#andin POV
Jemari ku terus bergerak lincah memencet satu persatu not piano, mulut ku tak berhenti bergumam menyelaraskan nya dengan suara piano.
Aku memang tidak begitu lihai bermain piano, tetapi karena besok hari ujian kelas musik. Jadi kuputuskan untuk bernyanyi dengan piano sebagai pengiring nya.
Ini tidak terlalu sulit, karena aku cukup sering berlatih lagu yang ingin kutampilkan bersama dengan piano. Lagu ini sangat indah,
Lagu yang dapat mewakilkan semua perasaan ku.
Hari ini aku tidak bisa bermain bersama teman teman ku, aku harus berlatih ekstra karena hari ini adalah kesempatan terakhir ku berlatih sebelum hari esok datang. Kuharap semuanya akan bisa berjalan dengan lancar.
Aku menghentikan gerakan jariku saat suara seseorang dengan samar masuk melalui rungu ku.
Kepala ku lantas bergerak cepat saat mendengar suara derit pintu kamarku. Menampilkan sosok wanita paruh baya tengah tersenyum hangat padaku.
"Mama, kenapa?" Tanya ku saat wanita paruh baya itu melangkah semakin dekat ke arah ku.
Mama mengusap surai ku lembut. "Keluarlah temui ayah mu, dia mencari mu dari tadi." Ucap nya seraya tersenyum lebar.
Aku mengernyit.
"Kenapa ayah pengen ketemu?"
Tanya ku dengan nada seolah tak suka.
Namun pertanyaan ku hanya mendapat gelengan kecil dari mana.
"Ayo keluar, jika kau ingin tahu kenapa ayah mencari mu."
Aku menghela nafas panjang,
"Yaudah, mama keluar duluan nanti aku menyusul." Ucap ku seraya bangkit dari kursi piano.
Berjalan untuk memakai blazer karena jika sedang sendiri aku hanya memakai tank top saat sedang di kamar.
Aku berjalan menyusuri anak tangga satu persatu, pikiran ku terus saja mengarah pada ayah, penasaran. Tetapi rasa takut dan cemas lebih mendominasi. Entahlah, tetapi ayah ku seseorang yang keras dan tempramen. Ia sangat tidak suka dengan kebohongan dan kecerobohan, dan aku takut jika ada yang ku perbuat diantara kedua hal tersebut.
Lalu saat di anak tangga terakhir, dapat kulihat dengan jelas presensi ayah yang duduk bersila di ruang televisi, Masih lengkap dengan kemeja formal, dan tangan yang memijat pangkal hidung nya.
Aku berusaha menelan ludah, mengambil nafas panjang, lalu membuang nya secara perlahan.
"Tidak apa apa Andin, kau tak perlu cemas!" Monolog ku seraya memegang dadaku.
"Oh kau di sana?" Suara berat itu membuat ku sedikit terkesiap.
Mataku terbelalak kaget dengan senyuman kaku yang hanya dapat kuumbar.
"Eoh, ayah sudah pulang?" Tanya ku basa basi, aku menyeret tungkai ku mendekat ke arah nya. Berdiri jauh sekitar satu meter, dan menunduk menunggu ucapan selanjut nya.
"Ayah dengar besok kau akan mengikuti ujian musik?" Tanya nya dengan wajah datar.
Aku mengangguk samar,
"I..ya yah."
Lalu pandangan ayah menatap lekat ke arah ku, tatapan dingin, yang sering kali kulihat.
Rungu ku dapat menangkap suara helaan nafas panjang dari bibir nya.
Aku membalas tatapan ayah dengan sepercik rasa takut.
"Lakukan semaksimal mungkin, ayah tidak mau tahu jika kau mendapat nilai jelek. Atau kau akan mendapatkan ganjaran nya." Ucap nya dengan nada mengancam di akhir kalimat.
Aku meneguk ludah dengan susah payah, menutup mata ku untuk menetralkan rasa gugup ku, kaki ku sudah gemetaran juga mataku yang ikut berair.
"Apa yang kau tunggu?.. cepat masuk ke kamar mu dan kembali berlatih!" Sontak aku gelagapan, kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamar ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gflows
Fiksi Remaja[COMPLETED] "We will really be together again someday ... with enthusiasm ... and also meet our idol one day" Pertemuan yang tidak pernah ku duga dalam hidup ku. Memiliki empat orang sahabat, yang mengubah arah pandang dan kehidupan ku.. pertama san...
