so so sorry. I'm comeback, pls for vote
and comment .Kembalinya Kang Seulgi ke Seoul itu sama saja menyakiti dirinya sendiri. Tapi percuma jika menghindar, tak akan ada yang berubah—atau memang ia merindukan seseorang.
Berjalan keluar dari Apertement, untuk membeli beberapa bahan makanan di supermarket. Ia sendirian, karena pagi-pagi sekali Krystal sudah pergi ke kantor karena ada hal penting mendadak. Berakhirlah duduk ditaman, sambil memakan es krim. Rasanya rindu sekali berada disana merasakan dingin yang menusuk, memajamkan mata menikmati. Dan tiba-tiba tanpa diperintah air matanya menetes,
kenapa aku jadi selemah ini, batin Seulgi. Bibirnya tersenyum sendu, menyadari keadaan yang sebenarnya terjadi—ia tidak baik-baik saja selama ini.
Ia mengangkat jemarinya, beberapa bulan yang lalu dijari manisnya terdapat cincin yang begitu indah, sekaligus orang yang memberi berada disisinya. Tapi sekarang hanya kenangan yang berbekas, ia pikir ini hanya mimpi bahwa segalanya sudah berakhir.
"Hai kenapa menangis!" suara cempreng seseorang sontak saja membuatnya membuka mata. Ternyata hanya anak laki-laki, mungkin sekitar berumur 5 tahun dengan es krim juga ditangannya, Seulgi langsung tersenyum tipis.
"Aku tidak menangis, sini duduk disamping kakak." Tuturnya, anak kecil tersebut menatap ragu tapi kemudian menurut. Duduk disisi Seulgi dengan kedua kaki diayunkan karena kursinya terlalu tinggi.
Seulgi yang tadinya tersenyum tiba-tiba sirna, karena sadar bocah tersebut sendirian. "Tunggu, dimana ibu mu?" tanyanya.
"Oh, sedang kembali sebentar ke Supermarket katanya ada yang ketinggalan. Aku malas menuggu di kasir jadi keluar berjalan-jalan, dan bertemu kakak yang sepertinya kesepian." Seulgi tersenyum sendu mendengar penuturan itu, anak kecil saja tahu kondisinya saat ini.
"Ayo aku antar kesana, kau sudah berjalan terlalu jauh. Nanti Ibumu khawatir," tangannya langsung menggengam tangan anak kecil itu. Kemudian melangkah bersama, ia jadi merasa seperti ibunya.
Sampai setelah beberapa lama berjalan, dan sampai kedepan supermarket. Seorang wanita yang kelihatannya masih sangat muda berlari kearah Seulgi, ia langsung memeluk anak kecil disampingnya.
"Ah, makasih ya. Anak ini memang suka menghilang sendiri," kata wanita tersebut. Sambil tersenyum lebar, Seulgi baru sadar ternyata wanita tersebut sangat cantik bak bidadari—bahkan pakaiannya juga terlihat bermerek semua.
"Tidak apa-apa da—" ucapannya langsung berhenti total. Tubuhnya membeku ditempat, merasa tidak asing dengan wajah itu—bukan, bukan wanita cantik tersebut, melainkan bocah yang baru dia antar.
Jangan bilang.
"Sudah selesai belinya?" Sepertinya Seulgi hampir gila, karena ia sekarang mendengar jelas suara bariton Sehun. Pasti ini hanya pikirannya karena terlalu merindu.
"Sehun, kau tidak sabaran sekali sih seperti Eden."
"Hai Daddy, eden mau pulang." Kata Eden sambil mengerucukan bibirnya.
Sial, rasanya kaki Seulgi lemas mendengar nama itu disebut dengan jelas. Ah pasti ini mimpi, batinnya. Tetapi ketika seseorang berjalan dari belakangnya, dan berdiri disisi wanita tadi ia langsung kehilangan arah.
Pemuda yang selama ini ia rindukan ada didepan mata. Keadaan yang sepertinya baik-baik saja, bahkan ada senyuman lebar dimatanya—sorot kebahagiaan. Wajah yang masih sama tampannya seperti terakhir kali dilihat, rasa rindu dan senang langsung meluap. Sampai mata mereka bertemu, Sehun terlihat terkejut sekali, sedangkan Seulgi berusaha mengontrol dirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE ME FEEL
Fiksi PenggemarKang Seulgi mencintai Oh Sehun seperti malam, dipenuhi oleh diam. Seulgi tidak mau menjadi bintang ; karena ia tidak mau menjadi salah satu diantara seribu. Seulgi tidak mau Sehun menjadi bulan untuknya ; karena bulan selalu berubah-ubah. Ia hanya...