Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah pada tahu sama dua sosok ini 'kan?
Yang satu kebanggan sekolah, yang satu lagi tukang usil seangkatan 🤟🏻
Nah, kemarin salah satu anggota jurnalis tak sengaja mendapati mereka tengah berpelukan di lorong sekolah.
Berpelukan, lho. Pada heran 'kan?
Pacar, bukan.
Gebetan, cuma satu pihak doang yang ngejar.
Apakah ini pertanda kalau ketua OSIS kita tercinta akhirnya bisa takluk juga?
"Wah, sudah gila."
Renjun berdecak tak percaya. Tak digubrisnya lagi dokumen yang makin menumpuk di meja. Saat ini matanya terlalu fokus pada foto dua orang yang terpampang di buletin sekolah.
Mana kelihatannya, Mark tak keberatan sama sekali dipeluk begitu.
"Aku tak salah lihat 'kan?"
Kali ini giliran Jaemin yang berdecak, kagum. Bisa-bisanya di tengah kesibukan OSIS yang luar biasa padat gegara persiapan ujian, ketuanya itu malah asik bermesraan.
Dengan Haechan lagi.
Bukan, Jaemin bukannya ingin merebut Haechan atau bagaimana. Tapi kalau dia tak salah ingat, Mark sendiri yang bilang dia tak tertarik.
Dasar plin plan.
"Hebat juga bocah itu."
Jaehyun—mantan ketus OSIS sebelum digantikan oleh Mark, hanya tersenyum. Tak salah dugaan Johnny, mungkin Haechan memang bisa sedikit melunakkan cowok cuek macam Mark.
Meski ada yang mengganjal sebenarnya.
Karena setahunya, baru kemarin dilihatnya tidak ada perubahan sikap. Masih cuek, masih tak peduli sekalipun diikuti seperti anak anjing.
Lantas bagaimana bisa berubah hanya dalam sehari?
"Aku belum mendengar penjelasan apapun, ketua."
Renjun akhirnya buka suara. Dia yakin Mark sudah melihat berita itu pagi ini. Anehnya, Mark sama sekali tak terganggu. Wajahnya datar tak terusik, seolah bisik-bisik dari seluruh penjuru sekolah hanyalah angin lalu.
Dan memang itu yang dipikirkan Mark.
Pemuda itu balik menatap Renjun, Jaemin, bahkan Jaehyun—astaga, bahkan seorang Jaehyun pun sekarang ikut-ikutan!
"Sejak kapan kalian jadi suka bergosip begini?"
"Jadi itu benar?!" Renjun memekik, tak percaya.
Pemuda yang paling tua disana menyandarkan tubuh tepat didepan meja Mark. "Kau baru saja menegaskan kalau itu bukan hasil editan."
"Aku tak melihat ada masalah dengan berita itu."
Lagi-lagi masih bersikap setenang angin. Membuat Jaemin kesal juga lama-lama.
"Well, to you, yes. But, to him? Kau tak tahu kekacauan macam apa yang bisa dibuat oleh para penggemarmu disini."
Itu... adalah hal yang tak diperkirakan oleh Mark.
Apalagi diucapkan oleh Jaemin.
Renjun merasa rambut halus di belakang tengkuknya mendadak berdiri. "You're right. Aku tak mau sekedar membayangkannya."
"I know you don't care about him. But, at least consider what Jaemin said."
Perkataan Jaehyun mau tak mau mengusiknya.
Mark memang tak suka dengan tingkah Haechan yang kerap mengganggunya. Tapi bukan berarti dia bisa diperlakukan tidak baik hanya karena berita sampah macam itu.
But, he's also a boy. Surely he can take care of himself.