Sebuah Takdir

98 8 0
                                        

 " untuk semua yang mengikuti eskul harap segera berkumpul di kegiatan masing masing hingga bel pulang berbunyi" suara pak raden yang berbicara di microfon meja piket mendengung di setiap penjuru sekolah. Aku pun keluar kelas sembari menatap kaki ku dengan pipi bersemu merah.

Flash back on

" Stop" Kak bara menangkap pergelangan kaki ku lalu mengobatinya.

Flashback Off.

" haaa sadarr sadarrr zaraa ini ga lebih dari yang lo pikirin" aku memonyongkan bibir lalu berjalan masuk kembali ke kelas.

" loh kemanaan? Oiya seingatku frisli tadi bilang mau ngumpul eskul..eh tunggu.. prita kan gaa ikut eskul apa apa?! Terus kemana diaa?!" setelah menemukan kejanggalan segera aku berlari keluar kelas sambil celingak celinguk mencari keberadaan prita.

" pritaa, taa" panggilku saat di taman.

" duh mana sih ? " saat aku sibuk mencari prita , ponselku berdering menampilkan panggilan dari kak zaldi.

" assalamualaikum .. oh iya kak.. oke, siap laksanakan!" sahutku saat kak zaldi menyuruhku berkumpul di ruang jurnalistik bersebelahan dengan perpustakaan sekolah.

" duh yaudah deh lanjut nanti aja cari mereka" aku pun merubah haluan langkah kaki ku dan berjalan santai melewati beberapa kelas , langkah ku seketika terhenti saat berjalan di sekitaran bawah tangga dan segera bersembunyi di balik dinding.

" loh itu kan? Frislii!! Sama siapaa tuh! Eh tunggu.. bukan nya itu kak gesang!!!" kagetku lalu segera membungkam mulutku dan berusaha melihat apa yang mereka lakukan.

Samar samar kumendengarkan percakapan mereka yang membahas tentang persiapan pentas akhir tahun nanti. Tapi dari gerak gerik mereka terlihat saling canggung dan lebih tepatnya...pipi merekaaa memerah kayak tomat!

" hahh.,. udahlah tunggu frisli nanti cerita sendiri ajaa.. hehehe akhirnya kepergok juga mereka. Awas aja ya kalau dia ngelak lagi.. ! ini yaa... bakal gue tinju gini nih !!" tiru ku seperti hendak meninju. Lalu perlahan aku mengambil gambar mereka.

cekrek.

" ahaa I GET IT !! " aku tersenyum puas lalu berlari meninggalkan mereka.

Setelah sampai di depan pintu ruang jurnal, aku masuk dan menyapa semua anggota .

" ya..langsung aja ya saya mulai...disini saya bakal kasih info.. kalau yang berpartisipasi di pentas akhir tahun adalah zara dan saya yang akan memainkan gitar, sementara zara akan membaca puisi. Bagaimana ? apa ada pendapat lain?" jelas kak zaldi dengan serius . selaku ketua Jurnalistik.

" uhmm.. gimana kalau nanti di part tengah nya zara ikut nyanyi, lebih tepatnya reff nya.. jadi kita pake instrument gitar nya itu lagu siapa gitu kek.. nah biar pas reff si zara berhenti baca puisi tapi nyanyi.. jadi biar yang nonton ga bosen .gimana zal ?" Tanya kak edho. Anggota jurnal yang lain.

" uhm boleh tuh , zara bisa kan?"

" i..iya deh kak nanti zara bakal latihin di rumah hehe"

" ga Cuma dirumah, sekolah juga. Nanti untuk teks puisi nya seperti biasa lo bisa buat kan?"

" bisa bisa kak, aman deh. Nanti zara setor ke kak zaldi secepatnya."

" sip mantap, untuk kegiatan selanjutnya ,saya dan zara bakal latihan dan rembukin buat pentas akhir tahun ini, sisanya bisa buat madding yang di dekat kantor kepala sekolah. Oke, bisa dipahami?"penjelasan singkat padat dan tegas itu diterima dengan baik oleh anggota jurnal dan mereka mulai berbubaran membuat madding.

EUFORIA✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang