Happy reading.
Adinda mengurut dahinya dan berulang kali pula berdecak ketika melihat hasil yang di tunggu-tunggu.
"Kamu ngapain di dalam?" teriak seseorang dari luar kamar mandi.
Adinda menghembuskan napasnya kasar lalu membuka pintu sedikit kasar. Ia memejamkan matanya sejenak lalu memberikan benda panjang yang ia genggam sedari tadi.
"Nih!" Adinda memberikan benda itu pada Andra. Laki-laki mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Apa ini?" Andra menatap benda panjang itu dan Adinda bergantian.
"Pak! Aku kan udah bilang mending ditunda aja. Kita masih lama di sini. Masih setahun lagi sampai Bapak lulus."
Setelah wisuda lima bulan yang lalu, akhirnya Adinda harus ikut dengan Andra ke Inggris. Awalnya Adinda menolak dan lagi-lagi berdebat dengan Andra tapi sayangnya Andra tetap lah menjadi pemenang.
"Aku bukan orang kaya yang bisa bolak-balik Inggris Indonesia dengan mudahnya. Ini juga aku datang ke wisuda kamu harus ngumpulin duit dulu. Lebih baik kamu ikut daripada sibuk nungguin kabar aku."
"Tapi aku nggak bisa ngomong Bahasa Inggris. Gimana nanti aku bisa berkomunikasi sama orang lain disana? Terus waktu belanja sendiri juga! Aku harus ngomong apa sama kasirnya?"
"Kamu kayak hafal jalanan disana aja pake sok-sokan belanja sendirian. Belanjanya nanti sama aku."
Dan akhirnya Adinda pun mengalah. Adinda pikir setelah lulus kuliah dia bisa menenangkan pikirannya terlebih dahulu namun sayang dia sadar dia memiliki suami yang selalu membuatnya naik darah.
"Aku bukan Bapak kamu dan bukan lagi dosen kamu, Adinda. Aku nggak paham maksud kamu apa sih?"
"Hah. Katanya pinter tapi gini aja nggak tau." Adinda berbicara sendiri.
"Saya hamil, Kak. Ha.mil." Jangan harap ada adegan pelukan hangat diantara mereka. Andra hanya menaikkan kedua alisnya entah itu terkejut atau memang sengaja. Entah lah.
"Bagus dong," hanya kalimat itu yang muncul dari mulut Andra.
"Bagus? Bagus apanya! Biaya di Inggris tuh mahal buat lahiran. Belum lagi biaya makan kita berdua, biaya apartemen ini, terus kalau ditambah biaya kelahiran anak ini gimana? Kita mau makan apa, Kak?!"
"Anak kita," Andra memperbaiki kalimat Adinda.
"Jadi kamu nggak terima rezeki yang dikasih Allah?"
"Ng-nggak gitu juga, Kak. Tapi aku belum siap aja, pengeluaran kita selama di Inggris banyak banget. Nggak mungkin juga aku melahirkan setelah Kakak lulus ya kali aku mengandung dua belas bulan."
"Tenang aja soal biaya pasti ada. Kamu nggak inget setiap badan punya rezekinya masing-masing termasuk rezeki anak kita, Allah udah pasti tetapin. Lagian aku juga ngajar kelas fotografi di sini lumayan uangnya."
"Kok Kakak nggak bilang tentang kelas fotografi itu?"
"Karna kalau aku bilang, aku yakin kamu pasti mau join. Aku ngajarin khusus untuk cowok nggak mungkin kamu cewek sendirian."
"Yah!" Adinda sedikit kecewa. Padahal dia rindu sekali dengan fotografi dan sedikit merasa bosan harus di apartemen sendirian. Jangan harapkan Andra menemaninya karena suaminya selalu sibuk belajar.
"Besok aku libur, kita jalan-jalan keliling kota buat nyari spot foto," kata Andra tiba-tiba membuat Adinda kembali semangat setelah tadinya dikecewakan.
"Serius!?" Andra mengangguk sambil melanjutkan tugasnya. Adinda berteriak heboh. Kota Leeds -kota yang memang jarang Adinda dengar tetapi setelah mencari tau melalui internet ternyata begitu banyak tempat unik disana. Adinda harus memanfaatkan hari esok sepuasnya! Sejenak dia lupa dengan kehamilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
General FictionCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
