16

899 88 10
                                        

Happy Reading

Adinda sibuk mondar-mandir lalu berlari ke arah jendela untuk mengintip mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dia bersyukur karena tidak berada di rumah, tempat Bu Lastri adalah tempat teraman untuknya.

"Kenapa sih dari tadi mondar-mandir?" Bu Lastri mengernyit melihat Adinda seperti ketakutan.

"Sstt jangan kenceng-kenceng Buk. Om datang kesini terus nungguin dari tadi."

Bu Lastri menghela napasnya padahal Romi –Paman Adinda itu adalah orang yang baik ya mungkin memang terlihat galak.

"Kenapa Din kamu nggak mau ketemu Om mu itu?"

"Didin nggak mau ikut sama Om Romi ke Jember. Didin tuh ah tau deh Buk nggak suka aja sama istrinya."

"Makanya selalu nolak untuk tinggal sama dia?" Adinda mengangguk layaknya anak kecil.

"Kalau gitu terima aja lamaran Andra. Terus kamu nggak akan dipaksa buat tinggal sama Romi. Beres kan?"

Menikah dengan Andra? Sepertinya itu akan menjadi mimpi yang lebih buruk lagi ketimbang tinggal bersama dengan Romi. Bagaimana jika mamanya Andra bukan orang baik? Bagaimana jika. Agh! Banyak bagaimananya, pikir Adinda.

"Didin sayang. Ibu tau seberat apapun hidup kamu, rasa sakit kamu, tapi tak semuanya seperti bayangan kamu sayang." Bu Lastri mengusap rambut Adinda. Bu Lastri paham ketakutan apa yang merundung pikiran Adinda. Hidup tanpa kedua orang tua membuat Adinda merasa harus bertahan sendiri tanpa bantuan tapi itu adalah kesalahan. Manusia adalah makhluk sosial bagaimana pun kita tetap membutuhkan bantuan orang lain. Bukan hanya membutuhkan tetapi juga dibutuhkan oleh orang lain.

"Gimana kalau Andra itu bukan orang baik Buk? Gimana nanti kalau Adinda beneran menikah sama dia, hidup Adinda terkekang terus keluarganya nggak suka sama Adinda?"

"Memangnya kamu tau ke depannya bagaimana? Kita ini manusia yang cuma tau kejadian kemarin bukan kejadian besok."

Bu Lastri menggenggam tangan Adinda.

"Didin, Ibu bisa liat kalau Andra itu benar-benar ingin menjaga kamu. Jika hatimu belum yakin berdoa sama Allah, ceritain semuanya."

Adinda merasa bingung. Sebenarnya dia belum siap untuk semua ini. Seorang anak yatim piatu sepertinya tiba-tiba saja berubah status menjadi istri orang lain tak pernah terpikir sedikit pun olehnya.

"Jadi aku harus gimana Buk? Rasanya posisiku ini serba salah."

"Nggak kok. Posisi kamu nggak serba salah. Kamu hanya harus berdoa sama Allah, benarkah Andra itu pilihan terbaik. Itu aja jangan mikirin yang lain-lain ya." Adinda mengangguk. Pikirannya itu memang sangat mengganggu.

***

"Mama!" Tari yang sedang menonton televisi mendadak terkejut saat mendapat pelukan dari putranya itu.

"Arya! Ngejutin aja!" Andra menyengir.

"Hehe maaf Ma. Mama tau nggak kalau hari ini kerennn banget." Tari menoleh pada Andra.

"Nggak tau deh Ma. Rasanya Arya pengen selalu ngerasain hal yang kayak gini."

"Kamu langsung ke intinya aja deh. Panjang banget dari tadi mama nggak paham kamu ngomong apa."

"Pokoknya tuh ya saat Arya sadar dengan sesuatu hal yang tak terduga dan itu menjadi hal yang 'wow it's amazing' gitu Ma."

Tari berdecak anaknya itu ngawur apa bagaimana dari tadi ngomong yang tidak jelas. Andra sedang tidak kesurupan kan?

"Ngomong yang jelas Arya!"

"Ma! Arya tadi ketemu sama Omnya Adinda!."

Tari yang tadinya sewot berubah menjadi excited. Tari merubah posisi duduknya menjadi menghadap putranya itu.

Step By Step (Book I)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang