10. hukuman

41 14 0
                                        

Aku dan teman teman ku berdiri sejajar, dengan kaki sebelah kanan di angkat, dan yang sebelah kiri menyentuh lantai. kedua tangan disilangkan dan menjewer kedua telinga. Aku sangat lelah entah sudah berapa lama aku  ini, seingat ku sudah hampir satu jam lebih.

Aku kemudian menatap ke depan, melihat bu selmi yang sedari tadi mengoceh dan memarahi kami habis habisan.

"Ada apa dengan kalian? Kalian tahu, kalian sudah melakukan kesalahan sebanyak dua kali.. dua kali!" Kami memejamkan mata kami, mendengar suara nyaring nya yang seperti merusak gendang telinga.

"Huftt.." terdengar, suara helaan nafas darinya.sebelum ia kembali melanjutkan ceramah panjang nya.
"Kalian tahu, kalian itu perempuan, kalian tidak bisa begini, jangan membuat harga diri perempuan jatuh. Ibu juga malu sebagai perempuan.
Dan juga, ini ibu sita. Karena ini kalian membolos jam pelajaran." Ucap nya dengan mengambil sesuatu dari kantung nya dan memperlihatkan nya pada kami.

Kami pun kembali membelalakkan mata kami sempurna, itu kunci rooftop. Jika itu di sita, lalu bagaimana dengan basecamp kami?
"Bu.. tolong jangan sita kunci itu, kumohon.." ucap Annisa yang sudah menurunkan kaki dan tangan nya.

"B..benar Bu, jangan sita it--"    "diam! Dan kembali ke posisi awal kalian." Ucap Bu selmi memotong ucapan.

Dengan cepat kami segera kembali ke posisi awal. Sepertinya memang tidak ada harapan untuk kunci itu lagi.

"Jika kalian melakukan hal ini lagi, maka ibu akan memanggil orang tua kalian, kalian paham?" Kami mengangguk. merasa sedikit lega karena orang tua kami tidak akan di panggil.
"Tetapi, karena kalian sudah melakukan kesalahan Maka ibu akan tetap menghukum kalian.."

Aku kembali membulatkan mataku, bagaimana jika itu bersih bersih toilet, oh tidak!! Aku tidak siap untuk membersihkan tempat terkutuk itu lagi..

"B..Bu, kami akan melakukan hukuman apapun asal jangan membersihkan toilet.. kumohon.." ucap ku yang telah mengubah posisi ku menjadi seperti memohon.

Bu selmi diam sebentar,
"Baiklah, sepulang sejahtera bersihkan lapangan ini sampai bersih, kalian tidak akan boleh pulang jika lapangan ini belum bersih,besok ibu akan mengevakuasi nya sendiri. Jika lapangan nya masih saja kotor, maka ibu akan menambah hukuman yang lebih berat mengerti?!" Setelah mengucapkan kata kata nya itu, Bu selmi melenggang keluar ruangan. Menyisakan aku dan teman teman ku yang menganga tak percaya.

"Lapangan?!, Oh tidak!! Lebih baik aku membersihkan toilet dari pada lapangan, kalian tahu sendiri kan jika lapangan sekolah ini sangat luas dan besar!!" Ucap Dinda dan berlutut seketika. Aku masih terdiam mencoba mencerna kata kata Bu selmi tadi, lapangan.. kalian tahu luas lapangan itu lima kali lebih besar dari toilet laki laki, toilet perempuan, dan toilet guru jika di gabungkan. Sangat luas dan besar.

"Yah, berhentilah mengeluh dan lakukan saja. Ini sudah terlanjur, aku juga akan memilih membersihkan lapangan itu daripada membersihkan toilet dan bertemu dengan hewan sialan itu lagi." Sambung bheby.

"Lo bener, sekarang berdirilah, jangan liatin dengan jelas kalo lo orang lebay" ucap Annisa menendang pelan kaki Dinda.

***

Aku dan teman teman ku mulai menyapu lapangan yang sangat luas ini, baru saja. Karena bel pulang sekolah telah  berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Setelah mendengar bel kami langsung ke gudang tempat penyimpanan dan mengambil alat alat kebersihan dan segera menuju lapangan. Saat kami sedang membersihkan lapangan ini cukup banyak siswa yang menatap ke arah kami, Heran? Seperti kami adalah hal baru dan unik untuk dilihat.

Saat sedang menyapu dedaunan kering, seseorang entah sengaja atau tidak menendang dedaunan yang tahu tertumpuk rapi itu, hingga kembali menjadi berantakan dan berserakan di mana mana. Sontak aku dan yang lainnya langsung melihat ke arah suara tersebut. Terlihat Rina dan retty tertawa terbahak bahak akibat perbuatan yang kuyakini adalah perbuatan mereka.

GflowsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang