10

947 88 12
                                        

Happy reading

Adinda membersihkan meja dan juga membereskan kursi-kursi yang berserakan. Piring kotor sudah dia cuci jadi semua pekerjaannya benar-benar selesai. Rumah makan tempatnya bekerja memang hanya buka hingga sore hari saja.

"Didin, di dapur ada makanan sisa. Kamu tidak mau bawa seperti biasanya?"

"Boleh, Pak Bos. Makasih banget ya Pak Bos."

Kesekian kalinya Adinda syukuri. Dia mendapatkan bos yang dermawan walau terlihat tegas. Jangan bayangkan bosnya itu adalah sosok laki-laki muda seperti novel-novel pada umumnya. Bosnya itu seorang laki-laki tua yang lebih pantas menjadi seorang ayah untuk Adinda.

Ah, Adinda jadi merindukan almarhum ayahnya.

"Mending besok ketemu ayah hehehe."

Adinda berjalan menuju ke dapur namun saat kakinya hendak masuk dia mendengarkan pembicaraan beberapa karyawan karena hanya tiga suara yang terdengar.

"Gila tuh si Adinda. Murahan banget jadi cewek."

"Tadi tuh waktu ada satu pelanggan cowok yang ngaku dosennya dia. Rasaku sih itu bukan dosennya mungkin laki-laki simpanan si Adinda kali ya?"

Suara itu suara Herman. Laki-laki itu membicarakan Adinda dibelakang? Bisa-bisanya Herman memfitnah Adinda. Adinda tak bisa membiarkannya!

"Terus juga Bos sering tuh ngasih makanan sisa ke dia. Pake pelet apa coba si Adinda? Aku kerja lama disini aja nggak pernah bawa maka–."

Adinda masuk mengabaikan orang-orang membicarakannya seakan tak ada orang disana. benar dugaannya ada tiga karyawan disana ada Herman, Kak Sheri dan Bang Aldo. Adinda berusaha menahan emosinya kalau tidak, mungkin dapur dan seisinya sudah terbalik dibuat olehnya.

Ketiga manusia itu terdiam saat melihat orang yang mereka bicarakan ternyata sudah ada dihadapan mereka.

"Wah karyawan emas si Bos ada disini," ucap Herman dengan senyuman miring.

"Kamu pake susuk apa sih Din sampe bisa begitu Pak Bos ke kamu?"

Adinda yang tadinya sedang membereskan barang-barangnya menoleh dan menatap tajam Herman. Apa mau laki-laki itu? Kemarin laki-laki itu menggodanya dan sekarang memojokkannya?

"Jaga mulut kamu ya Man. Laki-laki tapi bermulut seperti perempuan."

Herman terkejut dia pikir Adinda hanya akan mengabaikannya seperti biasa. Namun ternyata tidak dan Herman merasa kesal harga dirinya terinjak karena disamakan dengan perempuan.

"Enak aja! Berani-beraninya kamu menyamakanku dengan perempuan! Dasar karyawan tak tau diri masih baru tapi sudah berlagak!"

"Sudah Man sudah. Nanti Pak Bos denger bisa habis kita semua," Kak Sheri mencoba menengahi. Adinda tak takut dia malah tersenyum miring.

"Cih jangan harap aku takut padamu. Lihat saja semua bisa berbalik kepadamu Herman."

Adinda menyandang tas ranselnya dan pergi meninggalkan ketiganya tetapi rasa sakit hatinya masih sangat terasa. Dia bukan perempuan murahan! Begitu sulitnya kah menjadi seorang perempuan dengan kondisi sebagai anak yatim piatu dan...sendirian seperti dirinya? Adinda butuh rumah. Rumah yang bisa menerimanya, menjadi tempat dia berkeluh kesah, tempat dia tak sendirian menghadapi dunia fana ini. Adinda mengusap matanya yang sudah basah. Dasar perempuan cengeng, batin Adinda. Adinda keluar dari rumah makan itu dengan kepala menunduk sehingga orang-orang tak bisa melihat dirinya menangis.

"Assalamu'alaikum. Adinda kan?"

Adinda terkejut dia menegakkan kepalanya. Dihadapannya seorang perempuan cantik berkerudung panjang. Siapa perempuan ini? Bagaimana bisa perempuan ini mengetahui namanya?

Step By Step (Book I)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang