~Aku ingin menjadi bagian dari halamanmu, 'If it's love i will love you'~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.pagi telah datang, aku terbangun dari tidurku karena merasa punggung ku yang hampir remuk, akupun bergegas bangkit dan melihat seseorang yang ada dalam kamarku. jimin, ya dia masih tidur sekarang, sangat nyenyak hingga aku taga jika membangunkan nya, akupun langsung mandi dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, tentu saja untukku dan jimin.
aku membuat gomtang pagi ini, sup daging sapi yang kudengar dapat meredakan pusing karena alkohol. ya, aku membuatnya karena aku yakin jimin pasti mengeluh sakit kepala saat bangun nanti.
tepat sekali, saat sup yang kubuat sudah matang, jimin berteriak dari dalam kamarku
"y/n..... kau dimana?"
"bangunlah!! cuci mukamu dan segera makan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu" sahutku dari dapur
"ne chagiya!!"
"dasar gila" gumamku
jimin pun keluar dari kamar dengan bare facenya, rambut acak-acakan, di tambah dia yang sedang mengucek matanya, aku tak yakin umurnya sudah menginjak kepala 2, benar-benar menggemaskan
dia menyusulku ke dapur, semua makanan memang sudah siap, tinggal menuangkannya ke dalam mangkuk, tapi tiba-tiba sebuah tangan menyusuri pinggangku dari belakang, dengan dagu yang di letakkan di bahuku, siapa lagi kalau bukan jimin pelakunya.
"jim.." aku terkejut bukan main dengan perlakuan jimin saat ini, apa dia masih belum sadarkan diri?
"kau wangi" ucapnya sambil mengendus di ceruk leherku
aku pun menelan ludahku, saat kurasa hembusan nafasnya terkena leherku, entah apa yang ku rasakan, ini benar-benar geli tapi aku tak ingin menyudahi nya, mungkin aku sudah gila saat ini, hingga suara jimin menyadarkan pikiranku
"kau tidur dimana semalam?"
"di sofa"
"maaf membuat mu tidur di sofa semalam" ucapnya sambil mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangku
"tak apa, em.. jim, bisakah kau tunggu saja di meja makan?" pintaku, aku semakin tak nyaman dengan posisi yang seperti ini,
"kau takut?"
"ha? a-aniya"
"yasudah, biarkan aku seperti ini, kepalaku pusing"
"tap- awww" aku memekik saat tanganku tak sengaja terkena cipratan kuah sup yang aku tuang ke mangkuk
karena kaget mendengar ku memekik, jimin langsung melepaskan pelukannya dan meletakkan mangkuk yang ku pegang, merebut tanganku dan meniupnya
"apa panas?" tanyanya panik
aku pun mengangguk sebagai jawaban
"apa kau tak bisa lebih hati-hati?"
"mian"
"duduklah disana, biar aku yang membereskan ini"
"tak apa jim, aku masih bisa kok"
"duduk atau kucium?"
"ha?"
aku tak percaya dia mengancam ku seperti itu, sebenarnya agak lucu juga mendengar jimin mengatakan itu, tapi disisi lain aku juga takut mendengar ancamannya, jimin mungkin akan melakukannya jika aku tetap membantah, aku tak ingin first kiss ku di curi secepat ini dan di tempat yang tak romantis seperti sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Promise of Scenery✓
Fanfiction"maafkan aku selalu menyakitimu saat kau berada disekitar ku" -Tae . . . "maafkan aku sempat meninggalkan mu" -Jimin . . . "maafkan aku jika menaruh perasaan bodoh pada hatiku" -y/n