Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Asing. Kata itulah yang mendeskripsikan tempat Angel berpijak saat ini. Hamparan padang rumput yang cukup luas diselimuti kesunyian. Kaki kecilnya melangkah penuh ragu, membawa tubuh kecilnya masuk lebih jauh. Pelukannya di celengan ayam yang ia bawa semakin erat.
Angel terus melangkah hingga menemukan bangku taman yang dilapisi cat warna putih. Sontak langkah kaki kecilnya terhenti. Bukan karena bangku itu, melainkan karena siapa yang duduk di sana. Pria yang duduk membelakanginya, mengenakan pakaian serba putih itu sangat mudah dikenali oleh Angel. Angel yakin siapa pria itu. Keyakinannya lah yang membuatnya berani memanggil pria itu.
"Papaa!" Bibirnya mengusung senyum lebar tatkala pria berpakaian serba putih itu menoleh ke arahnya sembari mengusung senyum tipis. Benar. Ia tidak salah memanggil dan mengenali. Pria itu adalah Juan Manuel Regata—papanya yang selama ini ia rindukan.
Angel pun berlari sekencang mungkin untuk memangkas jarak. Ia ingin segera memeluk Juan, mengobati rindu-rindu yang teramat menyesakan dada selama ini.
"Kangeeen," rengek Angel begitu manja seperti biasa saat sepasang tangan Juan terulur untuk meraih tubuh mungilnya. Angel memeluk erat tubuh Juan saat ia sudah di dalam gendongan pria itu. Air matanya keluar tanpa mampu ia bendung. Ini air mata bahagia. Ketakutannya menguap. Juan papanya ada di sini bersamanya. Itu artinya ia tidak akan merasakan rindu tanpa pertemuan lagi. Ia juga tidak perlu takut, ada papa Juan yang selalu setia di sisinya.
Angel tersenyum lebar saat satu telapak tangan Juan menyentuh pipinya begitu lembut dan sarat akan kasih sayang. Anak itu begitu menantikan ungkapan jika Juan merasakan kerinduan, seperti yang ia rasakan.
"Hari ini Angel seneng banget. Angel kira Angel kehilangan papa ... ternyata kehilangan papa cuma mimpi buruk. Buktinya sekarang papa ada di sini sekarang, gendong Angel."
Kedua sudut bibir Juan sedikit terangkat hingga senyum tipis terbit di bibirnya. Senyum yang sangat Angel rindukan. Akhirnya ... ia bisa menikmati senyum itu kembali.
"Pa, pulang yuk! Angel mau nunjukin sesuatu ke papa. Papa pasti seneng liatnya. Kudanil sama Kak Mian udah nggak pernah berantem lagi. Kak Mian sayang Angel, sayang Kudanil juga. Terus Angel udah bisa naik sepeda. Diajarin sama Kak Rizal. Emm ...."
Angel mencoba mengingat sesuatu untuk ia ceritakan pada papanya. Tak ada satu pun kegiatan yang luput dari cerita Angel. Semuanya Angel ceritakan dengan semangat. Respons Juan masih minim. Hanya senyuman dan sesekali kecupan di pipi.
"Besok Angel ke sekolahnya diantar papa, ya! Nanti papa omelin Aksa anak setan biar kapok dan nggak gangguin Angel lagi. Angel juga mau ngasih tahu ke temen-temen kalau papanya Angel sudah pulang. Yeaay!" seru Angel riang. Sepertinya hari esok adalah hari yang menyenangkan jika dilihat dari kegiatan yang sudah ia rancang.