Ep18

17 3 0
                                        

Hari ini tanggal merah alias sekolah diliburkan. Seharian ini Dirga rebahan di kasurnya karena tidak ada kerjaan. Ia telah mengerjakan tugas sekolahnya beberapa jam yang lalu, yang jarang sekali ia kerjakan. Prinsip Dirga adalah jika bisa menyalin, kenapa harus mengerjakannya sendiri? Namun, prinsip itu hari ini patah karena Dirga benar-benar bosan.

                "Meong... meong..."

                Mendengar suara itu, sontak membuat Dirga bangkit dari kasurnya dan bergegas keluar kamar. Ia mengutuk dirinya sendiri karena melupakan sosok lain yang ada di rumahnya. Ia tidak bisa terbiasa dengan hal itu karena selalu sendiri. Begitu melihat sosok Dirga, ia mengikuti Dirga yang mengambil sesuatu di atas lemari kacanya. Kucing yang hendak diberikan ke Rintik itu mengeong-ngeong minta jatah makan siangnya. Sementara, kucing ini akan dipeliharanya sejak kebatalannya mengantar kucing itu ke rumah Rintik.

                "Maafin gue, ya Cing." ucap Dirga sembari menuangkan makanan kucing di tempatnya. Dirga tidak tahu siapa namanya. Kata pemilik kucing ini sebelumnya, namanya Rev. Tapi, ketika Dirga memanggil nama itu, Rev tidak memedulikannya sama sekali. Kala itu Dirga mencoba-coba memanggil nama yang lain dan ketika pria itu memanggil dengan nama Kucing, makhluk itu melakukan kontak matanya. Dirga tahu, itu tidak lucu, tapi Dirga tidak suka diabaikan.

                Sembari melihat Kucing melahap makanannya, Dirga termenung dan memikirkan waktu yang tepat untuk membawa Kucing ke rumah Rintik. Dirga tidak berani menelepon gadis itu karena beberapa hari belakangan, suasana hatinya sedang tidak bagus. Bukannya Dirga takut menghadapinya, tetapi ia tidak ingin membuat Rintik semakin suram. Jika seseorang berada dalam fase-fase seperti itu, tahap akhir yang paling ampuh adalah membiarkannya sendiri untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

                Drrt... drrt...

                Mendengar handphonenya berbunyi, Dirga bergegas ke kamar dan mengambil handphonenya yang tergeletak di kasur. Nama Rintik menghiasi layar handphonenya, membuat pria itu terburu-buru mengangkat panggilannya.

                "Halo?"

                "Hai, Dir," ucap Rintik, suaranya menandakan ia baik-baik saja, "Lagi ngapain?"

                "Di rumah aja, nggak ngapa-ngapain. Memangnya kenapa?"

                Terdengar suara berisik di seberang sana. "Ke rumah gue aja! Biru sama Jeha ada di sini, kok!"

                "Oke, deh!"

                "Oh iya, bawa kucingnya juga, ya Ga!" sahut Rintik. "Tadi gue sama Jeha beli barang-barang untuk kucing, jadi aman!"

                Rintik terdengar seperti tidak sabar untuk bertemu Kucing, membuat Dirga tidak bisa menahan tawanya. "Siap! Gue siap-siap dulu."

                "Oke!"

                Begitu panggilan tertutup, Dirga bergegas mandi dan bersiap-siap karena sedari pagi ia belum membersihkan diri. Ah, kenapa Dirga tidak berpikir untuk ke rumah Rintik? Gadis itu sering bercerita tentang Biru dan Jeha yang sering di rumahnya dan bilang ke Dirga kalau pintu rumahnya pun terbuka lebar untuk pria itu. Sayangnya, Dirga belum pernah benar-benar bertamu ke rumah Rintik. Sepertinya, ia harus membiasakan diri.

                Setelah selesai menyiapkan diri, Dirga mengurus Kucing dan memasukkannya ke kandang dan pergi menggunakan mobil karena tidak mungkin saja membawa Kucing pakai motor. Selama di perjalanan, Dirga tidak henti-hentinya mengoceh ke Kucing, seperti memberi petuah.

Rintik dan SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang