Dave sudah terbaring di ranjang IGD, tengah dilakukan pemeriksaan dan penanganan awal oleh dokter jaga. Kejadian yang begitu tiba-tiba di rumahnya, membuat Tari langsung membawa sahabat putranya ke rumah sakit. Ia tak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi, mengingat kejadian-kejadian sebelumnya.
Dalam hati, begitu jelas terasa kekhawatiran yang teramat, tetapi sebisa mungkin ia sembunyikan agar putranya tak turut panik melihat kondisi sahabatnya. "Mah, aman enggak, ya?"
Ini sudah kali keempat Melvan menanyakan hal yang sama pada ibunya. Jawaban yang didapat pun juga sama seperti sebelum-sebelumnya, hanya segores senyum teduh Tari yang berusaha menenangkan.
"Dia pucat banget loh, Mah, tadi. Takut dia kenapa-napa. Kalau jantungnya kumat lagi gimana?"
"Sstt!" Tari memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di bibir. "Berdoa yang baik-baik aja, Melvan."
Sepertinya pertanyaan cemas atau tidak dengan kondisi Dave, tak perlu dilontarkan lagi kepada Tari yang sudah menerka banyak hal di kepalanya. Dirinya seorang ibu, meski tak sedarah, perasaannya begitu peka. Terlebih Dave sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Pernyataan Melvan beberapa hari yang lalu tentang hancurnya rumah tangga yang dulunya begitu harmonis, terus terngiang-ngiang. Apalagi saat Melvan mengatakan Dave hampir saja mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak bisa Tari bayangkan bagaimana bisa terlintas kata 'bunuh diri' di pikiran Dave.
Hanya dari cerita orsng lain saja, sudah begitu jelas bagaimana depresinya Dave. Hanya saja, tak semua orang tahu dan peka. Keluarganya sajalah yang mengerti. Ditambah lagi kenyataan pahit tentang vonis dokter terhadap Dave, tentu menjadi ujian yang begitu bertubi-tubi.
Perannya bukanlah sebagai pemberi solusi tentang masalah keluarga yang sudah terlanjur terjadi di keluarga Dave, melainkan menjadi tameng jika sewaktu-waktu anak itu roboh. Tari sungguh takkan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi lagi pada sahabat putranya.
"Wali atas nama ananda Dave?"
Di tengah heningnya malam, suara dokter yang baru saja keluar dari ruangan langsung membuat Tari terperanjat dari pikiran-pikiran yang mendadak penuh. Segera ia hampiri pria berjas putih yang menunggunya di depan pintu. Dari lorong kiri, rupanya Agung berjalan tergopoh-gopoh setelah menyelesaikan urusan administrasi.
"Gimana kondisi Dave, Dok?"
Dari raut wajah tiga orang yang menunggu hasil pemeriksaan dan tindakan awal yang dilakukan kepada pasiennya, dokter jaga sudah tahu seberapa khawatir mereka. Sebelum menyampaikan hasil pemeriksaannya, dokter bernama Ifan yang tergolong dokter muda itu tersenyum singkat.
"Beruntung Dave segera mendapat pertolongan pertama, kondisinya saat ini cukup stabil, tapi tetap harus dipantau secara intensif. Kami akan pindahkan pasien ke kamar ranapnya."
Lega. Satu kata yang mewakili semua perasaan dalam dada. Terutama Tari yang hatinya begitu perasa, ia sampai-sampai mengusap dadanya sembari merapal banyak kata syukur.
Hal yang sama dirasakan juga oleh Melvan, yang sejak melihat pucat wajah sahabatnya, sudah ingin sekali mengumpat kata-kata kasar, tetapi kali ini yang terucap hanyalah ribuan kata syukur. Sahabatnya kembali tertolong.
☁️
Matahari menyongsong dari arah timur masih bersemangat menemani bumi mendapatkan kehidupannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, tetapi netra yang ditunggu-tunggu untuk terbuka masih belum ada tanda-tanda.
"Dave capek banget ya, Nak, sampai malas bangun?" Tari bertanya dengan tangan mengusap peluh yang memenuhi dahi dan pelipis Dave. Bahkan, ketika anak itu terlelap pun, sepertinya rasa lelah tak kunjung berkesudahan.
Dari paras tampan Dave, siapa sangka anak itu mendadak mengidap penyakit yang bisa mengancam nyawa? Sejak pertama ia mengenal Dave sebagai sahabat Melvan-bahkan satu-satunya-Tari tak pernah melihat sekali pun raut lelah ataupun sakit yang berarti. Mungkin hanya sesekali terlihat jengkel, wajar beradu argumen dengan Melvan.
Kali ini begitu berbeda saat menelisim wajah hangat Dave. Dulu, Tari sangat suka saat anak laki-laki penuh ceria itu tersenyum sumringah, memamerkan apa yang dipunya hanya untuk meledek Melvan, sekarang malah terbaring lemah tak berdaya.
Tak ada setetes pun darahnya yang mengalir di tubuh Dave, tetapi rasa sakitnya sungguh menghujam dada. Ia menjadi saksi kuatnya persahabatan putranya dengan sosok anak laki-laki yang hampir tak pernah membawa pengaruh buruk bagi Melvan.
Tak terasa air matanya menggenang di pelupuk mata. Cepat-cepat ia usap, takut anak yang sedang bertarung dengan lelahnya itu terbangun karenanya. "Tante jadi melow banget gara-gara kamu, Dave," ucapnya lagi-lagi mengusap air mata dengan tisu.
"Ma-af, Tante."
Suara serak yang baru saja ia dengar .... "Dave? Syukurlah kamu bangun." Senyum Tari langsung merekah. Segera ia bangkit dan menuang air serta memberi sedotan agar Dave bisa dengan mudah meminum air mineral darinya.
Tari lekas menaikkan ranjang agar Dave bisa mendapatkan posisi sedikit duduk. Dave hanya diam saja diperlakukan demikian. Tanpa berontak, tanpa menolak. Sekuat mungkin ia berusaha menyunggingkan senyum agar wanita di hadapannya tak khawatir.
Tari tahu, senyuman itu hanyalah senyum palsu untuk membuatnya tenang. Lagi-lagi, sikap Dave meluluhkan hatinya. "Mama kamu hebat, ya, bisa didik kamu jadi laki-laki sehebat ini."
☁️
Dua hari lamanya tak memijakkan kakinya di sekolah, kelasnya mendadak ramai saat ia kembali setor wajah. Pucat masih tampak jelas di wajah Dave, tetapi lirikan dan gaya sok cool-nya sudah kembali.
"Alhamdulillah ..., sehat lo, Bro?" Dari belakang tubuh, Dave merasakan nyeri akibat tepukan lumayan keras di bahunya. Sadar perbuatannya cukup berlebihan, ia langsung meminta maaf. "Sori-sori, keras banget, ya?"
Pertanyaan Rian-anak satu bangku dengan Nanda sang kepala suku di kelas penuh kerusuhan ini-tak mendapat jawaban dari Dave selaku korban, melainkan toyoran keras dari belakangnya yang membuat Rian kesal.
Baru saja berbalik dengan tatapan supertajam ingin mengetahui siapa yang sudah memberi toyoran keras di kepalanya, yang didapatinya justru kacung Dave. "Apa lo? Mau bales? Sini lo maju lawan gue."
Dave dan Melvan memang satu settingan pabrik, sok petantang-petenteng menyebalkan. Bedanya, Dave di level satu, sedangkan Melvan di level seribu.
"Males ngelawan kacung," sarkas Rian membatalkan niatnya untuk melawan balik dan memilih menuju bangkunya sendiri.
Disebut kacung oleh Rian, Melvan semakin memanas. "Apa lo bilang? Kacung? Sini maju lo, sini!" Melvan menarik lengan seragamnya hingga menampakkan bisepnya yang ..., lumayan oke.
"Yakin mau lawan gue?" Malas terus-terusan ditantang, Rian mengeluarkan otot-otot lengannya yang nyatanya lebih kekar dibanding Melvan yang tak seberapa. Maklum, anak gym.
Hal itu sontak membuat teman sekelasnya yang menyaksikan tertawa puas melihat raut jengkel Melvan atas kekalahan yang didapat. Namun, keributan seperti ini bukanlah hal serius. Rian memang anak yang suka ceplas-ceplos, dilawan oleh Melvan yang petantang-petenteng, semakin menjadi hiburan pagi di kelas.
Semua pasang mata hanya tertuju pada Melvan dan Rian yang saling beradu mulut. Tak ada yang memperdulikan Dave yang sibuk menenggak beberapa pil obat yang diresepkan dokter untuk mengurangi rasa sakit di tubuhnya. Saat menengok ke ujung bangku yang sejajar dengannya, satu anak laki-laki tengah memperhatikan gerak-geriknya membuat Dave merasa tertangkap basah.
Pura-pura tak perduli, Dave kembali menatap lurus sembari memberesi obat-obatannya ke dalam laci. "Ngapain tuh orang liatin gue sebegitunya, Njir? Jangan-jangan .... Ih amit-amit, dah, gue jantan normal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Come To Leave (Revisi)
Teen Fiction#sicklit #fiksiremaja Rahasia kedua orang tuanya yang terkuak sungguh memuakkan. Keluarganya semakin hancur bersama tubuh yang turut melebur bersama kata lemah dan lelah. Tak tahu dan tak mengerti apa yang sebenarnya Tuhan inginkan darinya. Dave han...
