12- Patah

89 3 0
                                        

Setelah selesai mengikuti upacara bendera seluruh Siwa/Siswi Sma Galaxy meninggalkan lapangan kemudian berhamburan menuju kelas. Begitu pun dengan Rani, dari lapangan menuju kelas ia berjalan sendirian diantara siswa/siswi yang lain. Rani bukan tidak punya teman di kelasnya, semua orang itu Rani anggap teman. Hanya saja karena kedekatan Rani dan Daniel, perempuan di kelasnya sedikit enggan mendekati Rani selain itu karena Rani duduk sendiri di kelasnya otomatis ia tak punya teman dekat semacam Chairmate di kelasnya.

Sudah hampir dua tahun berlalu dengan kondisi seperti itu, tapi itu tidak masalah bagi Rani yang penting ia tidak di diskriminasi ataupun si asingkan di kelasnya, ia juga tetap jadi Ketua Murid yang baik bagi kelasnya.

Sesampainya di kelas ia langsung menyambar tasnya lalu mengambil baju olahraga berwarna hijau army berlengan pendek dengan garis hitam juga celana training panjang dengan warna yang sama, dan itu adalah pakaian khas olahraga Sma Galaxy. Itu tercetak di punggung baju tersebut "Galaxy high Scool" membuat siapa saja akan bangga memakainya.

"Ayo guys cepetan ya ganti baju nya, habis itu kelapangan,"suruh Rani sebelum ia pergi ke toilet untuk berganti baju.

"Ran hari ini olahraga apa?"tanya Aldi siswa kurus tinggi dari kelas 12 Ipa 1. Selain itu dia juga pepentol kelas ini.

Seketika semua orang di kelas memandangnya.

"Gue belum tau, nanti gue tanyain deh setelah ganti baju. Para anak cewek kuy ganti baju,"ajak Rani pada segerombol anak perempuan di kelasnya. Termasuk Viona.

"Semoga aja olahraganya gak senam lantai, mending basket aja,"ucap Nina si sekretaris kelas.

"Ih mending futsal sih gue mah, daripada basket,"sahut Anggi si Bendahara kelas.

"Kalau gue sih apa aja yang penting olahraga,"jawab Jelina si cewek jago olahraga dari 12 Ipa 1. Dan itu salah satu alasan yang membuatnya jadi seksi olahraga bersama Deni yang sama sama suka olahraga.

Rani hanya terdiam mendengar pembicaraan teman temannya itu. Bagaimana tidak Rani benar benar payah dalam olahraga, diantara nilai mata pelajaran yang lain, nilai olahraga lah yang paling rendah. Tapi itu tak menghalangi nya menjadi juara kedua di kelas. Ia berusaha untuk menyusul Anggi si juara kelas.

"Kalau menurut lo Ran, mending olahraga apa?"tanya Erin sambil menyenggol tubuh Rani dan menyadarkan lamunannya.

"Gue gak suka mapel olahraga, jadi menurut gue mending diem aja hehe,"jawab Rani terkekeh dan semua orang disana tertawa mendengar jawaban Rani, tapi hanya satu orang yang diam tidak bersuara yaitu Viona.
Rani pun bertanya pada Viona agar dia tidak hanya diam saja menatapnya dengan dingin.

"Kalau lo na, mending olahraga apa?"ia terdiam sesaat lalu mulai membuka suara.

"Em, aerobik kali ya,"jawabnya.

"Pantes aja body goals, suka aerobik ternyata,"ucap batin Rani takjub.

***

Dari ruang guru Rani berlari lari kecil untuk menghampiri teman temannya yang sedang menunggunya di pinggir lapangan. Tepatnya di tribun mini yang letaknya di depan kelas 12 Ips 1. Mereka menatap Rani bertanya tanya.

"Jadi gimana Ran?"tanya Deni.

"Pak Hendra--guru olahraga-- nya gak hadir hari ini tapi kata Bu Heni--guru piket--pak Hendra bilang hari ini buat main futsal aja, jadi buat seksi olahraga tolong bantu ambilin bola nya ya,"jelas Rani pada semua nya. Ia lalu memberikan kunci ruang olahraga pada Deni dan Jelina pun mengekor di belakangnya. Rani pun segera bergegas kembali menuju ruang guru.

"Eh Ran lo mau kemana?"tanya Erin.

"Gue mau ke pak Endang--guru agama--, mau ngasih tugas katanya,"ucap Rani sebelum meninggalkan yang lainnya untuk pergi ke ruang guru.

Yang lain lalu berdecak sebal.

"Jam pelajaran nya aja belum udah ngasih tugas aja."

"Kata Bu Heni sih mau ada rapat habis mapel jam pertama jadi ya guru guru pada ngasih tugas gitu."

Wajah siswa/siswi Ipa 1 pun berubah menjadi gembira. Mereka semua heboh.

***

"Rani,"teriak seseorang di belakang nya.

"Eh Alvino! Dari ruang guru juga?"tanya Rani. Ternyata yang memanggilnya adalah Alvino dia juga tidak sendiri tetapi bersama teman perempuan sekelasnya. Kalau gak salah namanya Salsa, Rani pun tau dari Daniel.

"Iya, km sama wakil km nya gak sekolah. Ya jadi gua sama Salsa yang ke ruang guru ngambil tugas,"jelasnya. Mereka lalu berjalan bersama sama dan Rani berjalan di tengah tengah Alvino dan Salsa.

"Itu tugas dari pak Endang ya?"tanya Salsa sambil menunjuk selembar kertas yang di pegang Rani.

"Hooh, di suruh bikin makalah. Kalian udah di kasih tugasnya?"

"Udah lama di kasih nya juga,"jawab Alvino santai.

"Lah? Si Daniel udah ngumpulin belum?"tanya Rani kaget, takut Daniel tidak mengerjakan tugasnya. Karena Daniel pasti selalu meminta bantuan dari Rani untuk masalah tugas.

"Udah, tumben banget tau dia Ran udah ngumpulin. Biasanya nunggu pak Endang nagih dia mah."

"Wah beneran?"tanya Rani kagum. Mereka berdua lalu mengangguk. Rani menyipitkan matanya yang terkena silauan sinar matahari setelah keluar dari gedung utama, mereka kemudian berjalan di pinggir lapangan.

"AWAS!"teriak salsa keras. Membuat Alvino dan Rani menoleh, sedetik kemudian bola Futsal menghantam keras wajah Rani hingga membuatnya tersungkur di pinggir lapangan.

"Aduh pala gue,"ucap Rani sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing. Matanya melihat ke lurus ke arah lapangan dimana ada beberapa orang yang berlari ke arahnya namun pandangannya yang kabur.

"Kacamata gue,"ucap Rani sambil meraba wajahnya tepat di bagian mata.

Dengan jelas Rani melihat Alvino memakaikannya kacamata bulat yang terjatuh di samping tubuhnya. Tentu saja jelas, Rani ini Rabuh jauh bukan Rabun dekat. Tentu saja dengan jarak segini Rani dapat melihatnya dengan jelas.

"Makasih! tapi lo kedeketan Vin,"ujar Rani. Refleks Alvino pun mundur lalu membantu Rani berdiri bersama salsa. Dan Daniel yang sudah berdiri di hadapan Rani sedang menahan tawanya, tapi tawanya pecah juga.

"Ngakak banget sih lo,"ucap Daniel menertawakan Rani. Dan Daniel juga lah pelaku yang membuat Rani jatuh tersungkur. Rupa rupa nya karena kelas Rani tak ada guru olahraganya dan kelas Daniel juga tak ada guru mapel nya, akhirnya kelas 12 Ipa 1 dan 12 Ips 3 pun bertanding main main di lapangan. Dan saat Daniel menendang tak sengaja mengenai Wajah Rani.

"Eh Lo bukannya minta maaf malah ngetawain,"delik Salsa menatap Daniel sebal.

"Minta maaf sekarang juga Niel sama Rani!"suruh Alvino dengan ketus. Tawa Daniel memudar wajahnya berubah serius ia menatap Alvino dingin lalu menatap Rani.

"Maaf ya Ran gak sengaja gue,"ucap Daniel lalu mendorong pelan Alvino yang berdiri di sebelah Rani kemudian ia berdiri di sebelah Rani.

"Ya iya gue maafin,"jawab Rani sambil membenarkan kaca matanya.

Krek!

Kaca mata Rani lalu patah tepat diantara lensa kiri dan kanannya. Kaca mata bulat itu terbagi dua.

"AAAAA! KACA MATA GUE!"

***

Tbc.....

Halohaaaaa

Oh iya tekan bintang di bawah ya. Dan juga tekan tombol di sebelahnya jika kalian ingin memberi kritik dan saran. Terimakasih.

-salambungabunga

RADDAR💑Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang