~Wharever you are, i know you always stay~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Kami benar benar tak melakukan apapun di kamar, jimin hanya menarikku tidur di pelukannya sambil mendengarkan gombalannya.
"Kau sungguh akan pergi besok?" Cicitku pelan
Aku tak mendengar balasan dari mulut jimin tapi aku bisa merasakan dirinya mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba suasana hening setelah aku menanyakan itu, jimin tak lagi mengoceh dan hanya memainkan rambutku sambil sesekali menciumnya.
"Hei hei kau menangis?" Tanya jimin panik sambil mengecek raut wajahku, dia pasti merasakan dadanya yang tiba-tiba basah karena ulahku. Aku memang sedikit menangis, tapi entahlah suasananya begitu emosional sekarang.
"Kita akan bertemu lagi y/n, aku tak pergi untuk selamanya. Aku pasti akan menemuimu, jangan menangis eoh?" Ucap jimin sambil menghapus air mataku
"A-aku takut" sahutku
"Apa yang kau takutkan, hm?" Tanya jimin lembut
Aku diam, aku tak tau apa yang sedang kutakutkan, perasaanku begitu abu-abu. Aku sangat percaya dengan jimin tapi kenapa aku malah menjadi semakin takut dengan perasaanku.
Cup
jimin tiba-tiba menciumku, menarik tengkukku untuk memperdalam ciumannya, aku pun tak bisa menolak karna aku pasti akan merindukan bibir kenyal nya ini, ah sial..
Kami melakukannya cukup lama, entahlah mungkin itu seperti ciuman terakhir sebelum dia pergi besok.
"Kau percaya padaku bukan? Aku tak akan melakukan hal yang membuatmu kecewa"
Aku mengangguk, untuk kedua kalinya aku membangun dinding kepercayaan pada jimin. Tapi sepertinya jimin menemukan karaguan dalam anggukanku, dia selalu tau maksud dari setiap gerak gerikku.
"Baiklah, jika aku mengecewakan mu untuk kedua kalinya, kau boleh pergi dan aku tak akan muncul di kehidupanmu lagi, aku berjanji, kau bisa pegang janjiku"
"Aku tak mau kau berjanji seperti itu, aku hanya mau kau pegang kata-katamu untuk tidak membuatku kecewa" jawabku akhirnya
Malam itu kami tidur sambil berpelukan, jimin menyanyikan beberapa lagu sampai menungguku tertidur, aku tau ini terlalu berlebihan tapi aku ingin dia melakukannya untukku.
°°°
Keesokan harinya sinar matahari menerpa wajahku, kejadian semalam membuatku bangun terperanjat untuk mencari seseorang di sampingku,
"Jimin?" Ucapku sambil mencari keberadaannya
Dia benar-benar menuruti perkataanku, dia pergi tanpa membangunkan diriku, aku memang tak menangis tapi aku sedikit merasa kecewa karena meminta hal seperti itu. Setidaknya jika dia membangunkanku aku bisa melihat bare facenya, aku bisa melihat dia sarapan, dan bisa.., ah sudahlah, sudah terlanjur.
Aku menghela nafas kuat, aku tak boleh secengeng ini, lagipula aku yakin aku pasti bertemu lagi dengannya. Tak ada yang perlu kucemaskan. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke dapur, dan betapa terkejutnya jimin menyiapkan sarapan untukku sebelum dia pergi. Dia menyiapkan pancake kesukaan ku sambil meninggalkan note disana.
Note:
pergilah mandi dan jangan lupa sarapan, selalu kunci rumahmu jika kau sendirian dan jangan menangis saat mati lampu, itu tak akan membantu. Jangan tinggalkan ponselmu agar bisa menghubungiku saat mati lampu. Makan tepat waktu juga, aku tak mau mendengar kabar sakit darimu, kau mengerti? Dan jangan mengejekku bawel setelah membaca ini, walau aku jauh darimu tapi aku akan mengawasimu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Promise of Scenery✓
Fanfiction"maafkan aku selalu menyakitimu saat kau berada disekitar ku" -Tae . . . "maafkan aku sempat meninggalkan mu" -Jimin . . . "maafkan aku jika menaruh perasaan bodoh pada hatiku" -y/n