Ep10

19 3 0
                                        

                Rintik, Senja, Ayah, dan Ibu tengah menikmati tayangan televisi ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam. Rintik tidak memiliki tugas atau ulangan, jadi ia pun tanpa beban menonton sinetron kesayangan Ibu, demikian pula dengan Senja. Akhir-akhir ini, jarang bagi mereka untuk menghabiskan waktu bersama karena Ayah sangat sibuk. Agar tidak bosan, Ibu membuat berondong jagung yang cocok untuk cemilan.

                "Mobilnya masih jauh juga. Minggir dong, Mbak, Mbak!" komentar Ayah ketika adegan tabrakan ala sinetron muncul di layar televisi.

                "Namanya juga sinetron, Yah. Nggak greget kalau nggak gitu." balas Senja yang tidak henti memasukkan berondong jagung ke dalam mulutnya.

                "Jangan komentar, deh!" seru Ibu karena merasa terganggu.

                Mereka antusias menonton lanjutan dari pemeran utama wanita yang ditabrak oleh truk digendong sama pemeran utama pria ke rumah sakit. Sebenarnya, Rintik sudah mengerti alur sinetron ini karena pada dasarnya, semua sinetron sama saja. Tetapi, seru-seruan aja, sih, kalau pura-pura penasaran dengan lanjutannya.

                Namun, semua penonton menunjukan rasa kekecewaannya ketika kata bersambung tercetak jelas di layar. Ibu cemberut karena lagi-lagi ia harus menunggu besok untuk memastikan pemeran utama wanita selamat atau tidak. Sedangkan Ayah, mengambil remote dan memutar tayangan kesukaannya, pertandingan sepak bola. Senja pun bersemangat karena ia pun menyukai tayangan itu. Rintik mendengus. Ini, mah, bukan waktunya keluarga lagi. Tapi, waktunya para lelaki!

                "Nonton yang lain, sih, Yah. Rintik nggak ngerti sepak bola." keluh Rintik.

                Tanpa memandang Rintik, Ayah menjawab. "Tidur aja kamu."

                 Ayah memang nyebelin!

                Rintik beranjak dari sofa, hendak ke kamar daripada ia kebosanan di sini. Namun, suara ketukan pintu membuatnya menggantikan arah langkahnya ke pintu. Terdengar dari ketukannya yang terburu-buru, sepertinya ada yang darurat.

                "Loh, Biru?" seru Rintik kaget ketika melihat di balik pintu ada Biru dengan keringatan yang mengucur deras. Rintik menyipit, lalu menyadari bahwa terdapat beberapa luka di wajah dan lengan Biru.

                "Bi, kenapa—,"

                "Gawat, Rin!" serunya.

                Mendengar keributan tersebut membuat Ayah, Ibu, dan Senja segera menyusul ke sumber suara. Mata Senja sukses melebar begitu melihat kondisi Biru yang benar-benar berantakan.

                "Ada apa, Bi? Muka lo!" sahut Senja.

                Biru menggeleng, seakan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. "Jeha!"

                Rintik mengerutkan dahinya. "Kenapa Jeha?"

                Biru menelan ludahnya sebelum memberitahu sesuatu yang membuatnya kacau seperti ini.

                "Jeha masuk rumah sakit!" ucap Biru serak. "Ayah Jeha sangat menyeramkan! Dia.. dia hendak melempar vas bunga ke Ibu Jeha, tetapi Jeha yang kena! Dia.. dia..."

                Rintik mengerjapkan sepasang matanya, mencerna apa yang baru saja dikatakan Biru. Pria itu mengangguk, memastikan bahwa yang ia katakan itu adalah benar.

                "Kekerasan rumah tangga."

*****

                Begitu mobil berhenti di area rumah sakit, Rintik segera turun dan berlari menyusuri koridor, mencari ruang operasi. Senja mengejarnya dan mengatakan kalau Rintik tidak boleh pergi sendiri seperti ini. Berkat Senja yang tenang dan menanyakan perawat letak ruang operasi, akhirnya mereka sampai di sana. Lampu di atas pintu ruangan tersebut menyala, menandakan sedang dilakukan operasi di dalam sana. Terlihat Ibu Jeha yang menangis sendirian di ruang tunggu, membuat Rintik ikut-ikutan pilu. Rintik menghampiri Ibu Jeha yang tampak tidak baik-baik saja. Memar dan luka yang belum kering memenuhi wajah dan tubuh wanita itu. Rintik menggenggam tangan beliau tanpa mengatakan apapun, walau tidak menghentikan tangisnya. Senja menyenderkan tubuhnya di dinding sembari berdoa akan kesuksesan operasi Jeha.

                Semuanya berkumpul di depan ruang operasi. Ayah, Ibu, Senja, Rintik, Biru, bahkan Dirga yang sangat cemas setelah Biru mengabarinya. Sejam telah berlalu. Tiba-tiba pintu operasi terbuka dan tampaklah seorang pria dengan balutan baju khas operasi. Semuanya mengerubungi dokter tersebut, menanyakan keadaan Jeha.

                Dokter itu tersenyum. "Operasinya berhasil. Jeha masih berada di bawah obat bius dan akan sadar setengah jam lagi, kira-kira."

                Rintik menghembuskan napasnya, lega.

                Terima kasih Jeha karena telah bertahan.

*****

                  Rintik duduk di taman rumah sakit sendirian. Usai Jeha dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, Rintik memutuskan untuk di sini, termenung. Entah sudah berapa lama ia di kursi ini. Mungkin, Jeha sudah sadar. Namun, Rintik akan melihat Jeha nanti karena ia sedikit malu dengan gadis itu.

                Biru menceritakan segalanya.

                Biru ditelepon Jeha dan gadis itu meminta tolong kepadanya dan kedengarannya benar-benar kacau di sana. Tanpa pikir panjang, Biru segera pergi ke rumah Jeha dan mendapati rumahnya yang sangat berantakan. Kaca jendelanya terpecah-belah, pintu depan menganga lebar, dan kepingan keramik memenuhi lantai rumah. Kawasan tempat tinggal Jeha termasuk kawasan sepi, sehingga tidak ada yang datang ke sini.

                Biru bergegas masuk ke rumah Jeha. Tiba-tiba suara teriakan pria paruh baya memenuhi ruangan, mengatakan seseorang dengan sebutan tidak pantas, seperti jalang. Lalu, terdengar suara familiar yang menggelegar, menyuruh pria itu menghentikannya. Itu suara Jeha. Namun, bukannya berhenti, malah terdengar suara pecahan benda dan raungan seseorang. Biru melangkah ke sumber suara dan mendapati Jeha yang tergeletak tidak berdaya dengan seorang wanita di sisinya, menangis. Sementara pria paruh baya itu, terkejut begitu melihat Biru dan melarikan diri. Biru segera membawa Jeha ke rumah sakit, lalu pergi ke rumah Rintik untuk mengabari sahabatnya.

                Jeha tidak pernah mengungkit apapun mengenai keluarganya. Ketika ia menginap di rumah Rintik, ia bilang bahwa dirinya tidak betah di rumah karena orang tuanya terlalu sibuk kerja hingga lupa pulang. Rintik pun tidak pernah bertanya lebih lanjut karena ia tidak peduli. Hal itu membuat Rintik menyesal, sangat. Kalau saja ia lebih peduli kepada sahabatnya, mungkin saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Ia bisa saja membantu Jeha menyelesaikannya. Mungkin saja, Jeha membutuhkan seseorang untuk bersandar. Kenapa Rintik tidak bisa peka?

                Bahkan kini, ketika Rintik sangat menyesal, ia tidak bisa menangis. Malah, dirinya mengantuk dan tidak berdaya. Mungkin karena ia telah banyak menangis karena mengkhawatirkan Jeha selama operasi berlangsung. Perlahan matanya tertutup. Ia membiarkan angin malam membantunya terlelap.

                Seorang pria menghampirinya, menatap gadis itu menunduk dengan mata terpejam. Sepertinya, gadis itu benar-benar terlelap. Ia tidak tahu kalau Rintik bisa tidur secepat itu. Kurang dari lima menit ketika ia mengamati Rintik duduk sendirian, lalu menutup matanya. Pria itu, Senja, berlutut dihadapan Rintik. Ia meletakkan kepala Rintik hingga menyentuh dadanya, membiarkan Rintik tertidur tanpa menyakiti lehernya. Agar tidak goyah, ia memegang erat kedua lengan gadis itu.

                "Rintik ngantuk." rintihnya tanpa membuka matanya.

                Senja mengangguk. "Tidurlah."

                Rintik tertidur dengan Senja sebagai sandarannya.

*****

Rintik dan SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang