Cardiff, Musim Dingin 2015
Elizabeth Hive memasukkan beberapa keripik kentang yang dipesannya ke dalam mulut lalu mengunyahnya perlahan. Tangan kanannya sibuk menekan tombol panah ke atas dan ke bawah sambil membaca beberapa baris artikel yang baru diterimanya pagi tadi. Gerak tangannya berhenti ketika ia melihat nama seseorang yang tidak asing baginya. Lebih tepatnya, seseorang yang sedang ditunggunya.
"Maafkan aku, Lizzie," kata Adrea sambil membuka lilitan syal yang melingkar di lehernya. "Quil Hive bisa sangat menyebalkan hanya karena warna biru."
Elizabeth Hive menutup sedikit layar pipih di hadapannya agar bisa melihat wajah gadis di hadapannya itu. "Warna biru?"
"Em-hm, warna biru," jawab Adrea setengah mendesah. "Dia meminta agar aku memakai warna biru sebagai warna latar untuk artikel yang akan diserahkan kepada bagian publikasi besok."
"Oh, okay." Elizabeth Hive menyipitkan matanya sedikit. "Lalu masalahnya apa?
"Sepupumu itu bilang kalau warna biru yang kupakai sebagai latar adalah biru langit, sementara yang dia mau adalah warna biru laut." Adrea menghela napasnya. "Jangan tanya apakah aku berdebat dengannya atau tidak, karena kau tahu apa jawabannya."
Elizabeth Hive tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Adrea Aide. "Percayalah, hanya dia satu-satunya Hive di pohon keluargaku yang memiliki, ya kita sebut saja kelebihan, seperti itu."
"Tell me about that," kata Adrea malas. Diambilnya keripik kentang di hadapannya sambil menghela napas pelan. "Omong-omong, kau sedang melihat apa tadi?"
Senyum Elizabeth Hive melebar. Gadis berambut pirang itu langsung membuka lagi layar laptopnya dan memutarnya ke arah Adrea.
"Sagittarius Break Up 101." Elizabeth membaca judul artikel astrologi pada layar pipih di hadapannya. Jarinya menunjuk-nunjuk nama penulis yang berada tepat di bawah judul artikel tersebut. "Oleh Adrea Aide."
"Oh, Tuhan," kata Adrea sambil membaca artikel tentang bagaimana orang-orang yang memiliki zodiak Sagittarius melepaskan diri dari masa-masa patah hati yang ditulisnya. "Tidak kusangka Mrs. Wanda benar-benar memasukkan artikel ini."
"Why?" Elizabeth Hive menaikkan kedua alisnya bingung. Gadis itu menyondongkan badannya sedikit ke depan. "Kurasa artikel ini ditulis dengan baik dan isinya juga menarik."
"I beg your pardon, Ms. Hive?" tanya Adrea Aide sambil menaikkan kedua alisnya. "You're being sarcastic, aren't you?"
"Tentu saja tidak, Ms. Aide. Saran-saran yang kau tuliskan di arikel ini sangat membantu, kau tahu?" balas Elizabeth Hive dengan nada yang meyakinkan. "Kau tidak berencana membuka biro jodoh atau sejenisnya? Kurasa kau memiliki bakat dalam hal itu."
"Oh, ayolah, Lizzie. Kau pikir aku punya waktu untuk duduk dan mendengarkan masalah percintaan orang-orang di salah satu negara bagian Inggris Raya ini?" Adrea menghela napasnya setengah hati. "Dan mau ku kemanakan pekerjaanku di The Haily's? Aku editor kesayangan sepupumu itu, kau tahu?"
"You've got a point there," kata Elizabeth Hive sambil mengangguk pelan. Matanya melirik ke arah ponsel di sebelah laptop miliknya lalu tersenyum ke arah gadis di hadapannya. "Aku tahu! Bagaimana kalau kau membuat milis atau halaman web atau ... ah, aplikasi! Benar, aplikasi!"
"Aplikasi? Maksudmu aplikasi untuk menjawab masalah percintaan orang-orang tadi?" tanya Adrea tidak percaya. Sesaat kemudian gadis itu tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masih terlalu cepat, Lizzie. Dunia ini belum mampu menciptakan teknologi seperti itu. Setidaknya tidak untuk dua puluh tahun ke depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Midnight Sun
RomanceMatanya menatap gadis itu dalam-dalam. "Bisakah aku memberikan sedikit saja kebahagiaan bagi orang lain?" Bisu. Tidak ada balasan. Tersenyum, dia mengecup kening gadis itu dan mendekapnya erat-erat. "Pergilah. Aku tidak akan pernah mencarimu lagi, A...
