Happy reading.
Disini lah Andra sekarang. Di depan sebuah rumah sederhana berwarna putih dengan pagar kayu yang melingkar di depan rumah itu.
"Sebenarnya kita ngapain sih kesini?"
"Nyari orang."
"Ya aku tau nyari orang! Masa kita kesini nyari harta karun."
"Ribet kamu, Ngga." Andra sedikit menyesal membawa Angga bersamanya untuk mencari Adinda. Selama diperjalanan Angga selalu bertanya tapi Andra memang sengaja tak menjelaskannya secara lengkap. Andra hanya ingin ada yang menemaninya jika dia berhasil menemukan Adinda nantinya sehingga tak menimbulkan fitnah untuknya dan gadis itu.
Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang, akan kah Andra berhasil menemukan mahasiswi bimbingannya itu?
"Aku mencari mahasiswi bimbinganku."
"Hah? Kok rasanya duniamu ini kebalik ya, Ndra? Bukannya mahasiswa yang nyari dosen bukan malah dosen yang nyari mahasiswa? Aneh!" Angga menggeleng aneh. Walaupun dia mengenal Andra cukup lama dan Andra adalah orang yang misterius. Entah Angga yang kurang pintar atau bagaimana tetapi sulit sekali untuk membaca pikiran sahabatnya itu.
"Ini bukan soal kampus, Ngga. Tapi ada sesuatu yang memang belum bisa aku jelaskan sekarang. Aku butuh kamu untuk menemui atau mungkin menemukan mahasiswiku itu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya tapi tidak hanya berdua dengannya."
"Jadi maksudmu aku akan menjadi aku orang ketiga dan menjadi setan?" Andra berdecak berbicara dengan Angga memang melelahkan.
"Bodoamat!" hanya itu yang bisa Andra katakan.
Andra mengetuk pintu dan mengucapkan salam namun sayang tak ada jawaban dari dalam. Sampai seorang ibu yang Andra tebak sekitar umur empat puluhan mendatangi mereka.
"Mas bukannya yang kemarin datang ya?" kata ibu itu.
"Benar, Bu. Dari mana Ibu tau saya sering kesini?"
"Iya Mas. Warung saya kan tepat disebelah rumah Didin jadi nggak sengaja liat Mas beberapa hari ini." Angga yang menjadi mendengar semakin bingung. Untuk apa sebenarnya Andra mencari mahasiswinya? Bahkan Angga tak tau bagaimana wajah gadis itu dan Angga kembali terkejut saat sadar bahwa yang Andra cari adalah seorang gadis? Baik lah kemana saja Angga sedari tadi sehingga dia baru sadar bahwa sahabatnya itu mencari seorang perempuan?
"Ndra, kamu nggak lagi jatuh cinta sama mahasiswimu sendiri kan?" Andra ingin mengutuk mulut Angga. Bisa-bisanya Angga menanyakan pertanyaan konyol itu pada Andra saat ini.
"Jadi Ibu ada melihat Didin di rumah akhir-akhir ini? Saya dosennya kok Bu bukan orang jahat." Andra sengaja menjelaskan profesinya saat dia melihat sang ibu mengerutkan dahinya seakan mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.
"Oalah dosennya Didin toh tapi muda banget yak. Ibu kira tadi pacarnya Didin atau mungkin calon suaminya."
Angga menahan tawanya.
"Didin sih selalu pulang malam Mas. Dia kan kerja sebagai tukang foto keliling."
Bukannya kameranya dicuri waktu itu? Bagaimana bisa dia bekerja?
"Tapi sih terkadang ibu liat dia pagi-pagi di rumah sekitar subuh gitu jam 6 pagi tapi ibu nggak tau dia kemana. Mungkin kerja deh."
"Berarti Adinda masih tinggal di rumah ini kan, Bu?"
"Didin nggak mungkin pindah Mas. Rumah ini satu-satunya peninggalan dari kedua orang tuanya."
"Ibu kenal sama kedua orang tuanya Adinda?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
Ficción GeneralCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
