Happy reading
Aurora mengetuk pintu kamar adiknya. Walau dia tau tak ada adiknya yang menyebalkan itu disana tetapi masih ada adik iparnya. Namun tak ada jawaban, akhirnya Aurora membuka pintu kamar itu dan ternyata Adinda tertidur diatas meja belajar Andra dengan laptop yang terbuka.
Aurora pikir Adinda ketiduran karena kelelahan mengerjakan skripsi tetapi nyatanya laptop Adinda malah menampilkan pesan email. Dari Andra.
Aurora tersenyum namun senyumnya itu menghilang dalam sekejap. Dia tau bagaimana sikap adiknya itu yang terlalu ambisius dalam belajar hingga membuat Andra seperti menghilang tanpa kabar. Terakhir Andra memberi kabar itu setelah dia sampai di Inggris lalu tak ada kabar lagi. Aurora yakin Andra pasti membuat hal yang sama terhadap Adinda. Hidup jarak jauh tanpa berkomunikasi? Ayo lah. Aurora bukan bermaksud menyamakan ceritanya dengan cerita adiknya tetapi masalah rumah tangga itu harus memiliki komunikasi yang baik. Bagaimana jika disini terjadi sesuatu? Dan Andra tidak dapat dihubungi. Bukan. Aurora bukan mendoakan yang tidak baik untuk keluarganya. Jangan sampai! Aurora pun tidak mau.
Aurora melihat jam dinding, masih pukul 10 malam. Berarti di Inggris masih pukul 4 sore kan? Aurora mengambil selimut lalu menyelimuti Adinda. Dia tak mungkin membangunkan Adinda yang sudah tertidur pulas.
Aurora keluar kamar dan pergi ke ruang tamu. Untungnya ruang tamu sudah sepi, kedua orang tuanya pasti sudah tidur dan suaminya bersama kedua anaknya juga di dalam kamar. Aurora menghubungi seseorang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Apa?" Aurora berdecak.
"Nggak bisa apa kamu ngehubungi rumah atau istrimu? Harus banget kami yang disini ngehubungi kamu lebih dulu, Yak?" Langsung saja Aurora menembak Andra.
"Aku sibuk Mbak dengan tugas-tugasku."
"Memangnya kamu nggak punya hari libur? Arya! Satu hari ini 24 jam, nggak bisa kamu membagi waktumu itu untuk keluargamu? Untuk istrimu?"
"Tapi Mbak. Aku disini juga pengen cepat balik makanya aku fokus ngerjain semuanya."Aurora menggeleng. Kebiasaan adiknya ini salah, tidak semua yang menurut kita baik itu akan baik.
"Fokus bukan berarti menutup semua komunikasi, Ya. Sesekali kamu harus kasih kabar. Bagaimana kami bisa tau kamu ada apa-apa disana? Bagaimana kamu bisa tau kalau disini ada musibah atau gimana?"
"Mbak kok ngomong gitu? Hati-hati Mbak kalau ngomong itu bisa jadi doa."
"Aku pun nggak mau tapi aku berharap kamu merubah sifat ambisiusmu itu silahkan belajar tapi ingat kamu punya keluarga kamu sekarang punya istri. Kamu pikir Adinda nggak capek mikir kamu disana bagaimana? Mungkin bukan mikirin urusan selingkuh atau ada pelakor tapi kesehatan kamu, makanan kamu gimana. Aku yakin dia pasti mikirin itu semua." Aurora menghela napasnya.
"Jangan egois, Ya. Nggak semua rencana kamu itu benar, ada waktunya kamu harus mengerti perasaan orang lain. Disana kamu dua tahun dan itu lama bahkan bisa punya dua anak."
***
Adinda terbangun. Ah lagi-lagi dirinya ketiduran dan lehernya pun mulai terasa sakit. Selama empat hari ini dia hanya tertidur dua atau tiga jam. Adinda berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya lalu mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.
Rasanya dia sangat lelah. Bukan lelah fisiknya tetapi lelah di pikiran. Dia tak bisa mengeluarkan semuanya, dia hanya bisa menceritakan semua kelelahannya pada Allah. Dia yang terkadang suka kesal dengan dirinya sendiri yang terlalu gengsi untuk menanyakan kabar. Dia terlalu sering berpikir tidak becus menjadi seorang istri. Dia yang sering berpikir, bagaimana dirinya untuk ke depan? Dua tahun? Dia harus seperti ini untuk dua tahun ke depan? Diikat dengan status pernikahan tetapi seakan itu hanya lah status, tak lebih. Jadi apa gunanya dia disini? Pikiran itu selalu berputar di dalam benaknya.
Selesai shalat, Adinda kembali mengecek emailnya. Tak ada lagi balasan dari Andra. Ya sudah lah. Karena yakin dirinya tak akan bisa tertidur lagi, akhirnya Adinda melanjutkan skripsinya. Agar semuanya cepat selesai dan setidaknya dia bisa mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya.
Namun sayangnya, dia benar-benar tidak bisa berpikir saat ini. Skripsi dan Andra, dua hal yang berbeda tapi berhubungan. Dan keduanya membuat Adinda pusing.
Hingga akhirnya, setelah menyelesaikan shalat subuh Adinda berjalan ke dapur membantu ibu mertuanya memasak. Ternyata bukan hanya Bunda Tari disana tetapi Aurora juga. Kakak iparnya itu memang menginap di rumah mertuanya beberapa hari ini.
"Eh udah bangun?"
"Iya, Mbak."
"Mukanya kok lesu banget sih Din? Liat tuh Bunda bisa liat ada lingkaran hitam di bawah matamu."
"Beberapa hari ini susah tidur Bun. Paling tidurnya dua atau tiga jam gitu."
"Cie. Lagi sibuk skripsi atau sibuk mikirin Arya yang jauh di mata?" goda Aurora. Merindukan Andra? Ya enggak lah! Batin Adinda.
"Rara jangan godain adik iparmu."
"Malah bagus Mbak kalau Kak Andra nggak ada kita jarang berantem lagi," sanggah Adinda.
"Iya juga ya. Tapi kamu kangen kan berantem sama Andra?"
Adinda menghela napasnya. Aurora tidak berhenti menggodanya.
"Sudah-sudah. Ayo kita masak sarapan dulu biar bisa makan. Kairo juga jangan lupa dibangunin, Ra! Ntar dia telat lagi ke bandara."
"Eh iya! Rara lupak!" Aurora menepuk jidatnya.
Adinda berterima kasih pada Bunda Tari karena menghentikan Aurora yang menggodanya. Jelas Adinda tidak merindukan Andra. Hanya saja dia merasa kosong. Itu saja nggak lebih.
"Belum ada dihubungin Arya sampai sekarang?"
"Belum ada Bun. Mungkin sibuk kali sama tugas-tugasnya. Tau sendiri kan Bun gimana Pak eh maksudnya Kak Andra belajar. Nggak bisa diganggu."
"Tapi nggak boleh gitu juga. Kebiasaan ini yang selalu buat bunda sebel sama Arya."
Sebenarnya Adinda juga sama. Seakan belajar itu menjadi lawan untuknya. Eh sebentar maksudnya apa ya? Lawan bagaimana?
"Terus kamu nggak ngehubungi Andra?"
"Kak Andra bilang dia mau fokus belajar jadi bakal sulit dihubungi."
"Dasar bocah itu. Ya udah, biar kamu nggak suntuk-suntuk banget di rumah nanti jalan-jalan sama Mbak Rara."
Adinda mengacungkan kedua jempolnya.
***
"Yah Hara malah bobo. Mbak disini aja boleh nggak? Jagain Hara."
"Nggak apa-apa kok Mbak. Biar Didin sendiri aja. Udah lama juga nggak kesini berasa jadi paling jahat sedunia."
"Mau gimana lagi namanya kamu juga sibuk kan."
Adinda keluar dari mobil dan berjalan ke arah dua batu nisa yang saling berdampingan. Adinda sedih karena dia selalu lupa untuk mengajak Andra bertemu kedua orang tuanya dan sekarang laki-laki itu malah pergi.
Tetapi Adinda cukup terkejut melihat dua buket bunga yang sudah mengering berada di atas tanah pemakaman kedua orang tuanya. Perasaan Adinda cuma dirinya yang tau dan sering mengunjungi pemakaman kedua orang tuanya. Siapa yang datang kemari? Rasanya tidak mungkin Om Romi jauh-jauh datang kesini. Dan tidak mungkin juga saudara Adinda karena jelas Adinda seorang anak tunggal. Jadi siapa yang menaruh buket bunga ini?
***
Siapa? Ada yang bisa nebak?
Btw makasih untuk 170K dan like 10.7K buat cerita Aurora dan Kairo. Aku tidak menyangka bakal banyak yang suka cerita mereka padahal cerita mereka tidak terkonsep wkwk da bes lah ah klean ini sangat keren bagi aku writer yg tidak profesional ini😭😭😭. Dah ye luv. Mangat euy untuk ramadhan ini, bentar lagi ramadhan mau selesai euy. Ga kerasa😭❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
General FictionCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
