Meiza menatap Edwan ragu, ia bingung harus memulai dari mana untuk memberitahu prianya. Meiza sangat tau sifat Edwan yang keras kepala dan tidak bisa di bantah itu. Dengan ragu ragu meiza menghela nafas
"Hm boleh aku memintah sesuatu?" Tanya meiza sambil menatap Edwan ragu
Pria itu menghentikan makannya sebentar lalu mengangkat alisnya sebelah" apa?"
Kini mereka sedang sarapan, meiza menggaruk lehernya tak gatal " aku ingin membangun butik di sini boleh?"
"Tapikan-"
"Oh ayolah" potong meiza secepatnya sebab ia tau apa jawaban pria itu
Edwan mengehela nafas" baiklah, ets tapi ingat jangan terlalu kecapean, ingat ada aku yang harus kau layani"
Meiza memutar bola matanya jengah" yah aku tau, sekalian aku akan mencari seorang asisten supaya dia yang akan mengurus butik ku selama 24 jam"
"Aku berangkat" Edwan berpamitan sebelum keluar mension ia punya rutinitas pagi sebelum ke kantor yaitu mencium kening meiza
"Hati-hati" Edwan mengangguk lalu pria itu menghilang di balik pintu mension
Meiza segera berganti pakaian untuk mencari tempat mendirikan butik nanti dan ia akan bertanya kepada sahabatnya Aruna kebetulan sekali ia satu negara dengan wanita itu. Meiza akan pergi di antar oleh supir Edwan sebab pria itu sudah mewanti-wanti meiza tidak boleh membawa mobil sendiri dan kemana pun ia pergi harus ada mengawasinya, Edwan Takut akan terjadi apa-apa
Sebelumnya meiza sudah menghubungi Aruna bahwa ia meminta wanita itu untuk menemuinya di salah satu restoran yang dekat-dekat saja sebab dirinya belum kenal dengan negara ini. Ia harus tetap berhati-hati
"Kau Dimana run?"
"Aku sudah sampai"
"Baiklah aku baru otw ke sana tunggu saja sebentar"
"Tidak usah buru-buru meiza aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu dan putraku juga tidak rewel"
"Terimakasih run"
Meiza menutup sambungan telponnya, sekarang ia sedang berada dalam mobil menuju restoran yang sudah di beritahukan Aruna padanya. Untung jalanan tidak macet seperti Jakarta sehingga supir leluasa membawa mobil yang di tumpangi meiza.
Tak memerlukan waktu lama sehingga meiza sudah sampai di restoran tempat janjiannya bersama Aruna
"Maaf run aku lama yah?" Tanya meiza sambil duduk di depan Aruna yang memangku putra semata wayangnya
"Ah tidak santai saja. Ada apa?"
"Run kau kan sudah hafal dengan negara ini, ku mohon bantu aku mendapat kan lahan yang bagus untuk pembangunan butik, mumpun Edwan mengizinkan ku"
"Baik lah dan kebetulan aku punya teman yang akan menjual toko kuenya dekat sini, kau bisah membeli toko itu dan menjadikan butik kan?"
Meiza nampak berfikir" tidak buruk"
"Kapan kau akan bertemu dengannya?"
"Kita pesan dulu run aku haus" Aruna memutar bola matanya" kau ini kebiasaan"
Meiza terkekeh lalu meminta pelayan memberikan minuman begitupun Aruna" kau tidak memesan kan makanan untuk alister?"
Aruna menatap putranya sekilas" dia sudah makan sebelum kau datang"
Meiza hanya mengangguk menatap bocah kecil itu yang tengah menatapnya juga, meiza berpikir apa ia akan juga memiliki putra seperti anak Aruna, tampan dan menggemaskan, rasanya meiza ingin membawa alister pulang ke rumahnya dan mencubit terus pipi gembul bocah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forced to get married ( Sudah Terbit )
Любовные романы#Makcymilliane the series 1 ( Sudah terbit di guepedia, tersedia di toko buku online atau langsung pesan di guepedia ) Meiza manuver hidupnya selalu dikelilingi dengan kebahagiaan dan kekayaan, tetapi itu dulu sebelum dirinya di jodohkan dengan soso...
