Cloud 31 - One Fine Day

99 13 0
                                        

London, Musim Gugur 2019

Seikat mawar putih menempel di tiap-tiap ujung sandaran kursi jemaat yang berada di sebelah kanan dan kiri aisle. Lampu-lampu bernuansa warm white yang menerangi seluruh ruangan gereja yang memiliki kubah besar berhiaskan ukitan dan lukisan dengan warna krim dan cokelat muda yang mendominasi semakin menambah kemegahan yang dimiliki Katedral St. Luke. Gereja yang sudah berdiri sejak abad ke-19 itu kini dipenuhi oleh para undangan dari berbagai kalangan yang hadir untuk menyaksikan salah satu peristiwa penting di mana dua jiwa akan mengikat janji di hadapan pencipta-Nya.

Seluruh jemaat serentak bangkit berdiri ketika sang pengantin wanita dipersilakan untuk memasuki ruangan.

Semua mata tertuju pada gadis yang kini tengah berjalan di aslie bersama ayahnya dengan diiringi alunan piano Bridal Chorus milik Richard Wagner sementara di depan altar sang pengantin pria tengah berdiri menunggu sambil mencoba tetap tersenyum, menyembunyikan rasa gugup bercampur bahagia.

Begitu sampai di depan altar, ayah sang pengantin menyerahkan tangan anak perempuannya kepada sang pengantin pria. Keduanya kini memutar tubuhnya ke depan bersama-sama, menghadap ke altar untuk memanjatkan doa lalu kini saling berhadapan untuk mengucapkan janji setia sebelum menerima berkat.

"Do you take this woman as your lawful wife, to have and to hold, for better and for worse, in sickness and in health, to love and cherish one another, from this day until your last day?"

Sang pengantin pria menatap gadis di hadapannya. Tidak ada sedikitpun keraguan di matanya.

"Yes, I do."

---

"Congratulations, mate!" Levant Stone memeluk Elio Turner erat. "Tak pernah terlintas di pikiranku akan melihatmu mengucapkan janji di depan altar seperti tadi."

Elio Turner tertawa. "Beat me. I can't even control my facial expressions, you know," katanya sambil melepaskan pelukan sahabatnya itu. Ia mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri tepat di sebelah Levant Stone sambil tersenyum lalu memeluk gadis itu erat.

"Aku pasti sangat berarti bagimu, jika bisa membuatmu menangis seperti ini." Elio Turner menepuk-nepuk punggung Adrea Aide lembut.

"Oh, shut up, Turner," balas Adrea sambil melepaskan pelukan laki-laki itu. Ia mengusap matanya beberapa kali.

Elio Turner menatap dua orang di hadapannya itu bergantian. Ia menghela napasnya lalu tersenyum. "Jadi, bagaimana?"

Adrea memiringkan kepalanya sedikit, memandangi Levant Stone yang sedang menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Mengingatkan gadis itu pada kejadian beberapa hari lalu, saat Levant Stone mengucapkan selamat atas pernikahanmu pada dirinya. Butuh beberapa detik bagi gadis itu sebelum sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Kudengar kau bahkan mengucapkan selamat berbulan madu, huh?" tanya Elio lagi.

"Screw you, Turner," jawab Levant Stone dengan nada kesal. "Siapa pun akan mengira jika ada seorang pria dan wanita yang sedang memilih cincin di toko perhiasan seperti itu pasti membelinya untuk pernikahan mereka. Bagaimana aku bisa tahu kalau Adrea sedang menemanimu memilih cincin baru karena cincin yang kau gunakan untuk melamar pengantinmu itu tidak sengaja kau hilangkan?"

"Apa lagi perkataanmu saat menyuruhku untuk mengejar Adrea ke stasiun," lanjut Levant Stone. Ia masih ingat saat Elio Turner berkata seolah-olah Adrea akan pergi dengannya dan entah kapan akan kembali. Ia sempat mengira ada yang salah pada telinganya saat mendengar dari Adrea bahwa alasan sebenarnya gadis itu ke stasiun adalah untuk membantu membawakan barang-barang paman dan bibinya yang akan mengunjungi keluarga mereka di Cardiff."

Elio melirik ke samping, melihat Tyra dan pengantinnya yang saat ini sedang berjalan ke arah mereka.

"Jadi, katakan padaku. Bagaimana selanjutnya."

---

Langit London sore itu sudah mulai berganti warna menjadi biru keabu-abuan. Gerak angina dan kehendak cuaca memang sedikit sulit untuk ditebak di pertengahan musim gugur seperti sekarang ini. Padahal, tadi siang matahari masih memamerkan sinar teriknya. Namun, sekarang ia malah bersembunyi di balik gulungan awan yang menyerupai gulali.

Adrea merapatkan kedua tangannya ke depan wajah, mencoba menghangatkan telapak tangannya sambil menghela napasnya beberapa kali.

"Tidak perlu seperti itu jika kau ingin aku menggenggam tanganku. Aku akan melakukannya dengan senang hati, kau tahu." Levant Stone menarik salah satu tangan Adrea Aide lembut lalu menggenggamnya erat. "Dasar wanita dan segala kode rahasianya."

Adrea memicingkan matanya sedikit, memandangi laki-laki di sampingnya itu dengan tatapan curiga.

"Kau sudah terlihat berbeda sekarang. Terakhir kali kuingat, kau adalah laki-laki dengan gaya romantisme abad pertengahan," kata Adrea penuh selidik. "Katakan padaku, sudah berapa banyak gadis di luar sana yang kau beginikan tangannya saat kedinginan?"

Levant Stone mengayunkan tangannya yang menggenggam tangan Adrea sambil tertawa. "Entahlah. Tapi kurasa, tidak sebanyak yang kau pikirkan."

Adrea langsung menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu dengan tidak sebanyak yang ku pikirkan?" desis gadis itu sambil memicingkan matanya. "Ku harap kau punya alasan yang bagus untuk yang satu ini."

"Maksudku, aku kan bukan laki-laki seperti Elio yang kemana pun dia pergi, setidaknya ada dua atau tiga gadis yang akan mendatanginya untuk sekadar mengajaknya berkenalan," jelas Levant Stone, mencoba membela dirinya. "Lagi pula, kau sendiri yang berkata kalau aku adalah laki-laki dengan gaya romantisme abad pertengahan. Dengan wajah seperti ini dan label abad pertengahan yang menempel di kepalaku, kurasa tidak banyak gadis yang akan tertarik padaku, bukan?"

Adrea mengerutkan dahinya tidak setuju. "Apa yang salah dengan gaya romantisme abad pertengahan? Lagi pula, dari segi penampilan, menurutku kau tidak terlalu jauh dari Elio Turner. Kau pikir, apa yang pertama kali membuatku tertarik padamu? Tentu saja wajahmu yang ...," Adrea menggigit bibir bagian bawahnya sambil meringis, menyesali apa yang baru saja diperbuatnya lalu berkata, "lupakan."

Levant Stone berhenti berjalan lalu menarik Adrea ke arahnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat gadis yang sedang berusaha menyembunyikan wajahnya itu. "Kupikir kau tertarik padaku karena aku tahu arti namamu. Bodohnya aku percaya pad aalasan senaif itu," dengus laki-laki itu dengan nada yang sedikit dilemas-lemaskan.

Adrea menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Namun, sesaat kemudian, ia teringat tentang sesuatu yang lebih penting.

"Tunggu. Bukankah awalnya kita sedang membahas tentang sudah berapa gadis yang kau perlakukan seperti ini?" sela Adrea tidak terima sambil menangkat tangannya yang masih digenggam oleh Levant Stone itu ke atas. "Kalau kau kira kau bisa ̶ "

Rintik hujan mulai turun dari langit dan membasahi salah satu sisi Kota London tempat mereka berada saat ini. Mereka menepi ke salah depan toko buku yang ada di jalan itu.

"Anggap kali ini kau diselamatkan oleh hujan, Stone. Tapi tidak lain kali."

Senyum Levant Stone mulai terlihat di ujung bibirnya. Ia menatap gadis yang sedang mengusap-usap rambutnya itu tanpa suara. Betapa ia menikmati waktu yang dihabiskannya satu menit lebih lama bersama gadis itu. Mencoba mengembalikan waktu yang sempat ia hilangkan dulu.

Matanya beralih ke depan, memperhatikan jejak kami yang kini sudah hilang disapu hujan. Ia mengangkat kepalanya lalu menjulurkan tangannya ke depan, berusaha menangkap titik-titik air yang jatuh dari lagit sore itu.

"Sepertinya belum ada tanda-tanda akan segera reda," kata Adrea tiba-tiba, memecah lamunan laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu. Ia menatap Levant Stone lekat-lekat. "Di depan sana ada toko roti yang sering kudatangi. Tehnya cukup enak, tidak kalah dengan buatan Mrs. Potts dulu. Kau mau?"

Sedetik kemudian, ide gila yang sama muncul di benak mereka berdua.

---

Hai! Kalian sudah sampai di bagian akhir chapterini. Jika chapter ini cukup menyenangkan untuk kalian, jangan lupa tekan tombolbintang di bawah ya. Terima kasih sudah membaca & semoga tetap membaca MidnightSun, cheers!

Midnight SunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang