Happy reading.
Hari ini adalah hari terakhir Adinda melakukan penelitian. Tak ada acara perpisahan karena Adinda yang meminta dan semua tim berteriak lesu.
"Sayang sekali kalau nggak ada acara perpisahan padahal semua tim disini berharap," kata Angga.
"Nggak perlu Bang. Aku disini cuma penelitian dan bukannya membantu malah terkadang membebani pekerjaan kalian."
"Wah! Siapa bilang? Aku ngerasa kamu memang cocok dengan Andra. Hasil foto kalian benar-benar keren setelah lulus kuliah, studio ini terbuka untuk menerima kamu sebagai anggota tim kami."
Angga pernah menyuruh Adinda untuk menggantikan tugas salah satu anggotanya yang tidak hadir dan hasilnya bagus.
Adinda menanggapinya dengan senyuman. Bekerja di sebuah studio? Benar-benar impiannya sekali! Dulu dia hanya lah seorang fotografer keliling dan sekarang bisa menjadi fotografer yang bekerja di sebuah studio? Pasti sangat lah keren! Tapi..
"Aku belum bisa janji Bang. Kalau Kak Andra nggak memberi izin, pasti aku nggak bisa gabung."
"Ah! Memang si Andra itu! Dia dulu juga menolak untuk bekerja sama denganku dan sekarang malah istrinya juga menolak."
Angga mengurut dahinya.
"Coba aja dulu rayu dia buat ngijinin kamu kerja di sini. Kamu yakin nggak mau bekerja di studio ini? Walaupun saya tau studio ini tidak besar."
Angga berbohong. Studio milik Angga termasuk studio yang besar. Peralatannya juga lengkap. Sisi hati Adinda sangat menginginkan dirinya bisa bekerja disini. Tapi di sisi lain, dia harus mendiskusikannya dengan Andra. Ah tapi bagaimana bisa? Pesan email saja, Andra membalasnya seminggu sekali itu juga sesekali. Tidak semua pesan Adinda laki-laki itu balas. Sungguh menyebalkan! Bagaimana dengan skripsinya nanti? Setelah semuanya selesai, Adinda pulang dengan transportasi umum. Tidak mungkin dia meminta Aurora untuk menjemputnya. Rasanya tidak sopan sekali.
Setelah ini dia harus ngebut mengerjakan laporan penelitian dan Bab empat lalu mengirimkannya pada Andra. Semoga saja laki-laki itu tidak sibuk hari ini dan bisa memeriksa skripsinya!
Soal buket bunga di makam kedua orang tuanya itu. Adinda mencoba untuk mengabaikannya dan tidak mencari tau. Mungkin orang yang meletakkan buket itu salah mengira dan berpikir makam kedua orang tua adinda itu makam sanak saudaranya.
Dan juga bunga-bunga itu sudah sangat kering berarti sudah sangat lama bunga itu disana? Ah kenapa Adinda malah memikirkan itu! Jelas dia ingin melupakannya dan berterima kasih karena sudah memberikan bunga pada kedua orang tuanya.
"Gimana tadi nggak ada acara perpisahan?" tanya Bunda Tari. Keduanya duduk di ruang tamu, Adinda sudah menganggap Bunda Tari seperti ibunya sendiri pun tak segan menyandarkan kepalanya di pundak Bunda Tari.
"Didin nggak mau, Bun. Nggak suka aja kalau liat cowok cewek gabung dalam satu acara rasanya risih liatnya."
Bunda Tari menepuk tangan Adinda.
"Dalam Islam juga nggak ngebolehin bergabung seperti itu. Alhamdulillah kalau kamunya yang nggak mau."
"Iya Bun. Aku bener bener bersyukur dan menyesal."
"Loh nyesalnya kenapa?"
"Aku nyesel karena baru tau aturan-aturan Islam tentang kehidupan sehari-hari. Kak Andra juga pernah jelasin walaupun nggak detail sih tentang mahrom. Aku baru tau kalau sepupu dan adik atau kakak ipar itu bukan mahrom."
Bunda Tari tertawa. Memang sangat di sayangkan untuk di jaman sekarang banyak kebenaran Islam yang terkubur hingga membuat generasi muda tak paham akan agama mereka sendiri. Atau mungkin tahu tapi mengabaikannya dengan alasan-alasan selogis mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step By Step (Book I)
General FictionCERITA MAINSTREAM Jika soal berpacaran dengan tegas Andra akan mengatakan tidak. Andra lebih memilih bukunya daripada makhluk rewel bernama perempuan. Sampai pada akhirnya Ardian, adiknya meminta ijin padanya untuk menikah lebih dulu.
