan dari dalam perutnya yang belum ia isi barang setetes air pun. 

"Dave? Lo enggak pa-pa?" Melvan yang semula tengah memantaskan diri di depan cermin, menyusul ke kamar mandi yang tak terkunci.

Dilihatnya Dave tengah berusaha memuntahkan isi perutnya meski dengan jelas Melvan lihat yang keluar hanyalah air. Tangannya terulur mengurut tengkuk sahabatnya, berniat membantu agar lebih mudah Dave mengeluarkan muntahannya. "Udah di luar aja, jijik." Tangan kiri Dave mendorong Melvan lumayan kasar. 

"Apaan, sih, Dave?! Lo lagi sakit begini aja masih gengsi sama gue? Gue sahabat lo, Njir. Bukan orang yang enggak kenal sama lo." Melvan tak perduli dengan Dave yang tak mau ia bantu hanya karena alasan jijik. Mereka sudah bersahabat berapa tahun? Tak mungkin Melvan merasa jijik hanya karena muntahan.

Come To Leave (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang