21

903 95 12
                                        

Happy reading.

Semua rencana gagal sudah. Andra memandang pintu kamar berwarna cokelat tua masih tertutup. Adinda mengurung dirinya dari kemarin dan perempuan itu bisa mati kelaparan karena tak makan.

Semuanya memang salah Andra. Andai saja dia bisa mengontrol kemarahannya mungkin semua ini tak akan terjadi. Andra berinisiatif untuk memasak semua yang sudah dia beli di warung lalu memberikannya pada Adinda.

Tak ada yang salah dalam masalah ini. Hanya saja mereka sama-sama mengedepankan keegoisan mereka. Andra menggaruk pipinya bingung bagaimana merayu istrinya itu agar tidak merajuk lagi. Pengalamannya akan perempuan sangat lah minim apalagi ini pertengkaran besar mereka yang pertama.

Andra jadi teringat, Adinda meminta cerai. Pernikahan mereka yang masih seumur jagung ini harus kandas? Tidak-tidak! Andra tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi.

Dengan lihai, Andra memotong tempe berbentuk dadu lalu menggorengnya. Ada untungnya dia sering membantu mamanya memasak. Tak perlu waktu yang lama, semuanya sudah selesai. Andra memasak makanan yang sederhana cukup tempe dan ayam goreng ditambah sayur bayam yang direbus, dia juga tidak tau apa makanan kesukaan Adinda.

"Dinda." Andra mengetuk pintu kamar.

"Kamu lebih baik makan udah dari kemarin kamu nggak makan."

Tak ada balasan. Hening. Andra menarik napasnya lalu membuangnya. Dia harus bersabar.

"Makanan saya letak di depan pintu. Jadi kamu bisa makan di kamar tanpa saya." Andra meninggalkan makanan itu di depan pintu.

Andra menghubungi seseorang, ada yang harus dia selesaikan.

"Assalamu'alaikum, Ngga. Aku mau minta bantuan kamu sebentar aja."

***

Adinda menangis senggugukan. Matanya membengkak dan dia tidak peduli akan hal itu. Dia benci Andra! Benci sekali! Laki-laki tak tau diri dan sesuka hatinya saja.

"Kalau tau gini aku nggak akan nerima pernikahan ini hiks."

Dia tidak tau harus bercerita ke siapa. Apa Adinda harus pergi dari sini dan meninggalkan Andra? Tapi ini rumahnya, dia tak tau mau kemana lagi.

Adinda memandangi sajadah yang terletak di keranjang pakaian. Apa akan ada ketenangan bila dia menceritakan semua masalahnya pada Sang Maha Kuasa? Tapi Adinda merasa tak tau diri. Sholatnya saja masih bolong-bolong dan sekarang dia datang kepada Allah dengan hati yang kacau seperti ini.

Adinda kembali menimang. Bismillah, ucapnya pelan. Adinda memeriksa jam di ponselnya untung lah sudah memasuki waktu dzuhur. Akhirnya Adinda memilih keluar kamar untuk mengambil wudhu.

Dia terkejut ketika membuka pintu, masih ada piring berisikan nasi, tempe dan ayam goreng teronggok disana. Apakah makanan ini dimasak oleh laki-laki itu? Ah sudah lah, Adinda tidak peduli dan membiarkan makanan itu begitu saja. Dia tidak lapar.


Dan juga rumah tampak sepi. Bagus lah pasti Andra pergi ntah kemana, pokoknya Adinda tidak peduli apapun urusan laki-laki itu!

Saat Adinda selesai berwudhu, pintu rumah seperti akan terbuka. Buru-buru Adinda mengambil handuk untuk menutup rambutnya takut bukan Andra yang datang bisa saja maling. Langkahnya berhenti saat tau siapa gerangan yang membuka pintu itu. Andra dan temannya, tangan mereka memegang dua kaleng cat tembok.

"Udah dimakan makanannya?" tanya Andra namun Adinda menundukkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya dan masuk ke kamar. Mengabaikan Andra dengan pertanyaannya.

Step By Step (Book I)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang