Waktu berlalu sangat cepat, tidak terasa semua ujian akhir dan juga perpisahan pada sekolah menengah pertama ini berakhir dengan cepat pula. Menuju jenjang baru yang akan mengantar mereka pada sebuah pintu menuju masa depan. Begitu juga dengan kelima kelima gadis yang mempunyai cita cita mereka masing masing.
Hari ini kelimanya berencana untuk pergi ke sekolah kejuruan untuk mengumpulkan formulir pendaftaran karena sebentar lagi, tahun ajaran baru akan segera di mulai. Mereka sangat antusias saat mengisi formulir, berharap besar jika mereka bisa di terima di sekolah itu bersama, ya bersama. Karena dari awal mereka sudah sangat nyaman satu sama lain. Mereka tak ingin berpisah.
"Gimana, Andin jawab telfon Lo?" Jawab Annisa seraya menyisir rambut nya yang sudah tak karuan bentuk nya lagi akibat lama menunggu andin. Mereka berempat sekarang sedang berada di kamar bheby, mereka memang sudah berencana untuk berkumpul di sini dan pergi bersama, namun sepertinya Andin mempunyai kendala hari ini.
"Andin kemana sih-" "hadir!" Suara khas Andin melengking dari pintu kamar bheby, membuat keempat gadis tersebut bernafas lega.
"Dari mana aja? Udah telat nih." Dinda menimpali.
Sedangkan Andin hanya bisa tersenyum menawarkan deretan gigi putih nya. "Hehe..maaf tadi soal nya macet."
"Yaudah dari pada berantem mending kita langsung berangkat aja, takut nanti sekolah nya tutup." Lagi lagi bhbey yang melerai saat pertengkaran konyol sudah menjadi akhir pertemuan mereka.
***
Setelah sampai di sana mereka langsung mengumpulkan formulir sesuai dengan jurusan yang mereka ambil masing masing, bheby mendaftar di jurusan tata busana, Dinda di jurusan tata boga, Annisa dan Olivia di jurusan seni, dan Andin yang berada di jurusan musik.
Dan,Sepulang mereka dari mengumpulkan formulir hari sudah semakin sore,
pun—langit sudah berubah warna menjadi orang kejinggaan.
"Hati hati di jalan ya." Ucap Olivia seraya melambaikan tangan nya saat mobil bheby perlahan menghilang dari kawasan apartemen nya. Lalu, ia menyeret tungkai nya memasuki lobi apartemen, menaiki lift menuju lantai tiga belas, dan berakhir sampai pada sebuah pintu berwarna putih gading yang ada di hadapan nya.
Saat hendak membuka pintu, suara khas seorang wanita menyambangi kedua rungunya. Olivia sontak berbalik, lalu mengumbar senyum manis saat presensi sang ibu yang masih mengenakan pakaian formal, dengan heels yang tak terlalu tinggi membungkus kakinya dan berjalan anggun mendekatinya.
"Eh..mama sudah pulang?" Tanya nya basa basi seraya melirik kilas arloji berwarna peach milik nya.
Sang ibu hanya mengangguk sebagai respon kecil, "habis dari mana?" Tanya nya saat melihat Olivia yang mengenakan pakaian rapi.
"Tadi aku sama teman teman habis mengumpulkan formulir ke sekolah kejuruan." Ucap Olivia jujur.
Namun jawaban tersebut berhasil mengundang raut bingung dari sang ibu, kening nya bertaut dalam dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu benar benar mau melanjutkan sekolah di sana?" Tanya nya dengan penuh penekanan di kata 'sekolah'.
Olivia mengangguk cepat.
"Iya, kan sebelumnya kita udah pernah membahas tentang ini, ma—" "tapi Mama nggak setuju!" Sang ibu dengan cepat menyela perkataan Olivia, kini tatapan lembut nya berubah menjadi tajam, tak ada keramahan yang terpancar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gflows
Teen Fiction[COMPLETED] "We will really be together again someday ... with enthusiasm ... and also meet our idol one day" Pertemuan yang tidak pernah ku duga dalam hidup ku. Memiliki empat orang sahabat, yang mengubah arah pandang dan kehidupan ku.. pertama san...
