19

1K 95 15
                                        

Happy reading.

Bunda Tari keluar menyambut kedatangan putra dan menantunya. 

"Kok siang banget datangnya, Ya?" Andra menyalam tangan dan mencium pipi mamanya. Hal itu menjadi perhatian Adinda. Rasanya pasti menyenangkan menjadi Andra yang masih memiliki seorang ibu. Tidak sepertinya yang..entah lah merindukan ibu yang bahkan tak bisa dia lihat dan disentuhnya lagi.

Dan ternyata Bunda Tari melihat gelagat Adinda. Seakan terdapat tatapan iri dari menantunya itu.

"Sini-sini. Mau dipeluk juga kan? Kalau tadi Andra yang meluk sekarang Bunda yang meluk Dinda." Bunda Tari memeluk Adinda dengan sayang. Walaupun Bunda Tari tak bisa membaca pikiran Adinda tapi dia bisa merasakan bagaimana di posisi Adinda.

Mama Andra baik banget nggak kayak aku bayangin dulu. Aku ngerasa punya mama lagi.

Adinda tersenyum setelah pelukan terlepas dia mencium telapak tangan Bunda Tari.

"Iya. Om Romi baru pulang tadi pagi terus, beres-beres rumah juga makanya siang baru bisa datang, Ma," jawab Andra nyelonong masuk ke rumah meninggalkan Bunda Tari bersama Adinda.

"Arya nggak jahat kan sama kamu, Din?"

Adinda tertawa. Jahat sih nggak, tapi mulutnya itu bawaannya ngegas terus. Namun jawaban itu dia telan bulat-bulat.

"Nggak kok, Bun."

"Yaudah, yuk masuk. Kalian malam ini nginep disini kan?"

"Eh? Nggak tau Bun. Pak--eh Kak Andra belum bilang mau nginep disini atau nggak."

Bunda Tari dan Adinda pun masuk ke dalam rumah. Adinda terkejut melihat interaksi Andra dan adik iparnya. Keduanya seperti anak kecil mereka bertengkar karena Andra mengganggu Ardi yang sedang asik bermain game.

"Bang, awas! Jangan ganggu Ardi nanti bisa kalah! Pergi sana woy!"

"Bocah! Eh nggak bocah lagi yak Ar kan udah kawin."

"Bang! Awas lah! Banggg arghh!"

Namun percuma saja, Andra tidak mengacuhkan permintaan sang adik dan terus mengganggu Ardi.

"Mereka emang masih bocah. Umur mereka cuma bohongan," bisik Bunda Tari sambil terkekeh.

Ini lah sisi lain Andra yang tak pernah dilihat oleh Adinda. Kemana Andra yang kejam dan bermulut tajam bak pisau?

Adinda mengalihkan matanya dan mencari-cari sosok perempuan yang tak pernah berhenti berbicara.

"Nyari Rara ya? Dia masih di rumahnya mungkin nanti sore atau malam baru datang."

"Oh gitu, Bun."

Tiba-tiba saja keluar perempuan cantik dari arah dapur. Adinda tak pernah melihat perempuan itu saat acara ijab kabul kemarin. Tapi perempuan itu terlihat sedikit berantakan. Ada tepung yang menempel di pipinya.

"Ma, itu currosnya yang di goreng udah kecoklatan."

Ma? Andra punya adik perempuan?

"Astaghfirullah! Maaf Mama lupa karena Adinda dateng rupanya urusan dapur belum selesai!" Bunda Tari menepuk dahinya dan berlari kecil ke dapur.

Adinda sedikit bingung harus apa. Apa dia harus berkenalan dengan adiknya Andra juga? Tapi Adinda tak tau harus mulai dari mana.

Andra melirik Adinda yang masih berdiri. Untuk apa perempuan itu disana?

"Capek? Ke kamar aja, kamar saya ada diatas. Entar kamu bisa bedain soalnya di depan pintu ada papan nama saya, Arya ya bukan Andra."

Tak bisakah Andra sebagai tuan rumah mengantarkannya?! Walaupun begitu Adinda tetap berjalan menuju kamar seperti yang dikatakan Andra. Dia memang cukup lelah karena acara membereskan rumah tadi pagi. Bunda Tari memang baik tapi entah mengapa perasaannya adik Andra dan perempuan cantik tadi seperti tak menganggap kehadiran Adinda. Apa mereka tak suka dengan Adinda? Atau hanya perasaan Adinda saja?

Step By Step (Book I)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang