Riuh teput tangan bercampur dengan suara sorak menyorak menggelegar mengisi ruang kesenian yang awal nya hanya mempersilahkan satu orang yang berbicara dengan mic di tangan nya.
"Kakak harap kalian bisa memerankan peran kalian dengan sangat baik dan maskimal kedepan nya.." ucap seorang wanita dengan senyum manis nya menatap ke arah ku dan beberapa murid yang berjejer di sebelah kanan dan kiri ku.
Kami tersenyum, membungkukkan badannya sopan seraya mengucapkan kata terima kasih.
"Baiklah kita istirahat sebentar, tiga puluh menit lagi kita kembali berkumpul. Mengerti?"
"Siap, mengerti.."
Jawab kami bersamaan.
Tepat setelah nya wanita yang berusia dua puluh tahunan yang menjabat sebagai pelatih kami pun keluar dari ruang kesenian.
Pun, murid murid yang awal nya tenang sekarang mulai beranjak pergi entah kemana.
Aku turun dari atas panggung yang sudah dua puluh menit kupijaki, mengarahkan tungkai ku pada tas ransel yang berada di ujung ruangan dan meneguk air mineral yang baru saja ku keluarkan dari dalam tas.
"Sudah kubilang kan, jika kau pantas mendapatkan peran Cinderella." Kembali, suara berat seseorang masuk ke dalam indera pendengaran ku.
Fokus ku beralih pada nya.
Tersenyum ramah, dengan tangan yang sibuk menutup botol minum.
"Terima kasih.. ngomong ngomong, selamat juga atas terpilih nya kau sebagai pangeran." Ucap ku seraya terkikik.
Tepat beberapa menit yang lalu aku berhasil menyelesaikan adegan drama ku. Dimana semua murid diuji siapa yang akan menjadi pemeran utama, yaitu Cinderella, pangeran, Alice, Jullie, dan beberapa pemeran penting lain nya.
Takut dan gugup. Itulah perasaan yang kurasakan saat berada di atas panggung. Seakan seluruh sorot mata menatap ku dengan pandangan mematikan. Tapi aku bersyukur aku bisa melewati nya dengan santai dan penuh percaya diri. Hingga diakhir pengumuman nama ku dan aldhra terpilih menjadi pemeran utama, dalam drama dongeng tersebut.
Aldhra, pemuda itu balik tersenyum padaku. Mengacak surai sebahu milik ku seraya berkata, "terima kasih.."
Entah mengapa aku merasa pipi ku menjadi panas seketika. Jantung ku berdetak cepat seakan ingin meledak.
"A..apa yang kau lakukan?" Tanya ku terkejut dengan menyingkirkan tangan nya pelan dari puncak kepala ku.
Dia terkekeh, "kau sangat lucu jika sedang terkejut.."
Sial! Ada apa dengan ku?
Aku mengalihkan pandangan, menatap ke sekeliling aula yang menyisahkan beberapa murid yang sedang berkumpul di sisi ruangan.
"Uhm.. bagaimana jika kita latihan bersama? Ini pasti akan seru. dan juga, kita kan menjadi pemeran utama dalam cerita ini.."
Mau tidak mau aku harus memfokuskan kembali atensi ku padanya. Berdehem singkat lalu menjawab, "Idemu.. tidak buruk.."
***
Menghela nafas panjang kemudian meneguk sisa air mineral yang kurang dari setengah di dalam botol, aku menyandarkan bahu ku pada dinding yang menjulang kokoh di belakang ku.
Tangan ku masih setia memencet tombol on pada ponsel ku. Karena selama latihan aku memang sengaja mematikan nya agar aku tidak terganggu.
"Pulang naik apa?"
Suara berat itu lagi, masuk ke dalam gendang telinga ku entah untuk keberapa kalinya dalam seharian ini.
Aku mendongak menatap aldhra yang hendak berjongkok untuk menyesuaikan tinggi badan kami karena posisi ku yang sedang duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gflows
Teen Fiction[COMPLETED] "We will really be together again someday ... with enthusiasm ... and also meet our idol one day" Pertemuan yang tidak pernah ku duga dalam hidup ku. Memiliki empat orang sahabat, yang mengubah arah pandang dan kehidupan ku.. pertama san...
