Menghilangkan kejenuhan. Itu yang saat ini tengah di lakukan oleh seorang Lee Minho. Namja berwajah kalem itu memutuskan untuk berjalan sejenak. Dan sekaligus mengunjungi adiknya.
Lee Jisung..
Itu tulisan yang terpajang jelas di sebelah figura foto dan juga guci abu jenazah. Hanya ini satu-satunya tempat dimana Minho bisa melepas rindunya. Tangannya terulur mengusap kaca tempat abu jenazah dan barang-barang kecil milik Jisung.
"Oraenmariya.. Jisungie. Bagaimana kabarmu? Hyung sangat berharap kau baik-baik saja. Dan.. mian, baru bisa mengunjungimu hari ini."
Minho mengulas senyumnya. Menatap lekat satu-satunya potret dirinya bersama dengan Jisung. Ia sempat meruntuki dirinya sendiri. Kenapa tak pernah mengambil gambar bersama Jisung lebih banyak? Dan sekarang, hanya foto itu yang menjadi satu-satunya.
"Hyung semakin sangat jarang datang kemari. Hyung juga tidak yakin esok atau bahkan lusa dan hari-hari kedepan.. hyung bisa mengunjungimu lebih sering. Untuk itu.. mianhae."
Minho merasa bersalah. Netranya menatap sebuah gantungan kunci dengan bentuk bintang disana. Minho ingat itu. Sangat mengingatnya. Gantungan kunci yang ia berikan pada Jisung di hari ulang tahunnya.
"Saengil chukkae, Jisungie!!"
Minho tersenyum lebar sembari membawa sebuah kue di tangannya. Disana, Jisung mengulas senyum lebarnya. Bahkan matanya sempat ikut melebar karena terkejut.
"Hyung ingat?"
"Geureom. Jja! Buat harapan setelah itu tiup lilinnya."
Jisung mengangguk semangat. Ia segera menyatukan tangannya dan melipat di depan dada. Memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Bersiap untuk membuat harapan.
"Aku berharap, Minho hyung sehat selalu, berikan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar tapi tidak menyulitkan Minho hyung. Ah dan satu hal lagi. Aku berharap, aku bisa terus bersama dengan Minho hyung dalam waktu yang lama. Amin."
Jisung mengakhiri sesi membuat harapan dan segera meniup lilin yang ada di atas kue. Setelah semua lilin benar-benar mati, Jisung bertepuk tangan dengan riang.
"Kau seharusnya membuat harapan di dalam hati. Jika seperti tadi, hyung bisa mendengarnya." ucap Minho, sambil meletakkan kuenya di meja dekat mereka.
"Memang itu yang kuinginkan. Aku membuat harapan dengan hyung yang menjadi pendengarnya. Aku tidak ingin merahasiakan apapun, bahkan harapanku dari hyung."
"Tapi, kenapa kau membuat harapan hanya untukku? Dan apa itu tadi? Bersama denganku dalam waktu yang lama? Kau tidak akan pergi kemana-mana, Jisungie." Minho mengusap pelan puncak kepala Jisung. Jisung mengulas senyum lebarnya lalu mengulurkan tangannya.
"Mwol?" (Apa?) Minho mengangkat alisnya, tak mengerti.
"Nae seonmul. Eodi, hyung?" (Hadiahku. Dimana, hyung?) ucap Jisung dengan menatap polos kearah Minho. Minho terkekeh melihat tingkah polos adiknya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk bintang.
"Mian, hyung hanya bisa membelikanmu itu. Dan hyung belum sempat membungkusnya." ucap Minho, memberikan gantungan kunci itu.
"Uwahh!! Yeppeuda, hyung! Joha!" girang Jisung, menatap penuh dengan binar bahagia kearah gantungan kunci bintang itu.
"Kau senang?"
"Eung! Wanjeon johayo!" ucap Jisung dan mendapatkan usapan lembut di puncak kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel's Flower [END]
FanfictionSiapa yang menginginkan terjun ke dunia hitam? Tidak ada yang menginginkannya. Hanya saja, tidak ada pilihan lain. Mau tak mau, gelapnya dunia hitam tetap akan dilewati. Main Cast: Kim Namjoon (38 years old) Min (Kim) Yoongi (23 years old) Kim Ta...
![Angel's Flower [END]](https://img.wattpad.com/cover/189781155-64-k17340.jpg)