Issue pt.4

9.1K 983 22
                                    

Setelah kakinya dibebat perban, mau tak mau Haechan harus kembali ke kelas. Ia sudah membolos dua mata pelajaran hari ini karena terjebak di UKS bersama pemuda menyebalkan—yang sialnya tampan itu.


Begitu sampai di depan kelas, Pak Taeil—guru sastra Inggris yang tengah mengajar hanya meliriknya sekilas. Entah kasihan melihat wajahnya yang kacau atau karena perban di pergelangan kakinya (atau justru kombinasi keduanya), sang guru hanya menggerakkan mata, pertanda bagi Haechan untuk segera duduk.


Sembari berjalan terpincang, Haechan membungkuk berterima kasih dan secepat mungkin menghampiri Jaemin.


"Mark, what're you doing here?"


Kalau saja Pak Taeil tidak bertanya seperti itu, mungkin Haechan lupa kalau Mark yang mengantarnya hingga ke depan kelas.


Mata Mark yang sedari tadi mengikuti gerakan Haechan langsung beralih ke sang guru. "I—um, made sure he returned safely, sir."


Beberapa siswi di kelas itu mulai berbisik riang. Well, perlakuan Mark pada adik kelasnya yang tidak biasa itu tentunya mengundang banyak spekulasi dari berbagai pihak.


Kenapa Kak Mark perhatian sekali?


Apa mereka pacaran?


Sepertinya begitu, kau lihat sendiri caranya menatap Haechan!


Melihat kondisi kelas yang mulai tidak kondusif, Pak Taeil hanya tersenyum maklum. "Don't worry, your boyfriend will be safe in here."


Dan sontak sautan-sautan ricuh terdengar dari seluruh penjuru kelas. Para siswa berteriak sembari menggebrak meja dan bangku sedangkan para siswi berteriak begitu kencang.


Lalu, bagaimana kabar pemuda matahari kita?


Haechan melotot selebar yang ia bisa. Mulutnya menganga, bahkan Pak Taeil menggodanya seperti ini. Tidak lucu!


Dengan terbata Haechan berucap, "We—we are not—" dan ucapannya sukses terpotong oleh serbuan kalimat dari teman-temannya.


Wow, that's cool dude!


Are you guys official now?


No! How dare you Haechan!


Don't take my prince away!


Di sisi pintu Mark masih berdiri dengan wajah mengepul merah. Dia mulai menggaruk tengkuk malu, mungkin tak menyangka akan ditanggapi sebegini ramainya.


Di depan kelas Pak Taeil bergumam pelan sambil geleng-geleng kepala, "Dasar anak muda."


Dan Haechan? Well, dia ingin mati saja rasanya.

My SunshineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang