#1 Nanda

374 37 2
                                        

Lima Bulan Lalu

Nada yang sedang asik berberes kamar Nanda tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Ia tertarik dengan sebuah amplop coklat dalam tumpukan kertas di laci meja belajar Nanda. Ia menarik amplop seukuran F4 tersebut lalu duduk dikursi. Nada bingung saat mendapati stempel sebuah rumah sakit pada bagian luar amplop tersebut. Masih di tengah kebingungannya, Nada langsung membuka amplop itu dan menarik keluar semua kertas-kertas di dalamnya.

Ia membaca halaman pertama yang berisikan data pribadi Nanda. Kemudian ia segera membaca halaman selanjutnya yang berisikan angka-angka yang tidak Nada mengerti. Nada membaca cepat semua halaman-halaman tersebut lalu terdiam saat membuka lembaran terakhir. Memang dari banyaknya halaman yang berisikan keterangan-keterangan medis Nada tidak memahaminya, tapi satu kalimat di halaman terakhir membuat Nada tertegun.

Diagnosa : Leukimia Stadium III / Kanker Darah


Nada dengan cepat membaca halaman pertama kembali untuk memastikan apa benar data orang tersebut adalah data Nanda. Nada berulang kali membaca halaman pertama dan terakhir. Hingga beberapa menit kemudian Nada langsung berlari keluar rumah dan menyetop taksi yang lewat dengan tangan kanannya masih memegang amplop tadi.

"Pak rumah sakit Medika"
"Iya neng"

Selama perjalanan Nada hanya berdoa dalam hatinya bahwa apa yang ia baca tadi salah, bahwa ada orang lain yang kebetulan namanya sama dengan Nanda, bahwa Nanda salah mengambil amplop dan segala kemungkinan lain yang membantunya menguatkan diri jika memang semua yang berada dalam amplop itu benar. Sesampainya di RS, Nada berlari menuju resepsionis.

"Mbak, pasien atas nama Nanda Alodia Hermawan ada diruang mana?" tanya Nada panik.
"Sebentar ya mbak," ucap suster sambil mencari nama pasien yang Nada tanyakan.

Di dalam hatinya, Nada masih terus berdoa bahwa tidak ada nama Nanda dalam daftar pasien RS ini. Tidak sampai 30 detik suster tadi telah menemukan kamar Nanda.

"Pasiennya ada di kamar 234 mbak"
"Makasih ya mbak"

Nada setengah berlari mencari kamar tersebut dengan masih tetap berdoa kalau itu adalah orang yang kebetulan namanya sama dengan Nanda.

Saat tiba di depan kamar 234, dengan gugup Nada membuka pintu kamar tersebut. Namun, yang didapati Nada hanyalah kamar kosong yang sedikit berantakan dengan selimut tidak terlipat di atas kasur. Nada keluar dari kamar tersebut dan bertanya kepada salah satu suster yang kebetulan lewat.

"Permisi sus, pasien di kamar ini kemana ya?"
"Oh mas Nanda ya mbak, ada di taman belakang tadi saya yang anter"
"Tamannya dimana sus?"
"Mbak lurus aja terus nanti belok kanan"
"Oke makasih sus"

Kali ini Nada tidak berlari atau bahkan setengah berlari untuk mencari Nanda. Ia hanya berjalan perlahan sambil berusaha menahan tangisnya. Ia melihat sekeliling dan menemukan Nanda di salah satu kursi taman. Nada berjalan mendekati Nanda. Tak lama Nanda berdiri kemudian berbalik dan kaget melihat Nada, namun beberapa detik kemudian berhasil menguasai dirinya dengan tersenyum.

"Dek," sapa Nanda sambil memaksakan senyumnya.

Nada hanya diam melihat Nanda. Selama beberapa saat Nada hanya menatap Nanda dengan tangis yang masih berusaha ia tahan, begitupula Nanda. Ingin rasanya Nanda memeluk adik satu-satunya itu. Ia tahu cepat atau lambat adiknya akan mengetahui bahwa ia sakit dan tak berapa lama lagi akan pergi meninggalkannya.

"You promised me," Nada akhirnya bersuara.

Nada langsung berbalik meninggalkan Nanda dengan tangis dan amplop yang ia pegang pun terjatuh. Nada berlari keluar dari RS lalu menyetop taksi dan pergi ke "Tempat Rahasia", begitu Nada menyebutnya.

Tempat itu adalah sebuah bukit luas yang ditumbuhi banyak pepohonan dimana di salah satu pohon terdapat rumah pohon yang Sam, salah satu sahabatnya dan ayahnya buat untuk mereka. Dulu saat masih kecil Nada dan Sam sering pergi kesana. Tetapi sekarang Nada hanya kesana jika ia sedang sedih seperti saat ini. Di dalam taksi Nada masih menangis sambil mengingat janji Nanda saat Nandi meninggal.

"Dek, mas janji gaakan ninggalin kamu sendirian but you have to promise me that you'll never cry, okay?" tanya mas Nanda sambil melepaskan pelukannya dari Nada dan mengusap air mata adiknya.

Hari itu adalah hari pemakaman Nandi, kakak sulung Nanda dan Nandi. Nandi meninggal dalam kecelakaan bersama Nada tetapi Nada selamat dan itu membuat Nada menyalahkan dirinya atas kepergian Nandi.

"Dek," panggil Nanda lagi.
Nada hanya menangis dan Nanda kembali memeluknya.

Lima belas menit kemudian taksi yang di tumpanginya sampai di "Tempat Rahasia". Nada membayar taksi tersebut lalu turun dan naik ke rumah pohonnya. Tangis Nada makin hebat setelah ia mengingat kejadian 2 tahun lalu. Kejadian yang membuatnya harus kehilangan Nandi. Ia menangis hampir setengah jam kemudian ia menghapus air matanya dan turun dari rumah pohon lalu duduk di kursi kayu yang menghadap ke danau buatan.

Tatapannya sendu, padahal di hadapannya ada semburat jingga indah menghiasi langit pertanda siang akan berganti menjadi malam hingga sang surya benar-benar tenggelam pun, Nada masih duduk disana tanpa melakukan apa-apa.

SHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang