~Seandainya saja waktu itu, sedikit lagi, aku punya keberanian untuk menemuimu, mungkinkah semuanya akan berbeda sekarang?~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Aku mengetuk pintu yang sudah lama tak kulihat, sudah sangat lama sejak aku meninggalkan rumah ini, rumah yang tak banyak berubah jika kulihat, cat dan bentuk rumahnya masih sama persis seperti dulu, hanya saja sekarang sedikit ada taman bunga di depan rumahku.
ya rumahku, aku sampai di depan rumah kedua orang tua ku tepatnya, Indonesia. aku sampai di bandara pukul lima sore tadi, tapi karena bersamaan dengan bubarnya beberapa orang kantor akhirnya aku terjebak macet dan baru sampai pukul tujuh.
aku tak di jemput ataupun disambut, aku memang sengaja tak memberi kabar bahwa aku akan pulang hari ini. aku ingin memberi sebuah kejutan pada orang tua dan adikku.
tak lama setelah ku ketuk pintu, seorang perempuan yang lebih pendek dariku terlihat, ya dia adikku, Reina.
aku memanggilnya rei, adik perempuan yang imut sekaligus menyebalkan. sudah sangat lama aku tak melihat dan bertengkar dengannya. aku merindukan nya.
aku bahkan bisa tau bahwa adikku ini tak banyak berubah karena aku sempat mendengar dia membual kesal saat membuka pintu.
"cari siapa?" ucapnya cuek, dia bahkan tak melihat wajah ku dan masih fokus pada ponselnya
aku terkekeh melihat sifatnya, "apakah begini caramu menyambut kedatangan kakakmu?"
detik itu juga dia mendongak melihat kearahku, "kakak?" sahutnya setengah berteriak
dia langsung menghambur ke pelukanku, memelukku erat hingga lupa bahwa kami masih di depan pintu. dari caranya memeluk saja aku langsung tau bahwa dia sangat merindukan ku. ah manis sekali..
selang beberapa menit, ayah dan ibuku mencul dari belakang adiku, reaksi nya tak jauh berbeda seperti adikku, terkejut.
"kenapa tak memberi tahu kami jika kau akan pulang, ibu jadi merasa bersalah tak menyambut kedatangan mu" sahut ibuku sambil membawaku masuk ke rumah
"ah ibu.. aku tak perlu sambutan, melihat ibu saja aku sudah bahagia" jawabku
"setidaknya beri tahu ayah agar bisa menjemputmu dari bandara tadi" sahut ayahku yang tak mau kalah
"ayah.. tak perlu seperti itu, aku kan sudah sampai dirumah sekarang" ucapku sambil memeluk ayahku
"kakak.. apa kakak membawakan oleh-oleh untukku?"
"tentu saja, bagaimana bisa aku tak membawakan oleh-oleh untuk adik cerewet ku ini, bisa-bisa telingaku akan panas kalau mendengar mu merengek"
"kakak..." sahutnya sebal
"sudahlah, ayo kita makan, ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kita, kau pasti lapar kan? badanmu kurus sekali y/n, apa makanmu tak teratur?" potong ibuku
"ibu.. aku makan dengan baik disana, tak perlu mencemaskan ku"
kami melakukan makan malam setelah itu, melepas rindu sambil menceritakan berbagai hal, mulai dari hal yang menyenangkan maupun memalukan. makan malam yang cukup sempurna, walau tak semewah makan di restoran, tapi hal seperti ini yang sulit untuk di dapatkan.
"sayang, mandilah terlebih dahulu di kamar ibu, ibu akan membersihkan kamarmu setelah mencuci piring" ucap ibuku
"tak perlu ibu, aku akan tidur di kamar rei malam ini, biar besok aku saja yang membersihkan nya" jawabku sambil memeluk ibuku dari belakang yang sedang sibuk mencuci piring, aku rindu memeluk ibuku seperti ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Promise of Scenery✓
Fanfic"maafkan aku selalu menyakitimu saat kau berada disekitar ku" -Tae . . . "maafkan aku sempat meninggalkan mu" -Jimin . . . "maafkan aku jika menaruh perasaan bodoh pada hatiku" -y/n