Berhyl memasuki kelasnya yang sudah lumayan terisi penuh. Ia berjalan melewati dua orang yang tengah mengobrol. Itu Alvino dan Salsa. Berhyl memperhatikan Alvino yang sepertinya sedang kecewa dan Salsa sebagai teman dekatnya tengah menyemangatinya.
"Udah Vin kalau jodoh gak akan kemana,"ujar Salsa menepuk punggung Alvino untuk menenangkannya.
"Lo tanya aja Rani nya lagi nanti selesai lomba,"lanjut Salsa. Berhyl pun membuka kupingnya lebar lebar karena nama gadis sahabatnya di sebut sebut.
"Dia pasti nolak gue lagi,"gumam Alvino pelan.
"Hah nolak? Jadi Alvino nembak Rani?"batin Berhyl bertanya tanya sendiri bingung. Tak lama kemudian orang yang di bicarakan oleh Salsa dan Alvino itu muncul bersama Daniel. Rani menyimpan tas Daniel di sebelah Berhyl duduk.
"Makasih ya,"ucap Daniel sambil mengelus lembut rambut Rani. Rani hanya terdiam mengangguk ia kemudian pergi dari kelas 12 Ips 3 dan sebelumnya ia sempat tersenyum tipis pada Alvino. Daniel kemudian duduk di sebelah Berhyl yang masih menatap ke arah Alvino dan Salsa.
"Eh Lo kenapa,"tanya Daniel menepuk bahu Berhyl. Berhyl kemudian berbisik di telinga Daniel.
"Gue punya berita besar,"ucap Berhyl meniru gaya gaya perempuan yang akan bergosip.
"Lo kayak cewek aja sih rhyl,"kekeh Daniel menatap sahabatnya itu.
"Ini soal Rani,"ujar Berhyl. Tadinya Daniel tak tertarik tapi ia jadi tertarik karena ini tentang Rani.
"Apaan emangnya?"
"Alvino Nembak Rani terus di tolak."
"Ah yang bener,"tanya Daniel tak percaya.
"Beneran kok. Emangnya Rani kagak cerita sama Lo,"ucap Berhyl dan mereka saling berbisik.
"Gak tuh Rani gak pernah cerita apa apa,"gumam Daniel.
"Gue saranin ya Niel. Resmiin hubungan Lo sama Rani. Rani itu nolak Alvino gara gara lomba, coba kalau lomba nya udahan bisa bisa mereka jadian."
"Tapi Rani sendiri yang gak mau ada kata pacaran rhyl."
"Itu artinya Lo di tolak secara halus Niel Lo gak sadar?"
Daniel terdiam.
***
Daniel sedari tadi terdiam terduduk di sebuah kursi di taman belakang sekolah tempat Rahasia Daniel dan Rani. Walau sebenarnya tak bisa benar benar dibilang rahasia, hanya saja jarang orang datang kesana.
"Tumben ngajak ketemu disini pas istirahat biasanya di kantin?"tanya Rani lalu duduk di sebelah Daniel yang tengah menatapnya dingin.
"Loh Niel Lo kenapa?"tanya Rani khawatir lalu memegang tangan Daniel halus tapi Daniel menjauhkan tangannya dari Rani perlahan.
"Lo di tembak sama Alvino kan?"tanya Daniel dingin. Rani hanya mengangguk pelan sambil menatap Daniel khawatir.
"Kok Lo gak bilang sama gue,"tanya Daniel agak ketus. Rani terdiam bingung.
"Gue pikir itu gak penting jadi gue gak ngasih tau Lo,"jawab Rani mengatakan yang sebenarnya.
"GAK PENTING LO BILANG! GUE INI PACAR LO!"Daniel berdiri dari duduk nya lalu berteriak marah pada Rani, Rani hanya bisa menundukkan wajahnya takut.
"Tapi Niel kita kan gak pacaran,"gumam Rani pelan.
"Iya karena Lo gak bener bener suka kan sama gue."Daniel mencengkram kuat kedua bahu Rani kesal.
"Gak gitu Daniel, gue cuma nyaman aja kita sahabatan. Dan Lo juga setuju kan?"
"Gak hari ini gue gak setuju. Gue cemburu gue kesel gue marah sama Lo,"Ujar Daniel membentak bentak Rani. Mata Rani berkaca kaca, Daniel tak pernah kasar sebelumnya pada Rani.
"Maaf Niel maaf gue gak tau,"gumam Rani pelan sambil masih tertunduk sedih.
"Tuh kan Lo aja gak tau perasaan gue. Udahlah,"ujar Daniel kesal lalu pergi meninggalkan Rani yang terdiam dengan air mata yang perlahan mengalir. Daniel menghentikan langkahnya.
"Gue kecewa sama Lo Ran, harusnya gue tau perasaan gue gak akan pernah di balas sama Lo lebih dari kata sahabat,"ucap Daniel tanpa berbalik, ia lalu pergi meninggalkan Rani sendirian.
***
"Tugas yang udah simpen disini ya,"teriak Rani sambil menyimpan buku catatannya di atas meja guru.
"Ran Lo udah? Gue mau liat ya?"tanya Nina tak percaya. Begitu lah Rani jika perasaannya sedang kalut atau mood nya sedang tidak baik ia pasti akan melampiaskan semua nya pada pelajaran. Untungnya pada jam terakhir kelas 12 Ipa 1 mendapatkan tugas, alhasil Rani melampiaskan semua pada tugas matematika itu.
"Iya ambil aja,"ujar Rani. Ia kemudian duduk di bangkunya lalu melipat kedua tangannya di atas meja lalu membenamkan kepalanya disana.
Tringg tringg tringg
Seluruh jam pelajaran telah berakhir..
Seisi kelas 12 Ipa 1 itu panik karena mereka belum selesai menyalin tugas matematika tersebut.
"Rani bentar ya dikit lagi,"teriak Aldo sambil menulis dengan secepat mungkin.
"Iya Ran sumpah ini dikit lagi kok."
"Iya Ran bentaran yaa."
Seisi kelas saling menyahut sambil cepat cepat menyelesaikan tugas matematika tersebut.
"Iya sok aja gue tungguin kok,"ucap Rani mengangkat kepalanya lalu mulai membereskan alat tulisnya kedalam tas. Seisi kelas terperanjat aneh. Tak ayal mereka begitu, biasanya saat ada tugas di jam terakhir dan bel sudah berbunyi Rani tak segan segan meninggalkan orang yang masih berlega leha dengan tugasnya.
Seisi kelas tau itu bahkan sempat kesal pada Rani karena hal itu, tapi Rani berkata jika semua itu ia lakukan agar tugas semua tugas nya bisa diterima, dan untuk yang telat pun bisa diterima karena alasan tertinggal. Kalau semua nya telat tugas itu tidak akan diterima.
Satu persatu orang telah selesai kemudian menyimpan buku nya di atas meja guru. Kemudian satu persatu juga mereka pulang.
"Ran makasih ya, buku nya juga udah gue simpen,"ujar Nina sambil menyimpan bukunya dan buku Rani di tumpukan buku lainnya. Rani beranjak dari duduknya, memakai tas gendong nya lalu membawa tumpukan buku itu.
"Iya sama sama,"jawab Rani pelan.
"Ran Lo kenapa?"tanya Nina khawatir.
"Gak papa kok. Gue ke ruang guru dulu ya oh iya Nin tolong ya yang piket suruh pada piket dulu,"suruh Rani halus pada Nina. Rani pun pergi setelah Nina mengangguk.
Rani berjalan menyusuri koridor yang lumayan penuh karena ini adalah jam pulang. Sesampainya di ruang guru ia menyimpan buku buku itu di meja Bu Sari-guru matematika khusus kelas Ipa.
"Saya permisi dulu ya Bu,"kata Rani lalu pergi keluar dari ruang guru itu. Tak sengaja ia bertemu dengan Alvino yang telah mengobrol dengan Bu Iren.
"Rani kebetulan kita ketemu disini. Kata Bu Iren hari ini latihan lagi ya seperti biasa,"ujar Alvino menghampiri Rani lalu berjalan bersamanya.
"Iya,"jawab Rani dingin.
"Gue mau ambil tas dulu ke kelas. Lo mau ikut atau duluan aja ke ruang tata boga."
"Gue ikut aja,"jawab Rani.
Di depan kelas 12 Ips 3 terlihat Daniel, Berhyl juga Viona tengah mengobrol bersama. Daniel mengetahui keberadaan Rani bersama Alvino. Rani melihat ke arah Daniel yang membuang muka darinya. Rani terdiam menunggu Alvino yang sedang mengambil tas nya.
"Daniel,"panggil Rani pelan. Tapi entah Daniel tak mendengar atau pura pura tak mendengar, Dia mengacuhkan panggilan Rani. Sekilas ia melihat ke arah Rani.
"Yaudah kita latihan sekarang. Ayo Na,"Ajak Daniel pada Viona, ia menggenggam tangan Viona di hadapan Rani kemudian pergi begitu saja.
"Ayo Ran,"ajak Alvino.
"Iya,"ucapnya sambil terus memperhatikan kepergian Daniel.
***
Tbc.....
Halohaaaaa
Oh iya tekan bintang di bawah ya. Dan juga tekan tombol di sebelahnya jika kalian ingin memberi kritik dan saran. Terimakasih.
-salambungabunga
KAMU SEDANG MEMBACA
RADDAR💑
Novela JuvenilCerita bad boy juga good girl. 15+ - - - - - Rani Arsyla Danuar. Good girl, suka belajar, salah satu siswa dari kelas unggulan, chef nya sma Galaxy dari ekskul tata boga. Wajah manis tapi gak pernah dandan. Tak lupa kacamata bulat selalu menempel di...
