Happy reading.
Andra kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Dia tidak mungkin mengambil libur selama lebih dari dua hari dan membiarkan kelasnya kosong.
"Pak Andra. Pak Andra."
Andra menoleh ke kanan. Rekan kerjanya -Pak Iwan yang ternyata memanggilnya.
"Iya Pak?"
"Saya mau bilang sesuatu. Kemaren waktu Bapak nggak hadir, seorang mahasiswi nungguin Bapak seharian disini."
"Mahasiswi? Siapa Pak?" Pak Iwan mengangkat kedua bahunya.
"Saya juga tidak tau tapi dia bilang dia mahasiswi semester 9."
Mahasiswi semester 9? Benar-benar sudah semester sangat tua, pikir Andra.
"Dan juga mahasiswi itu bilang Bapak jadi dosen pembimbing skripsi dia."
Pembimbing? Kemudia Andra jadi teringat. Apa jangan-jangan mahasiswi berantakan itu yang menunggunya?
"Makasih Pak atas infonya."
"Iya Pak sama-sama. Agak kasian dia nungguin Bapak cukup lama, saya juga tidak tau kemaren kalau Pak Andra tidak hadir."
"Iya Pak. Ada seminar di Malang jadi saya kesana kemaren."
Pak Iwan mengangguk dan permisi meninggalkan Andra. Hari ini Andra hanya mengajar satu kelas untuk mata kuliah teknik kamera, suara dan lighting.
"Hari ini kita akan quis," ucap Andra saat bokongnya sudah menempel di kursi. Terdengar beberapa mahasiswa mengucapkan kata 'yah' dan ada juga yang menghela napas pasrah. Quis mendadak memang selalu membuat jantungan.
"Soal quis ini nggak jauh-jauh dari praktik kita minggu lalu. Nilai quis jadi nilai tambahan untuk nilai UAS kalian nanti."
Andra mengeluarkan laptop dari tas ranselnya lalu menghidupkannya.
"Sebelum quis dimulai silahkan seluruh ponsel dikumpul di depan setelah itu saya akan absen dulu."
Dengan wajah cemberut, para mahasiswa Andra mengumpulkan ponsel mereka diatas meja Andra.
"Jangan ada yang menyontek. Kalau pun kalian menyontek itu urusan kalian dan Allah. Tapi saya sangat menyayangkan kalau nilai kalian yang bagus itu ternyata hasil dari kecurangan."
Andra memanggil satu persatu mahasiswanya untuk mengisi absensi. Sampai akhirnya pada satu nama membuat Andra mengernyit karena nama ini baru saja tercantum di kertas absen. Walaupun mahasiswa Andra itu banyak tapi dia bisa menghafalnya, namanya orang pintar jadi ya santuy.
"Adinda Prameswari?"
Andra mencari-cari orang yang memiliki nama yang dia sebut. Namun tak berapa lama seorang gadis mengangkat tangannya. Gadis itu duduk di belakang. Kepalanya menunduk dengan rambut panjang yang menutupi wajah gadis itu sehingga Andra tak dapat melihat jelas.
"Kamu mahasiswa yang mengulang mata kuliah ini ya?"
"Iya Pak," jawab mahasiswi itu.
"Itu rambut kamu bisa diikat tidak? Apa jangan-jangan kamu tidur?"
Gadis itu tak menjawab. Segera dia mengikat rambut panjangnya. Benar dugaan Andra, ternyata mahasiswi itu tertidur tapi sebentar wajahnya sangat familiar.
"Sana kamu basuh dulu wajah kamu." Intonasi suara Andra tidak meninggi tapi menekan. Untuk kesekian kalinya gadis yang bernama Adinda ini membuatnya kesal.
Gadis itu kembali tidak menjawab, dia berdiri dari bangkunya dan melangkahkan kakinya dengan malas.
"Jangan bolos mata kuliah saya sehabis kamu membasuh muka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
Narrativa generaleCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
