Chapter 11

190K 22K 5.4K
                                        

P E M B U K A A N

P E M B U K A A N

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pukul 01.15 dini hari Daniel masih terjaga. Cowok itu duduk di balkon sendirian. Menikmati terpaan angin malam yang diharapkan mampu memberikan ketenangan untuknya. Kalimat percakapan Damian dan Agatha terus mengiang-ngiang di kepala, menggerus habis ketenangannya. Di satu sisi, Daniel membenarkan usulan Damian. Bagaimana pun, mommy-nya butuh sandaran dan teman di hari tua nanti. Tapi di sisi lain, Daniel meragu. Tidak ada jaminan keadaan akan membaik jika Om Raka menikahi mommy-nya. Keraguannya lah yang memupuskan harapannya pada sosok Raka.

Mata Daniel bergerak pelan, mengamati balkon kamar Damian. Ia menemukan tanda-tanda Damian masih terjaga. Sepertinya inilah waktunya untuk berbicara. Daniel pun melangkah meninggalkan kamarnya menuju kamar Damian. Di depan kamar Damian yang sedikit terbuka, Daniel mengintip. Ia melihat Damian tengah sibuk dengan kanvasnya. Kebiasaan Damian memang tidak berubah.

"Masuk," ujar Damian yang menyadari keberadaan Daniel. Palet dan kuas yang ada di tangannya diletakkan di meja.
Cowok itu berdiri, menatap lurus ke arah kanvasnya dengan tangan terlipat saat merasakan derap langkah Daniel semakin mendekat.
"Dilanjut aja dulu, gue tunggu sampe selesai," ujar Daniel setelah melihat lukisan Damian yang belum terselesaikan.

"Penginnya. Tapi sampai detik ini gue belum mampu menyelesaikan lukisan itu."

"Kenapa?"

Damian menunjuk sudut kiri bawah kanvasnya. Di sana tertulis enam digit angka. Hanya butuh waktu satu detik untuk Daniel menyadari jika itu adalah rangkaian angka yang menunjukkan kapan lukisan itu mulai digarap.

"Kalau gue tahu daddy bakal pergi secepat ini, malam itu juga gue bakal selesaikan lukisan ini. Daddy pernah bilang, pengin dibuatin lukisan berdua sama gue ... buat dipajang di kantor," tutur Damian dengan senyum getir menatap lukisan setengah jadi yang ada di hadapannya.

Daniel mendekat. Cowok itu berdiri di samping Damian, satu tangannya merangkul pundak kakaknya dari belakang.
"Gue rasa kita perlu ngobrol. Kapan lo ada waktu?"

"Ngomong apa? Gue nggak suka basa-basi."

Daniel melangkah mendekati jendela. Jendela yang sudah ditutupkembali dibuka olehnya dan ia duduk di bingkai jendela menatap ke arah luar. Selang beberapa detik, Damian mengikuti.

Keduanya duduk bersisian. Tetap terdiam selama beberapa menit. Daniel sibuk merangkai kata agar kalimatnya tidak menyinggung saudaranya sedikitpun karena ia tahu persis bagaimana karakter Damian. Sementara Damian tetap tenang menunggu kalimat dari Daniel. Ia cukup sadar diri tidak bisa memulai apapun. Ia tidak pandai bermain kata, lebih memilih langsung melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa berunding dengan siapapun.

"Ada banyak banget hal yang perlu kita obrolin. Tapi untuk saat ini gue cuma pengin ngobrol beberapa hal aja. Dimulai dari kita."

"Lo mau nyoba ngehasut gue supaya kuliah di Indonesia?"

Tears In HeavenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang