28| depression

293 8 0
                                        

Semenjak pemakaman yang di lakukan tadi sore, meiza terus saja berdiam diri di kamar putri kembarnya, memeluk erat sebuah foto yang terdapat gambar kedua putrinya, hatinya bergitu hancur, saat ini airhel belum di temukan semakin membuat meiza terpuruk.

Wanita itu hanya melamun, bahkan di ajak bicara pun ia tak menanggapi, yang di lakukannya hanya diam, diam dan diam.

Semua orang menatap dirinya khawatir, pasalnya meiza tidak mau beranjak dari tempat duduknya, kadang-kadang ia berbaring di atas kingzie milik putrinya, mencium wangi khas kamar si kembar.

Hidupnya hancur seketika. Lagi-lagi air matanya jatuh, kadang terisak, kadang berteriak histeris memanggil nama kedua anaknya.

Edwan hanya bisah menatap sendu orang yang di cintainya itu, ia tidak tau harus berbuat apa, hatinya tidak jauh beda dari meiza, tapi ia harus kuat demi anak-anak dan istrinya yang saat ini tengah depresi

Pria itu mengehela nafas sebelum memasuki kamar yang di tempati si kembar dulu, semua orang masih saja sibuk mencari putri bungsu makcymilliane.

Edwan mengusap punggung meiza, ia memeluk istrinya erat, wanita itu tidak henti-hentinya menangis,

"Sayang, berhentilah menangis, kau harus bangkit putra kita masih membutuhkan mu, dan iklas kan erza, biarkan dia tenang di alam sana"

Tidak ada sahutan dari Meiza, wanita itu lagi-lagi menangis.

"Semua orang kehilangan, terutama aku, aku ayahnya jadi aku tau rasanya di tinggalkan putri kita, sayang ku mohon"

"Biarkan aku sendiri"

Hanya tiga kata yang di ucapakan, wanita itu kembali berbaring di atas kingzie, Edwan hanya bisa menghela nafas.

"Yah sudah kamu istirahat aku ke bawah dulu"

Pria itu pergi dari kamar yang di tempati meiza saat ini. Ia memandang keluarganya yang tengah berkumpul.

"Bagaimana?" Tanya Sifa khawatir.

Edwan menggeleng pelan" masih sama"

Semua mengehela nafas berat, cobaan yang di alami keluarga makcymilliane saat ini begitu berat.

"Bagaimana dengan pencarian airhel, apa ada perkembangan?" Tanya Ajeng menatap semua orang.

Dan lagi -lagi balasan mereka hanya gelengan

"Masih sama, belum ada perkembangan sama sekali" jawab jodi

"Berdoa saja semoga dia cepat ketemu" ujar Zayn, kakak Edwan. Pria itu datang ke new York bersama keluarganya saat mengetahui bahwa keponakannya meninggalkan dunia.

Bahkan semua publik saat ini mengetahui kabar duka yang dialami keluarga makcymilliane, tapi hilangnya airhel di sembunyikan oleh publik, Edwan tidak ingin ada memanfaatkan kesempatan hilangnya putrinya itu.

Semua ia atur dengan baik, agar keluarga kecilnya tidak mendapatkan masalah baru, sudah cukup meiza yang mengalami depresi, Kematian erza dan hilangnya airhel. Untuk saat ini ia ingin keluarganya hidup dengan damai dan tenang tanpa ada beban yang di pikulnya.

"Dad" Alfar mendekat ke arah Edwan, cowok itu duduk di pangkuan sang ayah.

"Ada apa son?"

"Alfar kangen adek" ucapnya terisak, ia merindukan kedua adik kembarnya saat ini. Saat dimana ia bermain dengan adiknya, dan tidak Sengaja menjatuhkan boneka erza si manja ke dalam kolam ikan

Edwan mengusap lembut kepala putranya" berdoa sama tuhan, biar adek cepat ketemu yah, biar Alvin, Alfar dan airhel bisah main lagi"

Alfar mengangguk" dad kau tau?, hari itu sebelum erza berangkat sekolah dia mengatakan padaku bahwa harus menjaga airhel dengan baik, katanya begitu dad"

Pria itu diam mendengarkan ucapan anaknya, mungkin erza sudah memiliki feeling bahwa ia akan meninggalkan keluarganya untuk selamanya jadi ia meminta sang kakak untuk menjaga adiknya.

"Diamana Alvin?" Tanya edwan mengalihkan pembicaraan putranya

"Aku di sini dad" Alvin datang membawa segelas air putih hangat, dan kemudian di berikan oleh alfar, cowok itu meminumnya sampai setengah, ia masih terisak di pelukan sang ayah.

"Alvin harus kuat yah nak" Edwan menyemangati kedua putranya, mereka sudah paham dengan kehidupannya sekarang, kehilangan orang yang di sayanginya.

Alvin mengangguk patuh" Iyya dad"

Walau sebenarnya ia juga ingin menangis seperti Alfar sekarang, tapi ia tahan, ia tidak boleh terlihat lemah di depan adiknya, ia harus tegar.

🌾

Alvin membuka pintu kamar bernuansa pinky itu, dengan perlahan-lahan pintu kamar terbuka, Alvin masuk lalu mendekati kingzie, di sana seseorang berbaring, kamar itu remang-remang sebab hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah jendela.

Cowok itu mendekati orang yang tengah tertidur, lalu mengusap lembut kepala wanita yang di sayangnya, air matanya jatuh. Ia mengusap air matanya kasar.

Alvin mencium kening wanita itu, wanita yang sudah dua hari mengabaikan dirinya dan alfar, wanita itu seakan tidak memiliki semangat hidup lagi setelah kepergian anak perempuannya.

"Mom" ucapnya lirih. Tangan mungilnya masih setia mengusap kepala wanita itu, kini perlahan-lahan ia terisak, sekuat tenaga ia menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak keluar dan mengganggu ketenangan wanita itu.

"Mom, kau tau aku merindukan kasih sayangmu, dimana setiap pagi kau membuat kan kami sarapan, mencium pipiku dan alfar sebelum ke sekolah, marah jika aku berkelahi di sekolah" ia menjeda ucapannya, sebab air matanya terus mengalir, dengan gerakan kasar ia mengusap air matanya.

"Mommy, aku bertengkar lagi, bahkan luka di tangan dan bibirku belum di obati, biasanya mommy yang melakukan itu tapi sekarang" Alvin tidak bisah menahan isakanya, ia mulai menangis

"Mom, aku dan Alfar membutuhkanmu, bahkan Daddy sibuk mencari airhel, hiks... Hiks..." Ini yang ketiga kalinya ia berbicara tapi orang yang di ajakannya berbicara hanya diam membisu. Sudah dua hari semenjak kematian erza, meiza hanya mengurung diri di kamar, wajahnya pucat seperti mayat hidup.

Yang di lakukan hanya diam dan menangis, Walaupun orang tua dan mertuanya masih tinggal bersama dirinya di mension itu dan sekaligus mengurus Alvin dan alfar, tapi keduanya masih menginginkan kasih sayang kedua orangtuanya yang kini sibuk dengan kehidupan masing-masing, Edwan sibuk mencari airhel, meiza sibuk dengan dunianya yang hanya memikirkan kematian erza.

Alvin meninggalkan kamar itu, dan menutupnya perlahan lahan Agar tidak menimbulkan suara, dengan langkah gontai dan mata sembab, ia kembali ke kamarnya, merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur,

Sungguh ia merindukan keharmonisan keluarganya yang masih utuh dulu. Diamana kedua orangtuanya membagi kasih sayang antara dirinya dan ketiga adiknya itu, dan semua itu hilang sekejap semenjak cobaan yang menimpa keluarganya, ia kembali menangis, tubuhnya ia tutup dengan selimut tebal.

"Semenjak kepergian mu, mommy and Daddy tidak memiliki waktu bersama kita lagi" gumannya sebelum menutup matanya menuju ke alam mimpi.

Sifa yang mengikuti Alvin secara diam-diam, ia mengusap air matanya, Sifa sangat kasihan melihat cucu itu, ia tau apa yang di rasakan Alvin, tapi apa boleh buat, yang hanya bisah di lakukan dirinya adalah berdoa, agar cucu nya cepat di temukan dan meiza bangkit seperti dulu lagi

🌾

TBC :

Vivi arvina damayanti
Soppeng

Forced to get married ( Sudah Terbit )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang