Cardiff, Musim Dingin 2015
Rahang Adrea bergetar. Air matanya yang sempat berhenti kini kembali terjun bebas. Dikepalkannya tangan kuat-kuat, sampai kuku-kukunya menusuk telapak. Sakit. Tapi entah mengapa, ia tidak merasakan apa pun dari tangannya. Seperti mati rasa. Atau mungkin karena rasa sakit yang dirasakannya saat ini jauh lebih menyakitkan.
"Aku tahu semuanya di hari kau dan Tyra datang ke Swansea untuk menemui Levant. Saat kalian sudah naik ke kereta dan kembali ke Cardiff, dia menceritakan semuanya padaku. Tentang apa yang sebenarnya menyebabkan ibunya tidak pernah meninggalkan rumah sakit selama bertahun-tahun. Tentang apa yang menyebabkan kau kehilangan ibumu. Dan dia berkata bahwa alasan semua hal buruk itu terjadi di hidup orang-orang yang dicintainya tidak lain adalah karena dirinya sendiri."
"Maafkan aku, Rea. Seandainya aku memberitahumu tentang semua ini lebih cepat. Seandainya aku tidak berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Aku tahu aku tidak punya hak untuk menceritakan tentang semua ini padamu tanpa seizinnya, tapi kurasa kau berhak tahu. Kau berhak tahu kenyataan bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, dia, Levant Stone ...," Elio Turner menundukkan kepalanya sedikit, mencoba menyamakan tinggi pandangannya dengan Adrea lalu berkata, "mencintaimu. Benar-benar mencintaimu."
Seluruh tenaga yang tersisia di tubuh Adrea Aide seakan habis terkuras tidak bersisa. Lutut gadis itu menyerah, tidak dapat menahan tubuhnya sendiri. Kalau saja gerak Elio Turner terlambat sedikit, mungkin gadis itu sekarang sudah tergeletak di lantai.
"A-apa yang harus ku lakukan?" Adrea terisak. Perih. Seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah siap-siap untuk menyayat-nyayat hatinya sendiri. "Apa ...yang harus ... ku lakukan ... Elio?"
Elio menangkup wajah Adrea lalu mengangkatnya sedikit ke atas. Dipandanginya tiap senti wajah gadis itu. Diusapnya sisa air mata yang masih tertinggal di ujung mata lalu mengusap puncak kepala gadis itu lembut.
"Hidup."
---
Adrea tidak sengaja menjatuhkan gelas kaca yang tadinya akan ia gunakan untuk membuat segelas cokelat panas ke lantai. Diambilnya pengki dan mulai memindahkan satu per satu pecahan gelas tersebut ke dalam pengki. Tak sengaja ia menyentuh bagian pecahan kaca yang runcing sehingga membuat jarinya terluka dan berdarah. Perlahan ia bangkit berdiri lalu berjalan ke tempat cuci piring. Ia memutar keran ke kanan dan membiarkan jarinya yang terluka dialiri air yang mengalir. Terus begitu sampai terdengar suara ayahnya yang baru saja kembali ke rumah.
"Adrea, are you okay?"
Adrea membalikkan tubuhnya lalu tersenyum saat mendapati ayahnya sudah pulang. "Oh, aku tidak sadar kau ada di sana, Pa. Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Aku bertanya apakah Alan sudah pulang, tapi tidak perlu lagi karena aku sudah melihat sepatunya di sana," kata Andrew Aide sambil memandangi Adrea dengan tatapan khawatir. "Are you really okay, dear? Is there something wrong?"
Adrea mengerutkan dahinya sedikit lalu mengalihkan parhatiannya ke ujung jarinya yang sudah mulai terasa dingin.
"Ah, ini. Hanya tergores sedikit," jawab Adrea sambil memutar keran air ke arah berlawanan. Goresan tipis berwarna merah yang sedikit pucat masih terlihat di jari yang kini sudah tidak mengeluarkan darah itu. Disentuhnya goresan tersebut dengan jari yang satunya. "It's not even hurt, Pa. I'm good."
Andrew berjalan memasuki dapur. Ia mengambil obat merah dan plester luka dari kabinet yang menggantung di sebelah lemari pendingin.
"Oh, dear," kata Andrew lembut. Ia menarik jari Adrea yang terluka lalu mulai mengolesinya dengan obat merah. "Tidak selamanya rasa sakit yang kau rasakan itu berasal dari bagian tubuhmu yang terluka, kau tahu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Midnight Sun
RomanceMatanya menatap gadis itu dalam-dalam. "Bisakah aku memberikan sedikit saja kebahagiaan bagi orang lain?" Bisu. Tidak ada balasan. Tersenyum, dia mengecup kening gadis itu dan mendekapnya erat-erat. "Pergilah. Aku tidak akan pernah mencarimu lagi, A...
