Sejak tadi pagi Edwan terus saja diam tidak tau harus bicara apa dengan meiza, sehingga meiza makin kesel pada suaminya itu yang tidak peka akan situasi. Meiza tambah murka kalau keadaan tetap seperti ini dan Edwan masih saja memberikan maura perhatian membuat meiza makin kesel
Jika terus terus di biarkan seperti ini maka keduanya tidak akan pernah akur dan masalah mereka tidak akan pernah Redah. Edwan yang gengsi dan meiza yang memiliki egois yang tinggi jadi bagaimana mereka mau akur?
Semenjak kepulangan Hendra dari tadi siang, pria itu sudah merasakan aura dingin di dalam rumah ini, yah seperti ada peran dingin. Memang benar adanya, bahwa pemilik rumah itu sedang peran dingin
Hendra menatap Maura yang dengan santainya duduk di sofa depan tv, sambil memakan cemilan dan sesekali wanita itu memindahkan canel tv jika dia sedang bosan dengan acara tv yang di tayangkan
"Kau sudah pulang?" Tanya meiza ramah
"Ah yah" Hendra menoleh ke arah meiza. Begitupun Maura menatap interaksi kedua orang itu
"Kau sudah makan?"
"Sudah. Kebetulan aku tadi makan siang dengan temanku dan yah, suami mu mana?" Pertanyaan Hendra mengubah mimik wajah meiza yang tadinya cerah seketika kini berubah menjadi murung. Hendra cukup peka akan keadaan
"Masih di kantor" jawab meiza cuek
Hendra hanya bisah mengangguk. Pria itu tau jika adik iparnya tengah ada masalah dengan suaminya itu, Hendra masih punya waktu beberapa hari disini dan masih punya waktu untuk menyingkirkan manusia tak berperasaan Yang sedang duduk di sofa Tampa rasah bersalah sedikit pun.
Meiza kembali ke kamarnya untuk bersiap siap hari ini wanita cantik itu akan bertemu dengan sahabat lamanya di salah satu cafe dekat dengan butiknya, sekaligus mengecek butik yang sudah hampir sebulan meiza tak berkunjung dan hanya memantau lewat Maya saja. Bukan masalah apa wanita itu tidak datang ke butiknya hanya saja ada rasa malas ke sana. Apalagi masalah yang menimpa rumah tangganya sekarang
Sesampainya di cafe meiza langsung duduk di depan Aruna. Belum beberapa bulan wanita cantik sudah balik ke Indonesia lagi dengan alasan bahwa suaminya harus mengurus beberapa hal untuk penetapan di sana nanti
"Kau kenapa za?" Tanya Aruna khawatir melihat keadaan sahabatnya
"Entahlah, rumah tanggaku sekarang sedang bermasalah"
"Apa maksud mu?" Sungguh Aruna tidak mengerti dengan jalan pikiran meiza
"Ada perempuan di bawah Edwan ke rumah katanya perempuan itu adalah sahabatnya, dan perempuan itu tidak memiliki siapa siapa lagi selain Edwan "
Aruna mengangguk mengerti" terus apa masalahnya dengan mu?"
"Wanita itu tidak hanya sekedar bersahabat bahkan wanita itu menyukai suamiku. Kejadian kemarin dia membuat drama sehingga aku jadi pelampiasan kemarahan Edwan" meiza menarik nafasnya lalu melanjutkan ceritanya" dan Yang paling membuat ku kessel adalah Edwan tidak meminta maaf malahan dia juga ikut mendiami ku"
Aruna mengerti permasalahan sekarang, " bicara lah dengan suamimu jangan egois. Kalau terus begini hubungan kalian tidak akan berbaikan dan peluang wanita itu mendapat kan edwan sangat banyak kau tidak maukan kalau suamimu jatuh ke tangan wanita itu"
Meiza mengempalkan tangannya dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana pun ia adalah istri sah Edwan dan dia berhak mendapatkan hati suaminya
"Hm za, buat lah Edwan jatuh cinta padamu dan singkirkan wanita itu di rumah kalian"
"Terimakasih atas saran mu run, dan aku harap kalian selalu berbahagia"
Aruna tersenyum mengangguk. Sebelum kembali ke luar negri lagi dan akan menetap selamnya di sana, hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama meiza. Kedua wanita itu sibuk dengan dunianya masing-masing sambil memakan pesanan mereka yang sudah datang sadari tadi
"Za bagaimana kalau kita belanja, menghabiskan waktu berdua sebelum besok lusa aku balik ke Amerika serikat"
Meiza mengangguk" eh btw dimana putra mu aku merindukannya?"
" Dia masih di sana. Bersama neneknya hanya aku dan suamiku yang Balik ke sini, aku hanya beberapa hari za tidak cukup seminggu"
"Ok Baik lah"
Kedua wanita itu meninggalkan cafe dan menuju lantai atas dimana pusat perbelanjaan. Mencari beberapa potongan pakaian dan juga mencari alat make up yang sudah habis. Dan meiza wanita itu memborong semua make up yang ingin di belinya sebab semenjak ia menikah ini pertama kalinya ke pusat perbelanjaan sebab ia sangat sibuk mengurus suami dan belajar menjadi istri yang baik
Hari ini meiza belanja dengan uangnya sendiri, dia tidak mau menggunakan uang yang di berikan Edwan karna Alasan ia masih marah dengan suami tampangnya itu.
Setelah puas berbelanja, akhirnya kedua wanita itu pulang ke rumah masing-masing. Dan meiza di sambut dengan wajah datar Edwan yang sekarang bersedekap dada di depan pintu
"Dari mana kamu?" Tanya Edwan dingin
Meiza meringis akan perkataan Edwan dan juga dirinya yang terlambat pulang, sungguh meiza lupa. Waktu sudah memasuki magrib itu sebabnya Edwan tampak marah
"Maaf" lirih meiza menunduk
Dari arah belakang Edwan terdapat seorang wanita yang tersenyum sinis menatap kedua insan itu. Meiza Melihat itu membuat ia mengempalkan tangannya. Dan memasuki rumah Tampa menatap Edwan sama sekali. Rencananya tadi ingin meminta maaf kepada suaminya ia urungkan. Kekesalannya bertambah melihat wanita itu, pasti suaminya berduaan dengan maura sebab meiza tak Melihat batang hidung Hendra sejak memasuki rumah itu
Edwan mengikuti meiza ke dalam kamar ia tau jika istrinya masih marah soal kesalah pahaman yang di buatnya
"Meiza aku minta maaf, Soal kemarin yang sudah membetakamu" Edwan menatap meiza Yang tengah duduk di pinggir kasur, pria itu duduk di samping istrinya
Meiza masih diam tak menanggapi ucapan Edwan. Sebenarnya ia juga ingin minta maaf tapi melihat Maura yang tersenyum meremehkan, membuat ia malas berbicara dengan Edwan saat ini.
"Meiza" meiza menepis tangan edwan yang memegang lengannya.
"Tapi dengan satu syarat" meiza menatap Edwan yang juga menatapnya
"Apa?"
"Aku mau kau menyuruh sahabat mu pergi dari rumah ini"
Edwan menatap meiza tak percaya" kenapa begitu?"
"Yah sudah kalau kau tidak mau" meiza ingin melangkah keluar tapi di cekal oleh edwan
"Bukan begitu hanya saja-"
"Dia seorang artis masa beli rumah saja dia tidak sanggup. Dia kemanakan semua uangnya?" Potong meiza cepat
Edwan menghembuskan nafas, dan mengingat ucapan Hendra tempo hari, jika Maura masih di rumah ini maka ia akan kehilangan meiza selamanya dan edwan tidak menginginkan hal itu. Meiza adalah istrinya, hidupnya dan masa depannya. Edwan sudah menaruh hati pada wanita yang keras kepala ini
"Ok baik lah, besok aku akan menyuruhnya pindah dari sini"
Betapa senangnya meiza saat edwan mengabulkan permintaannya itu" terimakasih" meiza memeluk Edwan dengan erat. Begitu pun pria itu membalas pelukan istrinya sambil mencium kepala meiza
"Wuduh gih sana kita sholat berjamaah"
Meiza mengangguk dan memasuki kamar mandi. Mandi dulu sebelum sholat dan melaksanakan sholat Magrib berjamaah.
🌾
Vivi arvina damayanti
28/03/2020
Soppeng, sul-sel
KAMU SEDANG MEMBACA
Forced to get married ( Sudah Terbit )
Romance#Makcymilliane the series 1 ( Sudah terbit di guepedia, tersedia di toko buku online atau langsung pesan di guepedia ) Meiza manuver hidupnya selalu dikelilingi dengan kebahagiaan dan kekayaan, tetapi itu dulu sebelum dirinya di jodohkan dengan soso...
