Happy reading
Andra memperhatikan Adinda yang sibuk mondar mandir. Perempuan itu sudah memakai gamis dan hanya tinggal memakai kerudungnya saja. Soal hubungan mereka tidak seperti kemarin. Adinda mulai kembali rewel dan terus protes. Tidak apa-apa bagi Andra itu suatu perkembangan.
"Mau kemana?" Andra menutup buku yang baru saja dia baca. Adinda menghentikan langkahnya dan menoleh pada Andra.
"Kampung Ilmu mau nyari buku buat referensi."
"Sendirian? Nggak ngajak saya?"
Adinda menaikkan kedua alisnya.
"Sendirian lah mau sama siapa lagi? Teman aja saya nggak punya."
"Yaudah kalau gitu sama saya aja."
"Ga usah, Bapak keliatan sibuk banget." Adinda menunjuk buku Andra dengan jarinya.
"Oh ini bisa saya baca nanti. Masih ada waktu juga kan. Sebentar saya siap-siap dulu."
Adinda tak mau protes. Terserah Andra saja toh juga tak ada salahnya laki-laki itu ikut siapa tau dia mau merekomendasikan buku. Jujur Adinda tak begitu mengharapkan Andra meluluskannya karena mereka sepasang suami istri. Adinda hanya ingin Andra memberitahu kesalahan Adinda sehingga Adinda tak perlu pusing karena harus menerka-nerka.
Andra keluar dari kamar dengan pakaian kasualnya. Buat orang-orang yang tidak tau pasti akan mengira Andra seorang mahasiswa.
"Bapak ngapain bawa kamera?"
"Oh ini?" Andra mengangkat kameranya.
"Saya suka foto jalanan terkesan jadul dan cinematic-nya juga dapet. Kamu juga suka foto kan? Nanti sehabis kita beli buku kita keliling aja dulu buat cari spot foto tapi jalan kaki."
Ah! Adinda sangat merindukan dunia fotografi. Dan pastinya dia tidak mau membuang kesempatan ini. Adinda mengangguk dengan semangat.
Tiga buku bekas sudah terbungkus. Benar saja semua buku itu Andra yang merekomendasikan walaupun mereka harus cekcok terlebih dahulu di salah satu depan toko. Membuat mereka jadi bahan perhatian. Sangat memalukan sebenarnya ketika Andra dan Adinda sadar mereka sedang salah tempat. Alhasil mereka pergi dari sana dan berujung menertawakan diri mereka sendiri.
"Kita kebiasaan bertengkar jadi nggak sadar sama tempat."
"Iya Pak. Habisnya Bapak bawaannya ngajak bertengkar terus." Andra mengangkat kedua bahunya lalu kembali berjalan meninggalkan Adinda.
"Pak tungguin! Tau sih punya kaki panjang tapi jalan nggak usah lebar-lebar banget!" gerutu Adinda.
Keduanya mencari objek foto yang pas seperti rencana Andra. Sesekali Andra memotret istrinya itu dari belakang dan ternyata Adinda sadar. Adinda membalikkan badannya lalu berjalan mundur.
"Pak sekali-sekali buat video dong."
"Saya juga lagi --Awas!" Tapi percuma saja, Adinda sudah menabrak seseorang sampai dirinya terduduk. Andra segera berlari mendekati istrinya itu.
"Kamu nggak apa-apa, Din? Maaf Mbak, Is--"
"Andra?" Adinda mengerutkan dahinya. Perempuan yang dia tabrak ternyata mengenal Andra. Siapa gerangan perempuan ini?
"Mai, sorry ya dia udah nabrak kamu." Andra yang meminta maaf karena Adinda tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun.
"Oh nggak apa-apa. Aku juga salah karna nggak fokus. By the way, adik kamu ya?"
Adik? Padahal Andra hanya memiliki satu adik dan itu laki-laki.
"Dia is--"
"Iya, saya adiknya." cepat! - cepat Adinda memotong ucapan Andra membuat laki-laki itu tak habis pikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
Ficción GeneralCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
