#author POV.
Langit yang tadinya biru kini telah berubah warna menjadi oranye kejinggaan akibat sang Surya yang sebentar lagi akan tenggelam.
Namun, sepertinya perubahan tersebut tidak mengusik kelima gadis yang kini tengah duduk santai di sebuah cafetatia yang terletak di pinggir jalan—tak jauh dari sekolah mereka.
Duduk melingkar dengan meja bulat yang menjadi pembatas mereka. Tak lupa dengan minuman hangat yang menjadi pelengkap manis disela sela obrolan ringan kelimanya.
"Jadi bagaimana? Ceritakan pada kami bagaimana dengan kegiatan drama mu tadi?" Dinda, gadis yang memiliki lensa mata berwarna coklat terang itu menatap antusias pada seorang gadis yang duduk tepat di sebelah nya.
Olivia. Gadis yang menjadi topik pembicaraan pun, kini menatap keempat teman nya secara bergantian. Ia menghela nafas panjang sebelum mengeluarkan rentetan kalimat dari birai miliknya.
"Entahlah, aku tidak terlalu yakin. Sebab aku benar benar gugup tadinya." Jawab nya seraya menunduk.
Hingga mereka semua menatap dengan pandangan aneh Kepada Olivia, sebab ini bukan lah jawaban yang mereka inginkan. mengingat, betapa antusiasnya gadis itu saat berusaha menjadi pemeran utama dalam drama tersebut.
"Lalu?" Tiba tiba suara Annisa menginterupsi. "Jangan mudah menyerah, gue tau gimana perjuangan lo buat dapetin peran itu. Semangat dong.. jangan mudah menyerah, karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil."
Ucapan yang keluar dari bibir Annisa pun membuat Olivia terdiam untuk beberapa detik. Otak nya berusaha mencerna makna dari setiap kata yang keluar dan tertuju untuknya.
Hingga sebuah senyuman manis terpatri indah pada wajah bulat nya.
"Baik!! Aku akan berjuang semaksimal mungkin.. kali ini." Cuap nya seraya mengepalkan tangan di udara.
Mereka terkekeh untuk kembali mencairkan suasana. Dan setelah nya obrolan ringan mengenai kegiatan sekolah tak lupa juga dengan berita berita hangat dan terbaru seputar BTS. Menjadi bahan pembicaraan di sela sela nya.
***
"Cklekk!" Suara yang berasal dari pintu bercat putih tulang itu pun menggema mengisi ruangan yang gelap dan sunyi, seperti tidak ada kehidupan di dalam nya. Dengan suasana gelap tanpa ada penerangan yang menguatkan fakta tersebut.
Gadis bersurai sebahu itu akhirnya masuk ke dalam apartemen milik nya setelah menekan tombol sandi beberapa menit yang lalu. Pun—ia segera mencari sakelar untuk menghidupkan lampu pada ruangan yang menjadi pijakan nya sekarang.
Setelah lampu hidup dan menampakkan presensi sekitar, gadis itu melenggang pergi menuju kamar miliknya.
Kesepian. Hanya itu yang bisa ia rasakan saat sang raga sudah berada di dalam apartemen tersebut. Jika kalian bertanya tentang dimanakah orang tuanya?
Maka Olivia. Gadis itu hanya akan menjawab jika orang tuanya
"Sibuk, mengerjakan pekerjaan kantor."
Hanya itu, dan sepertinya jawaban itu yang hanya bisa ia berikan. Dan, hanya itu juga yang ia ketahui sedalam ini.
Tanpa mengganti seragam sekolah yang masih setia melekat pada tubuhnya, ia langsung saja merebahkan dirinya pada ranjang queen size miliknya. Menatap langit langit polos seraya meneguk Saliva secara perlahan.
Secercah, ia tidak merasa bahagia saat dirinya ditinggal dalam keadaan sendiri tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Kendati ia mengetahui alasan yang membuat orang tuanya rela membiarkan putri semata wayang mereka ditinggal sendiri, hanya demi mendapatkan beberapa lembar uang dan menyambung kehidupan rumah tangga mereka, juga dengan kebutuhan Olivia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gflows
Teen Fiction[COMPLETED] "We will really be together again someday ... with enthusiasm ... and also meet our idol one day" Pertemuan yang tidak pernah ku duga dalam hidup ku. Memiliki empat orang sahabat, yang mengubah arah pandang dan kehidupan ku.. pertama san...
